GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 15


__ADS_3

Sharon bergerak gelisah di tempat duduknya. Harusnya dia saja yang menemani Arion ke toilet. Ia merasa sangat canggung. Dirinya ditinggal berdua dengan sih pria kaku ini oleh Chaby dan Arion. Aduh, mana mereka ke toiletnya lama banget lagi. Sharon mau bicara apa coba, di tambah lagi dirinya baru habis cekcok sama lelaki yang ternyata kakaknya Chaby ini.


Di depan sana, Danzel tak kalah canggungnya dengan Sharon. Lelaki itu merasa serba salah. Baru kali ini ia merasa serba salah karena bersikap kasar pada seorang wanita. Kenapa kebetulan sekali begini sih kalau wanita itu yang menolong dan merawat adiknya. Dia harus apa coba? Minta maaf dengan perlakuan kasarnya tadi? Danzel jarang sekali meminta maaf kecuali pada orang terdekatnya.


"Apa adikku banyak merepotkanmu selama tinggal di rumahmu?" tanya Danzel akhirnya untuk memecah keheningan. Lupakan dulu perselisihan mereka tadi. Pria itu melihat Sharon tersenyum. Ternyata wanita itu lumayan cantik kalau tersenyum.


"Adikmu memang terkadang merepotkan, tapi juga sangat banyak membantu. Meski terkadang sifat kekanakannya keluar, tapi dia juga sosok ibu yang baik. Buktinya dia bisa merawat Arion sendirian dengan keadaannya yang tidak bisa ingat apa-apa. Kau tahu bukan banyak perempuan muda di usianya yang memilih meninggalkan anak mereka karena keadaan atau merasa berat dengan tanggung jawab itu, apalagi tanpa suami. Tapi adikmu sangat sabar dan selalu berpikiran positif. Sia dan Arion juga sudah kuanggap keluarga sendiri." kata Sharon panjang lebar dan penuh ketulusan.


Entah kenapa Danzel merasa tergerak. Wanita bernama Sharon ini bercerita tanpa dibuat-buat, ia juga tampak sangat mengenal Chaby. Danzel tak memungkiri ia senang karena Chaby bisa bertemu dengan seorang wanita yang baik.


"Sia?" Danzel mengulang satu kata yang dibilang Sharon tadi.


"Ah, itu adalah panggilanku pada adikmu. Karena dia tidak ingat siapa namanya." Sudah Danzel duga.


"Oh," gumam pria itu. Setelah itu suasana kembali hening. Danzel tidak tahu mau bicara apa lagi. Sharon pun sama saja. Sebenarnya ia bukan tipe wanita yang pendiam, hanya saja berada didepan laki-laki dengan karakter seperti kakaknya Chaby ini membuatnya awkward.


Untung tidak lama kemudian Chaby muncul bersama Arion. Sharon akhirnya bisa bernafas lega. Ia lalu bersiap-siap berdiri dari sofa.


"Kak Sharon udah mau pulang? Aku sama Arion ikut kak Sharon." kata Chaby melihat Sharon mengambil tasnya diatas meja.


Sharon mengiyakan lalu menatap ke samping, seolah bertanya ke Danzel dirinya bisa membawa Chaby dan Arion atau tidak.


"Kalian naik apa?" tanya Danzel. Ia ingat motor yang dibawah Sharon tadi. Ia tidak mau adik dan ponakannya naik motor jelek itu. Bagaimana kalau mereka kecelakaan. Cukup sekali Chaby hilang.


"Motolnya tante Shalon." Arion yang menjawab karena dia dan Chaby memang selalu naik motor Sharon kalau mau ke pasar atau Arion mau ke TK. Hari ini Arion masih izin sakit. Padahal sudah sembuh sih.


"Jangan naik motor itu, kalian bisa celaka." larang Danzel langsung. Ia tidak melihat wajah Sharon yang sudah agak memerah karena kesal.

__ADS_1


"Kenapa celaka paman?" tanya Arion polos. Chaby ikut menatap Danzel. Hanya Danzel dan Sharon yang mengerti maksud perkataan Danzel. Kalau saja mobil Danzel tidak rusak, pasti pria itu sudah mengantar mereka. 


"Ari, tadi motornya tante Sharon lagi bermasalah jadi kita pulangnya naik taksi aja yah." Sharon menjelaskan pada Arion. Anak kecil itu mengangguk mengerti.


