GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 93


__ADS_3

Pika melihat kalender di meja belajarnya pada tanggal yang telah ia beri tanda. Sudah tanggal sepuluh rupanya. Ia tersenyum mengingat janjinya dengan Bara hari ini kemudian bangkit dari kursi dan mulai memilih-milih baju dalam lemari besarnya. Pokoknya dirinya harus tampil cantik di depan kak Bara, biar terlihat cocok, hihi. Gadis itu terkikik. Semenjak cowok itu memperlakukannya dengan lembut dan mengajaknya jalan bareng ia merasa sangat senang. Bara juga sering chattingan dengannya sampai sekarang dan tanpa ia sadari, mereka perlahan jadi dekat. Makanya dia antusias sekali mau ke konser amal temannya cowok itu.


Saat malam tiba, Bara menjemputnya. Mereka masuk ke sebuah gedung besar. Pika menatap aula konser yang sudah dipenuhi orang-orang. Ternyata orang yang akan melakukan pertunjukkan itu terkenal juga, buktinya banyak yang datang ke pertunjukan itu.


Bara membimbingnya duduk di paling depan sesuai dengan nomor tiket yang ada di tangan cowok itu. Mereka duduk bersebelahan. Tak lama kemudian seorang pria keluar dari backstage sambil memegang violin. Sorakan orang-orang memenuhi aula besar itu.


Pika sesekali menoleh dan tersenyum ke Bara. Ia bisa lihat wajah tampan cowok itu meski dalam cahaya yang  remang-remang. Hampir sejam pertunjukan itu baru selesai dan Pika menikmatinya. Meski ia tidak tahu apa-apa tentang musik, namun ia suka mendengar alunan instrumen yang mengalir indah di telinganya.


Pertunjukkan amal itu sukses besar. Semua tiket terjual habis, semua kursi terisi dan respons penonton sangat bagus.


"Teman kak Bara hebat banget." kata Pika di akhir pertunjukkan. Kalau yang ada dibatas panggung itu cewek, mungkin ia nggak akan memuji kayak begitu. Bara mengangguk setuju.


Untuk merayakan kesuksesan konser amal itu, teman Bara mengadakan pesta di restoran dan ikut mengundang Bara dan Pika ketika mereka memberinya ucapan selamat padanya. Sebenarnya Pika merasa canggung karena tidak ada orang yang di kenalnya di pesta itu selain Bara. Tapi tidak apa-apa karena ada cowok itu bersamanya.


Ia menoleh ke arah Bara yang berdiri disampingnya dan sedang berbicara dengan salah seorang tamu pesta. Mungkin temannya kak Bara juga. Gadis itu kemudian memandang berkeliling. Alunan musik dan suara orang-orang yang mengobrol terasa menyatu.


"Kak Bara,"


Mendengar suara Pika, Bara menoleh.

__ADS_1


"Aku mau ke toilet sebentar." katanya.


"Mau aku antar?" tanya cowok itu namun Pika menolaknya. Ia merasa tidak enak kalau cowok itu meninggalkan teman yang sedang asyik ngobrol dengannya hanya untuk mengantar dirinya ke toilet. Mereka pasti akan berpikir dirinya terlalu manja sampai ke toilet pun harus di  antar segala. Setelah Bara mengiyakan, Pika meninggalkan mereka.


Ketika Pika keluar toilet, ia melihat seorang cowok yang di kenalnya berdiri didepan sana sambil bersandar di tembok. Pika langsung membeku di tempat. Ia berharap ini hanya mimpi, sayangnya tidak karena cowok itu bisa berbicara.


"Halo sayang, gue nggak nyangka bisa ketemu lo lagi disini. Lo belum lupa sama gue kan?"


Jantung Pika mulai bergerak tak beraturan. Ia tidak bisa bersuara. Kepanikan mulai menjalari dirinya dengan kecepatan penuh. Dengan tangan terkepal, ia memaksa dirinya membuka mulut untuk mengatakan sesuatu, namun tidak bisa. Ia tidak bisa bersuara. Ia ingin pergi secepatnya dari sini. Toilet itu cukup jauh dari ruang utama restoran. Tentu saja walau ia meneriakan nama Bara cowok itu tidak akan mendengar. Apalagi suasana pesta sangat ramai begini. Ia mengutuk cowok didepannya ini dan tidak habis pikir kenapa sih brengsek itu bisa ada di pesta ini juga. Yah, mantan pacarnya yang brengsek yang hampir mengambil kesuciannya dulu.


