GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 70


__ADS_3

Setelah puas berduaan dengan  Decklan, Chaby mengajak Pika masuk ke tenda. Katanya ia sudah mengantuk. Tapi Pika masih senang ngobrol sama yang lain. Lagian baru jam delapan malam juga, sih Chaby aja yang muka bantal. Mereka kan kesini mau senang-senang.


Akhirnya Chaby ikut-ikut saja meski sekali-sekali matanya tertutup. Gadis itu sekarang duduk dipinggir kolam  . Ia sudah ijin ke Decklan tadi.


Chaby memasukan kakinya kedalam air. Mungkin saja dengan begitu rasa kantuknya akan hilang. Dan benar saja, matanya membulat lebar, air kolam itu menurutnya sangat dingin. Apa kolam di gunung semuanya kayak begitu yah? Tiba-tiba ingatannya beralih ke masa lalu.


Gaya duduknya di pinggiran kolam dengan kaki yang dimasukan kedalam air itu seperti dejavu. Bukan, bukan dejavu. Ia pernah melakukan hal yang sama dulu, waktu kecil, waktu masih tinggal bersama orangtuanya di Seoul.


Tapi ingatan itu bukanlah ingatan yang menyenangkan. Karena dulu dalam posisi itu, mamanya muncul dari belakang dan mendorongnya ke dalam air. Chaby terdiam kaku. Ia mencondongkan badannya kedepan dan melihat kedalam air. Entah itu kenyataan atau hanya pikirannya ia sudah tidak bisa berpikir jernih lagi. Yang pasti dalam air bening itu ia melihat bayang-bayang mamanya dengan tatapan jahatnya yang khas, yang biasa wanita tua itu tunjukkan padanya. Tatapan penuh kebencian dengan tawa yang menakutkan.


Chaby cepat-cepat menutup matanya kuat-kuat. Bayangan saat mamanya menyiksanya dulu kembali terngiang-ngiang di kepalanya. Chaby berusaha keras untuk menghilangkan ingatan itu, perlahan-lahan dibukanya matanya dan kembali menatap ke air, ia ingin melihat apakah bayangan jahat mamanya masih ada atau tidak dan gadis itu terkesiap saat melihat bayangan itu ternyata masih ada.


"PERGI!" teriaknya kuat pada bayangan dalam air itu.


Semua orang yang asyik berbincang-bincang di ujung sana menatapnya aneh. Hanya ada Chaby di kolam itu, yang lainnya ada diujung sana dekat api unggun. Namun karena teriakan itu begitu kuat mereka semua jadi menatap gadis itu bingung. Pasalnya tidak ada siapa-siapa disitu, jadi pada siapa Chaby berteriak dan menyuruhnya pergi.


Decklan sedang mengambil sesuatu dalam tendanya jadi tidak tahu apa-apa. Ketika keluar, ia bingung karena semua orang yang sedang melihat kearah yang sama dengan ekspresi yang berbeda-beda.


"Kak Decklan Chaby.." gumam Pika menoleh ke kakaknya yang kini berdiri didepan tenda.


Decklan melirik Pika sekilas dan menatap ke Chaby disana. Matanya membelalak lebar saat melihat Chaby terus-terusan mencondongkan badannya kebawah sekali sampai-sampai terlihat mau masuk kedalam air. Astaga, ia baru meninggalkan gadis itu sebentar saja tapi...


"PERGI!"


Chaby berteriak lagi. Kali ini walau bingung Decklan cepat-cepat berlari mendekati gadisnya itu. Ia terlalu khawatir. Jangan sampai gadis itu terjatuh ke kolam. Dan, siapa yang disuruhnya pergi itu? Chaby bicara sama siapa? Ada sesuatu di kolam?

__ADS_1


Pika dan Andra mengikuti dari belakang. Bara entah kemana. Cowok itu mungkin sedang menyendiri di suatu tempat.


Decklan hampir mencapai kolam namun terlambat. Chaby sudah terjun kedalam air membuat Decklan menambah kecepatannya dan ikut melompat kedalam.


Decklan meraih Chaby, mengangkat tubuhnya dan menggendongnya ke tepi kolam. Dasar kolam itu memang tidak dalam tapi airnya sangat dingin.  Sudah banyak orang yang berkumpul mengelilingi mereka. Pika cepat-cepat memberikan jaket milik Bara yang dipakainya tadi ke Decklan untuk dipakaikan ke Chaby yang terlihat gemetar karena kedinginan.


