GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 90


__ADS_3

Setelah mengisi hadiah yang dibelinya bersama Pika di mall tadi dalam ranselnya, Chaby bergegas keluar apartemen sambil menjinjing kue ulang tahun buat Decklan. Sekarang sudah sekitar jam sebelas malam. Kakaknya belum pulang tapi dia sudah ijin tadi. Katanya dia mau menginap di rumah Pika. Ia harus bohong karena kakaknya pasti akan melarang keras dirinya kalau ia bilang mau masuk diam-diam ke asrama cowok di kampusnya kak Decklan cuman buat ngasih surprise.


Andra sudah menunggunya di lobi apartemen itu. Pika tidak ikut lagi karena memang dia tidak punya kepentingan apapun. Ia hanya membantu Chaby saja mencari ide tadi siang. Malam ini yang giliran membantu gadis itu adalah kak Andra dan Hugo.


"Lo lama banget sih, ngantuk nih gue." omel Andra ketika melihat Chaby yang akhirnya muncul. Ia sudah capek berdiri karena menunggu gadis itu.


"Ya maaf, kan aku harus periksa semua bawaan aku dulu." balas Chaby. Andra langsung menarik tangannya keluar. Kalau ngomong terus nanti kelamaan. Mereka berjalan ke tempat mobil Andra diparkir.


Jarak antara apartemen Chaby dan kampus tidak jauh-jauh amat juga tidak dekat-dekat banget. Waktu yang mereka tempuh sekitar dua puluh menit. Andra membawa Chaby masuk lewat jalan belakang yang ada pintunya. Ia dan Hugo sengaja meminjam diam-diam kunci pintu belakang itu tadi sore habis mereka dari mall, tentu saja gara-gara berjanji pada Chaby akan membantunya. Jam segini kampus memang sudah sepi dan gelap, tapi mereka harus tetap waspada. Bisa saja kan ada yang melihat mereka.


"Jalannya jangan terlalu cepet-cepet, jangan ada suara apapun, jangan nyalain senter hp dan nggak usah ngomong biar kita nggak ketahuan. Usaha kita sampai di asrama cowok masih panjang. Kalau lo nggak mau ketahuan, harus nurut ya Chaby." kata Andra panjang lebar. Chaby yang mendengar refleks memperlambat langkahnya. Ia berjalan selambat-lambat mungkin di belakang Andra yang sudah agak jauh darinya. Sementara Andra yang tidak merasakan gerakan Chaby berbalik. Gadis itu masih jauh disana dengan langkah yang sangat pelan. Andra berdecak pelan lalu berjalan mendekati gadis itu.


"Lo kok lama banget sih jalannya? Kalo jalannya kayak gitu, yang ada kita berdua sampainya besok pagi." ujar Andra gemas, suaranya sengaja dipelankan. Chaby itu menatap cowok itu.


"Kan tadi kak Andra bilang jangan jalan cepet-cepet, jangan ada suara apapun. Kalau aku jalannya cepet-cepet, suara langkah kaki aku bakalan kedengaran kak." tutur Chaby tak kalah pelannya. Andra menggeram pelan. Lama-lama ia kesal juga.


"Iya, tapi nggak selambat itu juga kan bocah." tangannya terangkat menjitak kepala Chaby pelan. Gadis itu ingin protes namun buru-buru dipotong Andra. Kalau mereka berdebat terus, bisa-bisa nggak sampai-sampai lagi.

__ADS_1


Saat mencapai pintu masuk asrama, Andra tersenyum senang karena sih penjaga pintu tidak ada, mungkin ke toilet. Mereka memakai kesempatan itu dan cepat-cepat masuk kedalam. Andra menarik tangan Chaby dan berlari kecil kedalam. Mereka cepat-cepat bersembunyi dilorong sempit dekat tangga ketika mendengar suara orang turun tangga.


Astaga, Andra merasa ia sedang berakting adegan yang membuat adrenalinnya meningkat. Ia baru menyesal setelah mengiyakan akan membantu Chaby tadi.


"Itu kak Hugo sama kak Decklan." bisik Chaby pelan, pada saat itu juga Decklan menghentikan langkahnya. Mata Andra melebar dan menarik Chaby ke belakangnya. Apa Decklan mendengar suara Chaby? tapi iya yakin bisikan Chaby tidak bisa terdengar sampai ditelinganya.


