GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 92


__ADS_3

"Kak Decklan aku maluu.."


Chaby langsung menyembunyikan wajah malunya di dada bidang Decklan. Decklan mengusap-usap punggung gadis itu penuh sayang, tawanya sudah reda. Dirinya merasa senang malam ini dengan kehadiran sang pacar.


"Turun lo berdua cepet. Gue takut kalo lo berdua lama-lama di atas situ, gue sama Hugo bakalan liat adegan syur secara langsung." Decklan mendelik tajam ke Andra, di balas dengan kekehan cowok itu.


"Sekarang gimana caranya dia keluar?"


Mereka berempat kini duduk melantai. Chaby asyik bersandar di bahu Decklan sedang tiga cowok itu sibuk mengatur rencana mengeluarkan gadis itu dari asrama mereka.


"Kunci pagar belakang masih ada sama lo kan?" Hugo menatap Andra. Cowok itu mengangguk.


"Kasih ke gue." kata Decklan. Andra mengambil kunci itu dari sakunya dan diberikan ke Decklan.


"Lo berdua tetap disini aja, biar gue yang urus Chaby." tambahnya kemudian menarik tangan gadis itu berdiri. Karena sudah tengah malam, asrama makin sepi. Chaby dan Decklan keluar dengan mengendap-endap. Decklan tahu ada jalan lain keluar dari tempat itu tanpa melewati penjaga asrama. Tempat itu tidak ada yang jaga kalau malam, jadi ia membawa Chaby lewat jalan itu dan mereka akhirnya bisa keluar dengan mulus tanpa ada yang melihat.


Jalanan sudah sepi. Decklan mengantar Chaby pulang ke rumahnya. Gadis itu sendiri yang bilang kalau kakaknya tahu ia nginap di rumah cowok itu. Jadi Decklan membawanya ke rumahnya. Semua orang rumah sudah tidur tapi Decklan punya kunci rumah cadangan yang selalu dia bawa. Mereka lalu masuk ke rumah besar itu dan langsung naik menuju kamar Decklan.


"Malam ini kamu tidur di kamar aku." gumam Decklan menepuk pelan hidung Chaby. Gadis itu mengangguk.


"Kak Decklan mau langsung balik?" tanyanya kemudian.

__ADS_1


Decklan tidak menjawab. Ia hanya menatap gadis itu lama lalu terbersit dibenaknya ingin berbuat iseng dan kemudian tersenyum jahil ke gadis itu. Kakinya bergerak maju kemudian ia mendorong pelan tubuh Chaby hingga gadis itu terjatuh di atas kasur besarnya. Cowok itu lalu menindih tubuh mungil Chaby bermaksud menggodanya, membuat pipi tembem gadis itu bersemu merah.


"K..kak Decklan." gumam Chaby gugup. Gimana nggak gugup coba kalau jarak mereka sedekat itu.


"Kamu pengen aku balik aja atau..?" tanyanya usil. Tangannya mulai membelai pipi Chaby dan bermain-main di seluruh wajah gadis itu. Menelusuri keseluruhan wajah halus dan cantik yang selalu ingin ia lihat setiap hari. Ia menghentikan kegiatannya sesaat  lalu menatap mata Chaby lekat.


Sial,


Pria itu merasa sekujur tubuhnya menjadi panas. Tadi dia memang berencana hanya mau menggoda gadis itu namun sebaliknya, malah hati dan batinnya yang tergoda. Isi kepalanya sudah dipenuhi dengan niat kotor. Gadis didepannya ini terlalu mempesona di matanya. Hasratnya penuh, gairah laki-lakinya bangkit. Harus ia akui dia adalah seorang lelaki normal, apalagi mangsanya sudah ada di depan mata. Decklan menelan salivanya, berusaha keras menghilangkan godaan kuat yang menyelimuti dirinya namun bukannya menarik diri, bibirnya malah menyatu dengan bibir Chaby. Awalnya hanya menempel, tapi semakin lama ia menginginkan lebih dari itu. Lidahnya masuk dan mencumbu bagian dalam mulut Chaby dengan buas, dengan hasrat yang begitu membara. Ia melakukannya lebih kasar dari yang biasanya ia lakukan.