Decklan menyampirkan jaket yang di kasih Pika ke tubuh Chaby. Raut wajahnya terlihat marah.


"KAMU NGAPAIN TADI, HAH? MAU BECANDA LAGI? NGGAK LUCU!" teriak Decklan saking khawatirnya ia jadi semarah itu juga. Tangannya mencengkeram bahu Chaby kuat-kuat.


Yang lain saling menatap. Baru kali ini mereka melihat Decklan begitu. Mereka tahu teriakan marah itu bukan sepenuhnya marah, cowok itu jelas sangat khawatir. Matanya tidak bisa berbohong. Andra yang merasa tidak enak mereka menonton Decklan dan Chaby meminta mereka pergi. Mau tak mau orang-orang itu berbalik pergi.


"Jawab aku." kali ini suara Decklan berubah tapi masih dingin.


"Decklan,"


Decklan menoleh ke Andra. Emosinya masih belum benar-benar stabil.


"Kayaknya ada yang salah sama dia." gumam Andra saat melihat Chaby berusaha menekan tangannya yang gemetar dan matanya melihat sana sini seperti mencari-cari sesuatu.


Decklan balik menatap Chaby, benar. Karena emosi ia jadi tidak memperhatikan gadis itu baik-baik.


"Chaby," gumamnya pelan menatap gadis itu lekat-lekat. Tak ada jawaban, Chaby seolah tak mendengarnya. Decklan tertegun. Ia berlutut didepan Chaby dan mengulurkan tangan ke wajahnya. Decklan ingin bertanya tapi mata gadis itu tetap gelisah menatap ke segala arah, seolah mencari-cari sesuatu. Decklan lalu menyadari tubuh gadis itu gemetar yang membuat dadanya ikut terasa sakit.


"Chaby, kamu kenapa? Bilang sama aku." nada suaranya begitu khawatir. Lelaki itu lalu memeriksa kondisi Chaby karena gadis itu tidak merespon apapun. Ia menempelkan tangannya di dahi Chaby dan memeriksa bagian yang lainnya. Chaby masih tidak bersuara.

__ADS_1


Decklan menyadari kondisi tubuh gadisnya itu basah dengan pakaian. Ia lalu menggendong Chaby membawanya masuk ke tenda. Beberapa teman club mereka masih mencuri-curi pandang ke mereka, ingin tahu sebenarnya Chaby kenapa.


Decklan menatap Chaby yang  masih tidak bicara sama sekali, mereka sudah didalam tenda. Saat ini Chaby hanya diam dengan tatapan kosong. Decklan mendesah berat. Ia akan mencari tahunya nanti. Gadis itu butuh ganti baju. Tatapannya beralih ke Pika.


"Pik,"


Pika menatap kakaknya.


"Gantiin baju Chaby, kalau udah selesai langsung panggil gue."


Pika mengangguk cepat. Decklan menatap Chaby lagi sebentar, lalu keluar.


                                   ***


"Gimana?" Andra yang menunggu diluar tenda bertanya saat Decklan keluar. Ia melihat Decklan menggeleng dan mengusap wajahnya kasar.


Setelah itu tak ada lagi yang bicara diantara mereka. Suasana hening dengan pikiran mereka masing-masing.


Decklan menunggu dengan gelisah dan pikiran penuh. Ia sedang berpikir kira-kira apa yang terjadi hingga gadis itu jadi aneh begitu.


Sial,


kenapa Pika lama sekali keluar. Ia sudah tidak tahan mau melihat dan menemani Chaby. Di saat-saat seperti ini ia tidak ingin meninggalkan gadis itu sedektikpun. Chaby pasti butuh dia.


Decklan mulai berjalan mondar-mandir dengan gusar. Andra mengamatinya sejak tadi. Decklan yang dikenal sebagai cowok yang begitu tenang dalam menjaga emosinya, hari ini benar-benar kelihatan kacau karena Chaby. Andra tahu pengaruh gadis itu begitu besar dalam hidup Decklan. Cowok itu tidak mungkin baik-baik saja kalau terjadi sesuatu dengan gadis yang paling dicintainya.

__ADS_1


__ADS_2