GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 91


__ADS_3

Chaby takut gelap. Berada dalam lemari yang gelap ini membuatnya takut, tapi mau bagaimana lagi, ia harus pasrah demi memberi kejutan buat kak Decklan, meski begitu perasaannya tetap aneh. Ia merasa merinding. Chaby yang sedang merapalkan doanya karena takut ada sesuatu dalam lemari itu langsung berteriak kencang ketika lemari di buka dengan kuat. Ia berpikir itu hantu namun ketika mendapati ternyata yang membuka lemari itu adalah manusia, terlebih lagi orang itu kak Decklan, gadis itu bernafas lega.


Tangan Decklan masih setia di mulutnya dengan tatapan heran. Tangan gadis itu setia memegangi dos berisi kue ulang tahun yang sayangnya belum bisa menyadarkan Decklan kalau gadis itu mau memberi kejutan ulang tahun untuknya. Ia lebih terkejut dengan kehadiran gadis itu di asrama cowok. Decklan berbalik menatap Andra dan Hugo. Ia memang curiga dengan kelakuan dua cowok itu sejak tadi, tapi ia tidak terpikir sama sekali bahwa apa yang mereka tutupi adalah membawa masuk kekasihnya ke dalam asrama.


"Jelasin." kata Decklan penuh tekanan. Ia tidak marah, tapi keberatan saja. Kalau Chaby memang mau bertemu dengannya, ia akan menemui gadis itu di tempat tinggalnya. Bukan malah masuk-masuk sembarangan gini.


Andra menggaruk tengkuknya. Bagaimana cara menjelaskan, ia juga bingung. Pandangannya melirik Chaby. Sebelum Andra buka suara, Chaby menepuk punggung Decklan. Cowok itu berbalik dan melihat dos yang di pegang gadis itu tadi kini berubah menjadi kue ulang tahun dan lilin yang tersemat dalam kue itu sudah menyala. Entah sejak kapan Chaby melakukan semua itu, gerakannya sangat cepat bahkan Decklan tak menyadarinya.


"Selamat ulang tahun kak Decklan, pacar Chaby yang paling ganteng, baik hati, suka godain dan suka ngomelin aku tapi selalu bikin aku seneng." ucap gadis itu dengan senyum lebar.


Decklan terdiam. Ia menatap Chaby lama. Hatinya sangat senang sekaligus terharu. Kini ia tahu gadis itu bela-belain datang jam segini, sembunyi-sembunyi hanya untuk memberinya ucapan selamat. Rencana gadis itu memang sangat nekat, ia ingin marah tapi melihat begitu manisnya perempuan didepannya ini, ia sadar dirinya tidak bisa marah sekarang. Decklan lalu mendekat ke Chaby dan mengecup seluruh wajahnya bertubi-tubi, menyalurkan semua rasa bahagianya.


"Makasih sayang." ucapnya di sela-sela kegiatannya mencium gadis itu.


"K..kak Decklan, tiup dulu dong lilinnya." kata Chaby menahan kuat kue di tangannya yang hampir jatuh karena gerakan Decklan.


"Eh lo berdua, sadar woi.. masih ada dua makhluk jomblo disini." seru Hugo merasa iri dengan kemesraan sepasang kekasih di ujung sana. Andra tertawa. Kalau dia memang sudah biasa melihat Decklan yang bucin dan posesif ke Chaby kayak gitu jadi itu sama sekali tidak mengganggunya.


Decklan melepaskan ciumannya dan meniup lilin di kue. Andra dan Hugo maju, ikut memberinya ucapan selamat. Mereka berempat lalu duduk melantai dan memakan kue ulang tahun Decklan setelah di potong-potong sama Chaby.


"Tapi kalian bertiga beneran nekat bikin kejutan kayak gini." ungkap Decklan sambil mengunyah kue. Ia senang tapi juga tidak habis pikir dengan ide gila mereka. Walau ujung-ujungnya ia tetap senang karena bisa melihat Chaby di hari ulang tahunnya.


"Lo pikir kita berdua setuju? Awalnya kita menolak keras, tapi lo tahu sendiri gimana bocah milik lo ini kalo udah maksa, kambing aja nyerah." seru Andra asal. Hugo dan Decklan tertawa. Perkataan Andra terdengar lucu di telinga mereka.


"Kak Andra,"

__ADS_1


"Hm?" Andra melirik Chaby.


"Emang kak Andra pernah ngomong sama kambing? Pernah nanya gitu kalo seandainya aku maksa, kambingnya bakalan nyerah?"


