GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 69


__ADS_3

Siang ini Chaby dan Sharon berbelanja barang-barang lain untuk keperluan bayinya. Decklan sedang kerja, tante Lily sedang jemput Arion, Pika juga tidak ada waktu menemaninya di rumah, akhirnya Chaby menyuruh Decklan mengantarnya ke rumahnya kak Sharon. Apalagi kak Sharon dulu adalah orang yang mendampingi Chaby waktu gadis itu melahirkan, jadi sudah punya banyak pengalaman akan hal-hal yang kayak gitu.


Sebenarnya Sharon sempat menolak permintaan Chaby, apalagi usia kehamilan Chaby sudah sembilan bulan, sudah memasuki detik-detik di mana dirinya akan melahirkan. Sharon membujuk Chaby biar dia saja yang belanja dan Chaby tinggal di rumahnya ditemani Tuty salah satu perempuan yang bekerja di toko bunga miliknya. Tapi Chaby bilang dia ingin ikut juga, karena dirinya merasa terlalu bosan di rumah terus.


Apalagi waktu di rumah beberapa bulan ini, kak Decklan dan semua keluarganya tidak pernah mengijinkan dirinya melakukan sesuatu yang berat-berat. Berjalan jauh saja dia tidak diperbolehkan. Jadi, karena hari ini dia punya waktu dan bebas dari seluruh keluarganya, Chaby menggunakan kesempatannya sebaik mungkin. Toko yang akan mereka kunjungi pun hanya terletak didepan toko bunga milik Sharon. Mereka hanya ke sana dengan menyeberangi jalan jadi tidak apa-apa menurut Chaby.


Mereka masuk ke toko mainan anak tersebut. Chaby berjalan perlahan dengan sebelah tangan memegangi perutnya yang buncit itu. Matanya mengitari seluruh toko yang terdapat banyak sekali mainan anak itu. Ia sangat senang bahkan ingin mengambil apa saja yang ada di sana, yang tertangkap oleh matanya.


Sharon sendiri lebih fokus memperhatikan Chaby daripada mainan tersebut. Ia takut kalau nanti terjadi sesuatu pada gadis itu. Selain takut terjadi apa-apa pada Chaby, Sharon juga tidak mau berurusan dengan suami gadis itu bahkan Danzel. Danzel mungkin akan mengomelinya habis-habisan kalau sampai tahu dia menuruti keinginan Chaby.


Saat lagi senang-senangnya melihat mainan-mainan anak tersebut, Chaby terdiam sebentar. Rasa nyeri merayapi punggungnya, membuatnya meringis. Sharon yang melihat perubahan mendekati Chaby dengan cemas,


"Kenapa Chaby?"


Chaby menatap ke bawah, air bening itu mengalir turun dari pahanya, turun ke kakinya dan beberapa jatuh ke lantai, dia tahu apa yang terjadi.


"Kak Sharon... air ketubanku... pecah... aku akan segera melahirkan..."


Sharon terbelalak dan menjadi gugup seketika. Ia langsung menelpon taksi untuk segera membawa gadis itu ke rumah sakit. Selesai memanggil taksi ia menelpon Decklan tapi pria itu tidak mengangkatnya juga. Sharon memutuskan menelpon Danzel..

__ADS_1


                                   ***


Di rumah sakit, Decklan menyelesaikan rapat dan melangkah menuju ruangan Andra, tetapi ruangan itu kosong. Dia mengerutkan keningnya. Dimana pria itu ? Decklan harus segera pulang dan menjaga Chaby. Dia tahu Chaby sedang ditemani oleh Sharon, tapi tetap saja dia merasa tidak tenang. Dia ingin dia sendiri yang menemani dan menjaga istrinya di detik-detik gadis itu yang tidak lama lagi akan melahirkan. Jadi dia harus bertemu dengan Andra dan meminta pria itu untuk bertamggung jawab sementara atas pekerjaannya.


Karena Andra tidak ada, Decklan melangkah kembali ke ruangannya. Membereskan barang-barang yang akan dia bawa pulang. Dia akan pulang saja dan menelpon Andra terkait pekerjaan yang ingin dia tugaskan pada pria itu.


