
Andra bangkit dari kursinya dan menarik Chaby berdiri, membawanya ke bagian yang agak jauh dari meja mereka lalu berbisik pelan ke gadis itu.
"Lo tuh dari kemaren-kemaren minta gue tabok ya. Katanya cakep, cakep dari mananya orang ompong gitu." bisik Andra gemas. Setelah dia pikir-pikir memang sih Chaby ini udah bikin dia rese dari kemaren-kemaren.
"Bener kok kak Andra, Dina itu cakep, baik juga lucu." balas Chaby dengan wajah polosnya.
"Iya. Lucu kalo ketawa karena keliatan gigi bolongnya." cerocos Andra sebal.
"Kak Andra mau kan kalo kita ngumpul aku ajakin Dina terus, biar kak Andra ada temennya gitu. " Andra tertawa keras.
"Lo pengen gue ceburin ke kolam ikan nggak?" kata cowok itu kemudian dengan nada mengancam. Chaby yang mendengar jadi merinding. Ketika matanya menangkap sosok Decklan yang baru datang, ia cepat-cepat berlari kecil ke cowok itu dan bergelayut manja di lengan kokoh sang pacar.
"Kak Decklan, kak Andra ngancem mau ceburin aku ke kolam renang." lapornya kemudian setelah mereka duduk. Andra mencibir dari belakang. Dasar tukang lapor. Cowok itu kembali duduk di kursinya di sebelah Decklan. Decklan menatap cowok itu sekilas, kemudian melirik Chaby dan tersenyum singkat sambil mengacak-acak rambut gadis itu. Ia tidak berniat memarahi Andra karena itu hanya bercandaan biasa. Chaby saja yang tukang lapor.
Pandangan Decklan berpindah ke cewek yang tengah duduk malu-malu di antara Chaby dan Pika. Ia tidak kenal, baru sekarang ia melihat cewek itu. Ah dia ingat. Chaby pernah bilang bakal ngajakin temannya buat di kenalin sama Andra, mungkin tuh cewek. Tak lama kemudian Chaby mengangkat suara dan memperkenalkan Dina ke tiga cowok itu. Mereka bersalaman dan Decklan menahan senyumnya saat menyadari bagian depan gigi cewek itu kosong alias ompong. Dia langsung mengerti kenapa sampai Andra mengancam ingin menceburkan Chaby. Pantas saja, pasti Andra kesal pada pacarnya itu. Namun senyum Decklan tak berlangsung lama ketika mengingat pembicaraan dengan sang papa di rumah sakit tadi. Cowok itu mendesah pelan.
Bara yang duduk berhadapan dengan cowok itu seperti menangkap sesuatu yang berbeda. Menurutnya Decklan tidak seperti biasanya. Pria itu terlihat banyak pikiran. Ia hanya tersenyum sesekali ketika ada pembicaraan yang lucu, dan akan kembali melamun.
"Din, kamu kalo weekend sibuk nggak?" tanya Chaby menatap Dina. Andra yang duduk di sebelah Decklan melemparkan tatapan tajam ke gadis itu namun sayang sekali, Chaby tidak melihat ke arahnya yang memberikan sinyal peringatan itu. Hanya Pika dan Bara yang mengerti dan merasa kasihan pada Andra namun juga merasa lucu melihat cowok itu yang seperti nggak berkutik karena ulah Chaby.
"Nggak sibuk-sibuk amat sih, biasanya aku di rumah aja. Kalo ada yang ngajak jalan baru aku keluar." jawab Dina seadanya. Chaby manggut-manggut. Ia ingin ngomong lagi tapi Pika langsung memotong ucapannya, membuatnya lupa mau ngomong apa tadi.
__ADS_1
"Habis ini kita jalan ke mana lagi?" tanya Pika menatap mereka semua bergantian.
"Pasar malam?" sahut Chaby. Sudah lama ia tidak ke pasar malam.
"Nggak!" Chaby mengerucutkan bibirnya ketika mendengar penolakan tegas Decklan.
"Kenapa?" tanyanya gadis itu.