"Chaby, jangan lupa kasih kabar kakak kalau sudah sampai ya." ucap Danzel menatap adiknya. Pandangannya berpindah ke Arion, mengacak pelan rambut bocah itu.


"Ari juga, nanti main lagi sama paman ya." katanya. Arion mengangguk.


"Dah kakak," pamit Chaby melambai pada kakaknya.


"K..kami pergi dulu." kata Sharon tersenyum canggung.


"Mm, hati-hati." balas Danzel, walau masih kaku tapi sudah tidak sekaku tadi. Sepertinya ia perlu membiasakan diri berbicara dengan Sharon. Chaby dan Arion dekat dengan wanita itu. Mereka pasti akan sering bertemu nanti. Danzel tidak mengantar mereka sampai di luar karena orang-orang sudah menunggunya di ruang rapat.


                                   ***


"Hah? Siapa ini?" Chaby melihat ponselnya dan menempelkan lagi benda pipih itu ke telinga. Arion sedang tidur siang di dalam, dan Chaby memilih membantu Tuty membuat buket bunga pesanan orang. 


Gadis itu bicara cukup lama dengan Sharon, bercerita tentang bagaimana dia bisa bertemu dengan keluarganya. Sharon sendiri ikut senang karena keluarga Chaby sangat sayang padanya, dari cerita yang dia dengar. Sekarang Sharon sedang sibuk memeriksa setiap pesanan yang masuk. Sementara Chaby masih bingung dengan orang yang menelponnya. Entah siapa itu.


"Ini aku suami kamu," kata Decklan diseberang. Chaby mengernyitkan mata. Ah, ia baru ingat tadi pagi suaminya itu meminta nomor telponnya.


"Kenapa?" tanya Chaby cuek.


"Berikan alamat tempat tinggal kamu, nanti sore aku jemput kamu dan Arion."


Chaby menghela nafas. Padahal tadi pagi ia sudah memohon-mohon pada Decklan untuk mengijinkannya tidur di rumah kak Sharon tapi tidak dapat ijin. Katanya cari waktu lain saja.

__ADS_1


"Baiklah," sahut Chaby malas.


"Kalau begitu aku tutup. Jangan lupa alamatnya."


"Hm,"


telpon terputus. Chaby melanjutkan pekerjaannya lagi.


"Siapa?" tanya Tuti yang penasaran dengan siapa Chaby bicara.


"Suami aku." sahut Chaby. Tuti tampak tertarik. Mereka memang sudah dengar dari Sharon kalau Chaby sudah menemukan keluarganya.


"Gimana-gimana, suami kamu keren nggak? Belum nikah lagi kan?" tanya Tuti antusias.


"Ehem," suara Sharon dari depan sana membuat Tuti terdiam.


"Kerja dulu." tegur Sharon tegas. Mau tak mau Tuti fokus lagi dengan pekerjaannya. Padahal ia sudah antusias sekali mendengar cerita Chaby.


                                  ***


Semua mata fokus pada sosok pria yang turun dari mobil mewahnya. Mereka semua terkesima, termasuk Chaby. Kemarin sampai pagi tadi ia tidak begitu memperhatikan, mungkin karena kesal pada suami pemaksa dan seenaknya itu. Tapi sore ini, ketika melihat suaminya turun dari mobil itu ia bisa lihat dengan jelas ketampanan yang terpancar dari wajah cerahnya.


Sosok itu begitu memukau dengan pesona yang dimilikinya. Tubuhnya tinggi menjulang dan ekspresi yang tampak dingin itu menambah kesan ketertarikan banyak wanita. Sharon saja yang biasanya tidak begitu peduli dengan wajah tampan tidak dapat mengalihkan pandangannya ke arah lain.


"Papa!"


semuanya tak terkecuali Chaby, melotot heran pada Arion yang memanggil pria itu dengan sebutan papa dan berlari ke arah pria itu. Pria itu juga tersenyum lebar menyambut Arion dan menggendong putra tunggalnya itu. Kalau saja istrinya tidak hilang dalam kecelakaan, pasti mereka sudah bisa membuat empat anak.

__ADS_1


"Papa?" Sharon menatap Chaby. Sekali lagi ia dikejutkan dengan orang-orang yang punya hubungan dengan Chaby. Semuanya bukan orang sembarangan.


__ADS_2