Decklan tidak pulang ke rumahnya. Dia pergi ke rumah Sharon karena Chaby memang ada di sana. Namun, ia tidak mendapati keberadaan istrinya dan Sharon. Mendadak perasaannya menjadi cemas. Ia berjalan kedepan samping rumah Sharon, ke toko bunga milik gadis itu. Sayangnya istrinya dan Sharon juga tidak ada di situ. Decklan pun memutuskan bertanya pada salah satu pekerja di situ. Perempuan itu menunjuk ke sebuah toko sedang diseberang jalan itu dan bilang Sharon dan Chaby tadi masuk ke toko itu. Tanpa berpikir lagi Decklan langsung berlari ke sana.


Langkahnya terhenti ketika melihat dua sosok yang sangat familiar di kejauhan, itu mereka, Decklan mempercepat langkahnya. Ia melihat Sharon sedang berseru panik sambil berusaha membimbing Chaby yang tertatih-tatih berjalan.


"Ada apa?" Decklan bertanya cepat, dan ketika melihat keadaan Chaby, dia sudah tahu apa yang akan terjadi, bahkan sebelum Sharon menjelaskannya.


"Kita harus segera membawanya ke rumah sakit, Decklan!" Decklan berdebar. Oh astaga. Chaby akan segera melahirkan, dan mereka masih di sini, ditengah jalan yang dipenuhi dengan orang-orang yang berlalu lalang.


Decklan tidak sempat berpikir, dia melempar kunci mobilnya pada Sharon, kemudian dengan sigap di peluknya Chaby dan diangkatnya ke dalam gendongannya.


"Kau bisa mengemudikan? Duluan ke mobil, aku akan menyusul." Decklan memerintahkan Sharon. Wanita itu langsung segera berlari menyeberangi jalan untuk mengambil mobil. Taksi yang dipesannya tadi terlalu lama datangnya. Sharon cepat-cepat membatalkan pesanan taksi tersebut dengan sangat tergesa-gesa.


Dengan langkah cepat, Decklan setengah berlari menyeberangi jalanan, sambil mengangkat Chaby, sambil tetap berhati-hati agar tidak menabrak apapun.

__ADS_1


"Maafkan aku kak Decklan... aku nggak tahu kalau sekarang saatnya, jadi aku minta kak sharon menemaniku pergi ke toko..."


"Nggak apa-apa sayang, tahan sebentar ya, aku akan bawa kamu ke rumah sakit." gumam Decklan lembut.


Chaby berpegangan erat di tubuh Decklan yang sedang berjalan cepat. Lelaki itu tampak sedikit terengah. Tentu saja, dengan usia kehamilan istrinya yang sembilan bulan ini, Chaby sangat berat, dan Decklan menggendongnya sambil setengah berlari.


Beberapa saat kemudian, mereka sampai ke seberang dan Sharon yang mengemudi mobil Decklan berhenti tepat didepan mereka. Decklan  langsung masuk dan menutup pintunya. Lalu Sharon melajukan kendaraannya menuju rumah sakit.


"Bagaimana keadaannya?" Sharon berseru sambil melirik dari kaca mobil.


"Dia masih bisa bertahan," Decklan  yang menjawab karena Chaby sedang mengerang merasakan kontraksi, sementara itu ban mobil berdecit karena Sharon menghindari pengendara yang menyalip dari sebelah kiri.


"Fokus ke jalan, Sharon! Decklan merasakan cengkeraman erat Chaby  di lengannya ketika istrinya mengalami kontraksi. Jarak kontraksinya makin dekat dan Decklan makin cemas.


"Tarik napas dalam-dalam Chaby." Decklan mengingatkan Chaby cara menarik napas, seperti yang pernah diajarkan kepada mereka ketika mengikuti kursus persiapan kelahiran beberapa waktu lalu.


"Iya begitu, hembuskan pelan, tarik napas lagi. Sebentar lagi kita sampai."


"Bertahanlah sayang..." Decklan menggenggam tangan Chaby ketika kontraksi itu datang lagi.

__ADS_1


"Kita sudah hampir sampai..."


__ADS_2