"Kenapa lan?" tanya Hugo. Ia berhasil membujuk Decklan menemaninya ke laboratorium mengambil barangnya yang ketinggalan, meski itu hanya alasan supaya Decklan keluar kamar. Tadi Andra mengirim pesan kalau mereka sudah masuk asrama. Pasti mereka lagi bersembunyi disekitar sini. Ia harus segera membawa Decklan pergi, biar Andra dan Chaby bisa mencapai kamar mereka dengan mulus.


"Lo denger suara nggak?" tanya Decklan. Hugo memasang tampang biasa.


"Gue denger ada yang bisik-bisik."


"Oh, kayaknya lo salah denger."


"Kalian mau kemana?" seorang lelaki tua berbadan gempal sudah berdiri didepan Decklan dan Hugo dengan tatapan penuh tanya. Lelaki itu adalah penjaga pintu asrama mereka.


"Mau ke laboratorium pak, mau ambil barang saya yang ketinggalan." jawab Hugo.

__ADS_1


"Oh ya sudah, jangan lama-lama." kata lelaki itu lagi lalu balik kedepan, ke kursi jaganya didepan sana.


Decklan akhirnya ikut berjalan keluar meski masih penasaran dengan bisikan yang dia dengar tadi. Apa cuma perasaannya?


Andra dan Chaby bernafas lega. Andra tertawa, malam ini akan menjadi malam yang sangat panjang. Hal tergila yang pertama kalinya dia lakukan di kampus ini. Matanya melirik-lirik sih penjaga asrama itu dari balik tembok. Setelah melihat lelaki itu duduk membelakangi mereka, ia langsung beraksi menarik Chaby lagi naik tangga.


"Hufft.." Andra menghembuskan nafas lega saat mereka berhasil masuk dalam kamar. Ia duduk di tempat tidur lalu menaikkan pandangannya menatap Chaby.


"Kak Andra capek?" Andra menghembuskan nafas jengah. Pake nanya lagi. Bener, capek batin karena takut ketahuan. Ia lalu melihat dos kue yang dipegang Chaby sejak tadi kemudian mencari-cari tempat aman untuk menyembunyikannya. Sebelum ia mendapatkan ide dimana mau menaruh kue itu, suara Hugo sudah terdengar diluar sana. Kayaknya cowok itu sengaja berbicara kuat biar mereka bisa dengar suaranya sebagai tanda peringatan. Andra dan Chaby saling menatap gelagapan. Masih ada sekitar sepuluh menit baru jam dua belas. Tanpa pikir panjang ia langsung menarik Chaby dan memasukannya ke lemari.


"Lo sembunyi disini, ingat jangan bersuara." Chaby menganggukkan kepala. Meski ia tidak suka gelap-gelapan dalam lemari, ia tetap menahannya demi kak Decklan. Gadis itu terkikik, akhirnya rencananya untuk memberikan kak Decklan kejutan tinggal selangkah lagi dan berhasil.


"Lo berdua darimana?" tanya Andra basa-basi. Matanya kode-kodean sama Hugo. Decklan memicingkan mata menatap kedua cowok itu. Daritadi ia sudah melihat gelagat aneh keduanya. Andra yang tiba-tiba menghilang entah kemana, dan Hugo yang terus memaksanya menemani dia mengambil barangnya yang ketinggalan di lab namun ternyata barangnya nggak ada disana. Decklan menyimpulkan ada yang mereka sembunyikan, tingkah mereka terlalu aneh dan mencurigakan. Apalagi mata Andra selalu menatap ke lemari. Apa ada sesuatu di lemari? Apa yang mereka sembunyikan. Cowok itu lalu berjalan perlahan ke lemari. Dengan sekali sentak lemari itu terbuka dan seseorang yang ada didalam berteriak kencang karena kaget dengan lemari yang dibuka tiba-tiba. Decklan ikut kaget, namun lebih kagetnya lagi orang didalam itu adalah,


Chaby?


Decklan terbelalak. Ia sangat terkejut saat melihat Chaby keluar dari dalam lemari. Tangannya cepat-cepat menutup mulut gadis itu karena teriakannya. Bahaya kalau sampai ada yang dengar dan ketahuan.

__ADS_1


__ADS_2