"Pfftt.." Hugo menahan tawa.


Andra memutar bola matanya malas. Mode oonnya Chaby balik lagi. 


"Lu pikir gue titisan dewa yang bisa ngomong sama hewan, mikir Chaby mikirr.." dongkol Andra saking gemasnya sama cewek itu sementara Chaby malah menyengir lebar padanya. Decklan menggeleng-geleng kemudian mengacak-acak rambut Chaby yang duduk disampingnya.


Tak lama kemudian keempat makhluk itu saling menatap ketika mendengar bunyi langkah kaki. Mereka saling berpandangan dan mulai gelagapan.


"Sembunyiin kuenya cepet." kata  Andra dengan suara berbisik. Hugo cepat-cepat mengangkat kue ulang tahun itu dan memasukannya ke dalam lemari. Hanya itu tempat yang terpikir dalam otaknya sekarang.


"Kalo ada yang masuk bilangin gue udah tidur." ujarnya pada Hugo dan Andra sebelum menutup seluruh badannya dan Chaby pakai selimut tebal.


Andra dan Hugo berdecak kesal ke Decklan. Mereka keberatan karena tuh cowok bener-bener cari gampang.


Di atas ranjang, Decklan menutupi badan mungil Chaby dengan badannya, biar kalau ada yang masuk mereka tidak merasa curiga kalau ada dua orang di atas tempat tidur itu. Kepala Chaby bersandar didadanya. Ia merasa kepanasan karena seluruh tubuh mereka berada dibdalam selimut, bisa saja ia menyembulkan kepalanya keluar, tapi ia tidak mau menyia-nyiakan kesempatan menatap  Chaby yang berbaring dalam pelukannya itu.


Decklan diam, ia juga menyuruh Chaby untuk tidak berbicara. Samar-samar terdengar ketukan pintu di kamar itu. Andra membukanya. Ternyata yang datang adalah penjaga asrama. Lelaki tua itu sudah berdiri di depan Andra dan Hugo.


"Ada yang melapor mendengar teriakan perempuan dari kamar ini." kata penjaga asrama menatap Hugo dan Andra bergantian. Andra beracting sebiasa mungkin supaya lelaki itu tidak curiga.


"Teriakan perempuan?" cowok itu pura-pura berpikir.

__ADS_1


"Oh, tadi kita lagi nonton film pak." seru Andra berbohong. Untung dia langsung terpikirkan ide itu.


Sih penjaga asrama sesekali melirik ke atas ke tempat tidur Decklan namun tidak bicara apa-apa. Mungkin ia pikir cowok itu sudah benar-benar ketiduran. Sementara mereka berbicara di bawah, di atas ranjang Chaby berusaha menahan sesuatu. Ia pikir-pikir harus ia tahan atau tidak. Akhirnya ia berbisik ke Decklan.


"Kak Decklan." bisiknya sangat pelan namun Decklan bisa mendengarnya karena jarak mereka yang sangat dekat.


"Mm?"


"Aku rasa kentut. Menurut kak Decklan dibuang apa di tahan aja? Tapi kalo nahan kentut nggak baik, kalo buang sekarang takutnya kedengeran kalo bunyi. Gimana nih, aku udah nggak tahan."


Decklan mati-matian menahan tawanya mendengar perkataan gadis itu.


"Udah di buang aja." katanya kemudian.


"Bener aku buang nih." Decklan menganggukan kepala.


Sesaat kemudian terdengar suara kentut yang panjang menyelimuti ruangan ber AC itu. Tiga makhluk dibawa sana sama-sama menatap perlahan ke atas ke ranjang Decklan lalu menutup hidung mereka karena bau yang menyeruak. Andra dan Hugo menahan tawa karena bunyi kentut itu.


Decklan ikut menutupi hidungnya dalam selimut, setelah mendengar suara pintu ditutup dan sih penjaga itu pergi Decklan cepat-cepat membuka selimut yang menutupi dirinya dan Chaby.


"Pfft, hahahah..." ia lalu tertawa keras sambil memukul-mukul pahanya. Ia tidak peduli dengan Chaby yang cemberut karena malu sekarang.


"Chaby, lu kentut? Tahan aja napa, malu banget tahu kita-kita di depan penjaga asrama. Malah kentutnya bau banget lagi." seru Andra tapi tetap merasa lucu.


"Bunyinya juga, bernada banget." timpal Hugo dengan tawa meledek menatap Chaby.

__ADS_1


__ADS_2