"Lo masih cantik." gumamnya pelan.


Pika terbelalak. Kata-kata itu membuatnya merinding. Cowok itu menyunggingkan senyum miringnya.


ucapan itu membuat ketakutan besar yang pernah dirasakannya dulu kembali melandanya. Cowok itu mendekat.


"Gue hampir ngerasain tubuh lo tapi cowok-cowok brengsek itu malah halangin gue."


Pika mundur selangkah. Matanya terbelalak liar menatap cowok didepannya itu. Mata cowok itu tidak pernah lepas darinya. Cowok itu lalu mengulurkan tangannya menyentuh pipi Pika. Ia sangat berani apalagi sekarang tidak ada siapa-siapa di lorong sempit itu. Pika mundur selangkah lagi dan menepis kuat tangan cowok itu.

__ADS_1


"Jangan sentuh gue!" tukasnya memberanikan diri dan berusaha melewati cowok itu namun cowok itu sudah menutup jalannya, tidak membiarkannya lewat. Ia tidak bisa melakukan apa-apa, hanya menatap cowok itu dengan mata terbelalak ketakutan.


Pika berdoa dalam hati. Ia harus menjerit. Ia harus menjerit minta tolong. Kenapa suaranya tidak mau keluar?


Sebelum Pika sempat berpikir, cowok itu menariknya dengan kasar. Pika memekik dan berusaha melepaskan diri, tapi tangan cowok itu langsung membekap mulutnya dan menjatuhkannya ke lantai. Otak dan pandangan Pika berubah gelap. Ia terus menjerit walaupun mulutnya dibekap dengan kasar. Ia terus meronta, mencakar dan menendang dengan membabi buta walaupun sepertinya hal itu sama sekali tak berpengaruh.


Lalu tiba-tiba Pika mendengar suara keras, sedetik kemudian tangan yang mencengkeram wajahnya itu terlepas dan cowok itu tersungkur disampingnya. Pika cepat-cepat merangkak menjauh dan meringkuk di sudut, berusaha memperbaiki pakaiannya yang berantakan dengan tangan gemetar sambil terisak keras.


                              ***


Ketika Bara merasa Pika sudah lama pergi dan belum-belum muncul juga dari toilet, ia memutuskan untuk pergi menyusul gadis itu mencari tahu. Betapa kagetnya Bara menyaksikan apa yang sedang terjadi di depan matanya. Seorang cowok sedang menahan Pika di lantai depan toilet sambil berusaha merobek pakaiannya.


Dalam sekejap darah yang mengalir dalam tubuh Bara seolah-olah membeku. Tanpa berpikir lagi, ia mencengkeram kerah kemeja cowok itu, menariknya berdiri dengan satu sentakan keras, lalu meninju wajahnya. Ia baru mengenali siapa cowok brengsek itu ketika melihat wajahnya.


Begitu cowok itu tersungkur di lantai, Bara langsung menariknya berdiri lagi dan mendorongnya dengan kasar ke dinding dan mencekik lehernya kuat-kuat. Saat itu Bara sudah kalap dan tidak bisa berpikir jernih. Rasanya ia ingin membunuh pria brengsek didepannya ini sekarang juga karena sudah menyakiti Pika.


Cowok itu mencengkeram lengan Bara mencoba melepaskan tangan Bara dari lehernya. Ia merintih kesusahan namun Bara tidak melepaskan tangannya dan terus mencekik cowok itu.


"K..kak Bara."

__ADS_1


suara itu berhasil menyadarkan Bara. Tanpa berkata apa-apa lagi ia melepaskan cowok itu.


"Kalo lo berani nyakitin Pika lagi, percayalah detik itu juga lo mati di tangan gue." ancam Bara lalu berbalik mendekati Pika dan berlutut didepan gadis itu. Oh ya ampun, kalau dia terlambat sedikit saja ia tidak bagaimana keadaan Pika sekarang.


__ADS_2