
Kali ini giliran Pika yang mendesah berat menatap sang kakak. Ia tahu kalau mengenai pendidikan dan pekerjaan, papa mereka sangat tegas. Pantas saja sejak di cafe tadi cowok itu seperti tidak fokus dan banyak pikiran. Sebenarnya itu tawaran yang bagus menurutnya. Tapi.. kok dia jadi sedih ya mendengar kakaknya akan pergi jauh. Sekalipun nggak bakal selamanya, hanya beberapa tahun saja tapi ia tetap bakalan merasa ada yang kurang.
"Terus kalo kak Decklan pergi, Chaby gimana?" tanya gadis itu. Pertanyaan yang membuat perasaan Decklan makin terasa berat.
"Lo jangan cerita apa-apa dulu ke dia, biar gue sendiri yang ngomong." kata cowok itu. Pika mengangguk. Menurutnya sih, walaupun sedih, Chaby tetap bakal ijinin.
***
Chaby mengerucutkan bibirnya. Sudah hampir dua hari ini Decklan tidak menelponnya. Ketika dia balik nelpon, hp cowok itu malah tidak aktif. Pas tanya Pika, sahabatnya itu bilang kakaknya lagi sibuk sama ujiannya beberapa hari kedepan. Tapi Chaby kok merasa aneh ya? Sekalipun pacarnya itu sibuk atau apalah ia akan memberi kabar dan menelpon Chaby walau hanya semenit. Kok sekarang ia malah merasa kayak di ghosting yah? Hah, pokoknya ia merasa sebal.
Gadis itu sedang duduk sendirian di didepan Indomaret dekat apartemennya. Dahinya berkerut berpikir keras. Menurutnya Pika, kak Bara dan kak Andra juga ikut-ikutan jadi aneh. Kemarin ia juga menelpon kedua cowok itu untuk menanyakan keberadaan Decklan karena mereka berdua sekampus sama kak Decklan.
Memang sih jawaban mereka sama dengan Pika, tapi Chaby merasa mereka seperti sedang menyembunyikan sesuatu. Apa yah? Cewek itu lalu membanting-banting kakinya di lantai jalan. Pokoknya ia merasa kesal saja beberapa hari ini.
"Chaby, ngapain disini?"
Chaby menaikkan wajahnya dan mendongak ke asal suara. Seorang cowok yang ia kenal sudah berdiri didepannya dengan sebelah tangan menjinjing sebuah kantong plastik kecil entah apa isinya, Chaby tidak bisa lihat.
__ADS_1
"Karrel." ucapnya lemah. Karrel tersenyum dan memilih duduk di sebelah gadis itu. Ia baru habis membeli beberapa minuman kaleng buat lembur malam ini. Ketika keluar dari dalam Indomaret, matanya menangkap sosok gadis yang di kenalnya itu tengah duduk dengan wajah masam didepan sana. Cowok itu lalu menghampirinya.
"Kok disini?" tanya Karrel lagi.
"Lagi males aja sendirian di apartemen, jadi kesini. Kamu sendiri, kok disini? Kamu tinggal deket sini juga?" gadis itu balas bertanya.
Karrel tertawa pelan. Sebenarnya tempat tinggalnya cukup jauh dari daerah ini, tapi studionya kebetulan melewati tempat ini dan saat melewati Indomaret, dia mampir sebentar untuk membeli minuman didalam kantong plastik yang sekarang ini ia pegang. Ia juga tidak mengira akan bertemu dengan gadis itu disini.
"Studio aku kebetulan lewat daerah ini. Aku cuman mampir sebentar buat beli sesuatu." jawab cowok itu. Chaby mengangguk-angguk mengerti kemudian menunduk lagi.
"Kenapa? Kok keliatan kesel sih?" tanya Karrel lagi. Chaby mengangkat wajahnya.
"Karrel,"
"Kamu sama pacar kamu sering berantem nggak?" dahi Karrel mengernyit bingung.
"Aku nggak punya pacar." balasnya. Sejak kapan ia punya pacar?
"Terus, cowok yang di postingan Citra itu emangnya bukan kamu? Kayaknya wajah kamu yang lagi tidur itu jelas banget deh." kata Chaby membuat Karrel langsung teringat kejadian kemaren, waktu Citra memotretnya. Jadi Chaby kenal Citra? Sial.