"Mmph." Chaby belum terbiasa dengan ciuman Decklan yang semakin liar dan berani itu. Ia merasa kesulitan bernafas dan berusaha mendorong tubuh berat Decklan yang menindihnya. Sayangnya tenaganya terlalu kecil. Cowok itu bahkan tidak merasakan apa-apa ketika ia mendorongnya. Decklan makin menjadi-jadi. Tangannya tidak tinggal diam dan mulai bergerak turun ke buah dada gadis itu. Mata Chaby terbuka lebar dan memekik seketika karena sensasi panas yang baru pertama kalinya ia rasakan itu. Sesaat kemudian Decklan sadar lalu cepat-cepat berdiri dari atas tubuh gadis itu.


"Chaby.," gumamnya lirih. Gadis itu hanya menunduk. Wajahnya memerah karena malu. Ini pertama kalinya Decklan berbuat begitu padanya. Ia tidak marah, tapi dirinya merasa sangat malu atas kejadian tadi.


Decklan memilih duduk di tepi ranjang, mengusap-usap kepala gadis itu.


"Maafin aku yah, aku hampir kelepasan tadi." ucapnya meminta maaf. Gadis itu tidak menjawab, hanya terus menunduk. Ia malu menatap Decklan.


"Kamu marah?" Chaby menggeleng.


"Terus kenapa nggak mau natap wajah aku?"

__ADS_1


"M..a..aku malu." sahut gadis itu terus menunduk, masih tidak berani menatap wajah Decklan. Decklan tersenyum. Ia mengangkat dagu Chaby dengan sebelah tangannya memaksa gadis itu menatapnya.


"Kok malu? Nanti juga kita bakal gituan kalo kamu udah sah jadi milik aku." goda cowok itu mencolek-colek pipi Chaby dengan senyuman nakalnya, bikin gadis itu tambah malu lagi. Decklan tertawa pelan. Ia mengetuk pelan dahi Chaby.


"Udah, aku nggak godain kamu lagi." ucapnya pelan mengelus pipi gadisnya. Chaby mengernyit, sepertinya ada yang dia lupa. Oh iya. Hadiahnya buat kak Decklan. Dengan cekatan ia turun dari tempat tidur dan mengambil sesuatu dari ranselnya. Decklan terus menatap gadis itu ikutan bingung.


"Nih, hadiah ulang tahun aku buat kak Decklan." kata Chaby memberi sebuah kado ditangannya pada Decklan. Kado yang dibungkus dengan warna pink fanta dan pita putih itu sungguh bukan warna kesukaan Decklan. Tapi tidak apa-apa. Decklan tetap menyukainya, karena itu pemberian dari gadis yang dia suka. Cowok itu mengambilnya.


"Apa ini?" tanyanya.


"Buka aja."


"Buka disini aja yah." Chaby mengangguk. Decklan lalu mulai membuka kado Chaby. Ah sebuah tumbler ternyata. Tumbler custom  berwarna hitam ada tulisan nama Chaby. Lagi-lagi Decklan tertawa.


"Kak Decklan suka nggak?" Chaby menatap Decklan antusias. Cowok itu mengangguk.


"Semua pemberian kamu aku suka, biar banyak alaynya." memang Decklan merasa Chaby sering memberinya barang-barang yang menurutnya alay namun ia tidak menampik kalau ia menyukai hadiah-hadiah dari gadis itu. Ia tidak melihatnya dari bentuk hadiah, namun ia senang karena dengan memberinya hadiah, berarti Chaby selalu ingat dan peduli padanya.


"Ya udah, aku harus balik ke asrama sekarang. Kamu juga sudah harus tidur, nanti besok pagi bangunnya kesiangan lagi." kata Decklan kemudian. Chaby mengangguk. Setelah Decklan keluar, ia baru berbaring dan menutup tubuhnya dengan selimut milik Decklan.


Chaby bergerak kiri kanan, ia kembali mengingat kejadian tadi. Aduh, sepertinya ia akan susah ketiduran akibat perbuatan kak Decklan tadi.

__ADS_1


__ADS_2