"Masih ada tugas yang harus aku kerjain." jawab Decklan berusaha terlihat sebiasa mungkin. Hari ini cowok itu memang tidak ada mood sama sekali. Meski ia mencoba biasa saja, tetap saja ia merasa tidak ingin melakukan kegiatan lain dan langsung pulang ke rumah sekarang untuk menenangkan pikiran.
Pika dan Bara saling menatap. Pika juga merasa kakaknya sedikit berbeda hari ini. Ia tidak tahu ada apa.
"Hufft."
gadis itu membuang nafas panjang. Padahal kalau weekend begini kak Decklan selalu menghabiskan waktu dengannya hampir seharian. Apa kak Decklan capek? Atau lagi marah sama dia? Chaby membuyarkan lamunannya dan mencoba berpikir positif. Kak Decklan pasti capek karena terlalu banyak tugas.
***
Setelah sampai rumah dan masuk kamarnya, Decklan langsung membanting dirinya di atas kasur. Hari ini terasa begitu panjang dan otaknya sudah lelah berpikir. Tadi siang ia di panggil sang papa dan papanya memberikan surat pemberitahuan tentang dirinya yang mendapat tawaran pindah ke Cambridge university. Pihak kampus sudah memberikan surat pemberitahuan itu pada papanya tanpa melalui dia.
Benar kata Hugo, dia adalah mahasiswa yang terpilih dari kampus mereka. Sekarang perasaannya dilema. Papanya ingin dia menerima tawaran itu. Namun kalau dia menerimanya, dia akan segera pergi ke Inggris sebulan lagi. Bagaimana dengan Chaby? Ia tahu jelas tawaran itu sangat penting untuk karirnya ke depan, namun Chaby... Ia masih tidak rela tinggal jauh dari kekasihnya itu. Tapi perintah papanya tidak mungkin ia tolak begitu saja.
__ADS_1
"Argh!" Decklan mengerang kesal. Ia belum terpikir seperti apa jalan keluar yang akan dia ambil. Kalau membawa Chaby ikut dengannya, pasti Danzel tidak akan memberi ijin. Menikah? bocah itu masih sekolah. Dia harus menunggu setidaknya sampai Chaby lulus SMA dulu. Tapi masih ada setahun, sedang dirinya akan pergi sebulan lagi. Semua yang terjadi sekarang begitu mendadak, otaknya tidak mampu menerima. Decklan mengusap wajahnya gusar.
"Kak Decklan," suara Pika yang terdengar dari balik pintu membuyarkan lamunan Decklan.
"Masuk." ucap cowok itu. Sesaat kemudian Pika masuk dan duduk disisi ranjang dekat cowok itu yang kini telah duduk juga.
"Chaby tadi nelpon aku nanyain kakak, katanya kakak hari ini beda. Chaby juga nanya kalau kakak lagi marah sama dia, bilang aja salahnya apa biar dia tahu." Decklan menatap Pika sebentar lalu meringis pelan. Ia baru ingat sepanjang mereka jalan bareng tadi ia selalu cuek pada gadis itu.
"Gue cuman lagi banyak pikiran aja, nggak marah." gumamnya. Alis Pika terangkat, kak Decklan banyak pikiran? Tapi biasanya walah cowok itu banyak pikiran, kalau sudah ketemu Chaby moodnya akan berubah senang lagi. Tapi hari ini, kok jadinya cuek banget. Ia juga bisa liat tadi kalau kakaknya itu lebih banyak diam dan tidak terlalu menanggapi saat Chaby bicara panjang lebar padanya.
"Kakak ada masalah?" tanyanya hati-hati, mungkin saja cowok itu mau cerita sama dia.
Decklan mendesah pelan.
"Papa nyuruh gue terima tawaran kuliah ke Inggris."
Mata Pika sukses membulat lebar.
"Inggris? Jadi kak Decklan nerima?" tanyanya. Decklan menyamping melirik gadis itu.
"Gue bingung, lo tahu keputusan papa nggak bisa di tolak begitu aja. Gue juga nggak mau papa jadi nggak seneng sama Chaby kalo gue nolak dengan alasan nggak mau jauh dari dia."
__ADS_1