__ADS_1
"Kamu sama Citra temenan?" ia bertanya. Chaby cepat-cepat menggeleng kuat.
"Citra itu ketua osis di sekolah aku sama Pika." jelasnya.
"Oh," gumam Karrel lalu menatap Chaby lekat. Ia harus menjelaskan kejadian di foto itu agar gadis itu tidak salah paham.
"Aku sama Citra nggak pacaran. Dia itu adiknya sahabat aku, dan dia sengaja motret aku saat lagi tidur waktu itu." jelas cowok itu. Chaby menyipit.
"Tapi kok Citra nulis caption kayak gini. Makasih sayang, kamu udah bikin aku melayang berkali-kali se mmph.," Karrel buru-buru menutup mulut Chaby. Ya ampun, kenapa nih cewek ingat banget sama caption yang di tulis Citra. Matanya melirik ke beberapa orang yang keluar masuk toko itu yang tengah menatap mereka dengan tatapan-tatapan aneh. Ketika Karrel mau menurunkan tangannya dari mulut Chaby, ia merasa pukulan yang keras di rahangnya, dan detik itu juga cowok itu langsung tersungkur di lantai.
***
Setelah dua hari ini berpikir keras, Decklan akhirnya mengambil keputusan. Ia akan tetap berangkat ke Inggris, membiarkan dirinya berpisah beberapa bulan dengan sang pacar lalu kembali membawa gadis itu ikut dengan dirinya setelah Chaby lulus SMA. Dia akan memaksa Chaby melanjutkan kuliahnya di Inggris bersama dia.
Dua hari ini adalah waktu yang paling sulit bagi Decklan karena ia harus berpikir keras dengan keputusannya bahkan tidak bicara sedikit pun dengan gadisnya. Cowok itu sengaja mematikan ponselnya dan menyuruh adiknya juga kedua sahabatnya memberi alasan ke apa saja ke Chaby kalau dia sedang sibuk. Setelah mengurus semuanya, Decklan cepat-cepat datang ke apartemen Chaby. Ia sudah kangen berat sama gadis itu. Ingin memeluk dan menciumnya, juga menjelaskan kenapa dengan dirinya beberapa hari terakhir ini. Ia akan menceritakan semuanya pada Chaby. Namun, ketika masuk apartemen tidak ada siapa-siapa. Chaby tidak ada, ruang luar dan kamarnya kosong. Danzel yang di telponnya tadi pun bilang kalau Chaby hanya di apartemen sejak pulang sekolah, tidak kemana-mana. Lagipula kalau gadis itu mau keluar jauh ia selalu bilang.
Decklan mulai panik. Walau tahu Chaby sudah pandai menghafal jalan ke manapun gadis itu mau pergi dan tidak penakut lagi, namun ia tetap menganggap kekasihnya itu masih sama seperti dulu. Ia takut ada yang coba-coba berbuat macam-macam pada Chaby. Nomor hp gadis itu juga tidak aktif-aktif. Decklan merasa ini salahnya, kalau saja ia tidak mematikan ponselnya Chaby pasti akan ngomong kemana dia pergi.
Cowok itu buru-buru keluar apartemen dan bertanya pada salah satu satpam. Ia langsung bernafas lega ketika mendengar sang satpam bilang lihat Chaby berjalan ke arah Indomaret. Cowok itu bergegas naik mobil ke Indomaret didepan sana. Ia senang ketika menemukan keberadaan gadis itu tapi...
__ADS_1
Chaby terlihat sedang bicara akrab dengan seorang cowok. Ia tidak pernah tahu Chaby punya teman cowok, rahang Decklan mengeras ketika melihat cowok itu membekap mulut Chaby dan tangan sebelah cowok itu melingkar di bahu sang pacar. Tanpa pikir panjang, cowok itu berlari ke arah mereka dan langsung meninju lelaki yang sedang duduk bersama Chaby itu dengan emosi yang membara. Sebelah tangannya yang lain meremas map yang dipegangnya kuat-kuat. Semua orang di dekat situ terutama Chaby berteriak kaget.
Chaby menutup mulutnya dan kaget ketika menyadari bahwa Decklan lah yang meninju Karrel. Astaga.