
Happy reading🤗
Sudah berhari-hari ini Chaby berpikir keras. Ia tidak mau lagi menyusahkan siapapun karena dirinya yang terlalu lemah. Kelemahannya itu hanya merugikan banyak orang. Mungkin menghilang sebentar dari sisi orang-orang terdekatnya adalah jalan yang terbaik.
Tengah malam, ketika semua orang tertidur Chaby bangun dari tempat tidur. Ia berjalan ke arah kamar kak Galen dan membuka perlahan pintu itu, sangat pelan. Ia Mendekati pria yang kini tertidur dengan wajah lelahnya dan mengelus-elus pipinya lembut lalu mencium kening pria itu dan keluar.
Gadis itu lalu mengemasi beberapa barang berharganya.
Chaby sudah bertekad. Ia telah memikirkan semuanya matang-matang tadi siang. Ia tidak mau membebani orang-orang yang ia sayang dengan segala masalah yang ia timbulkan. Ia ingin belajar menjadi gadis yang kuat dan mandiri. Karena ia berpikir dengan menjadi kuat, ia bisa berdiri didepan Decklan. Sekalipun pria itu membencinya ia akan sanggup menerima kenyataan itu. Sekarang ia akan melarikan diri dulu. Tekadnya sudah bulat.
Chaby meletakan sebuah catatan kecil diatas meja belajarnya lalu keluar dari apartemen itu.
Paginya Bara kebingungan mencari-cari keberadaan Chaby. Ia ingin membawakan gadis itu sarapan namun sang pemilik kamar tidak ada. Ia memanggilnya berkali-kali dan mencari ke segala tempat namun tidak didapatinya gadis itu.
Pria itu menjadi panik. Ia sudah merasa ada yang berbeda dengan gadis itu kemarin. Pandangannya berhenti di meja belajar dalam kamar itu. Ia mendesah berat setelah membaca isi catatan itu. Astaga, ada apa lagi ini. Ia lalu berbalik cepat menuju kamar Galen.
"Bang."
Galen menoleh. Keadaannya masih terlihat kacau.
"Chaby..," perkataannya menggantung. Ia sungguh tidak tahu harus bagaimana. Ia benci keadaan seperti ini.
__ADS_1
Galen cepat-cepat bangkit dari lantai.
"Chaby kenapa?" tanyanya langsung.
"Dia pergi, ini catatan yang dia tinggalin." jawab Bara menyodorkan sebuah kertas di depan Galen.
Galen langsung berlari menuju kamar Chaby dan mencari-cari ke segala tempat seperti yang dilakukan Bara tadi. Setelah tidak menemukan gadis yang ia cari, pria itu menjatuhkan dirinya ke lantai. Kenapa ini bisa terjadi? Chaby pergi? Bagaimana keadaannya? Adiknya tidak pernah hidup sendirian di luar sana. Ia biasanya sangat manja. Bagaimana ia bisa hidup sendirian. Bagaimana ini. Bagaimana kalau...
Galen mengacak-acak rambutnya frustasi. Ini semua salahnya. Harusnya ia terus menemani Chaby. Ia terlalu sibuk dengan dirinya sampai lupa harus terus berada disisi adiknya. Pria itu melirik selembar kertas ditangannya yang di kasih Bara tadi kemudian mulai membaca.
"Kak Galen, Chaby bener-bener butuh waktu sendiri buat berpikir dan menenangkan diri. Kepergian kak Danzel dan Pika yang koma membuat Chaby makin merasa bersalah. Bagaimana kalau kak Decklan membenci Chaby? Nggak mau ngomong sama Chaby lagi? Gimana kalau Pika...
Saat memikirkan semua itu Chaby jadi takut. Chaby takut menemui kak Decklan sama keluarganya. Mungkin menghindar lebih baik. Kak Galen gak perlu khawatir, Chaby janji akan balik lagi setelah benar-benar siap menerima semuanya. Beri Chaby waktu."
BRAAAK !!!
***
Berkali-kali Decklan menelpon Chaby tapi ponsel gadis itu tidak pernah aktif. Ia sudah disibukkan dengan urusan Pika seminggu ini dan tak pernah kemana-mana. Dirinya juga belum siap masuk sekolah. Belum siap bertemu orang-orang asing dan teman-teman sekelasnya yang mungkin akan menatapnya dengan tatapan kasihan. Ia tidak mau.
Frustasi karena tidak tahu kapan Pika akan bangun, mamanya yang jatuh sakit, belum lagi masih ada Gatan adik laki-lakinya yang harus dia urus. Semua itu membuatnya merasa kelelahan. Ditengah-tengah semua masalah yang dihadapinya ia tidak lupa pada kekasihnya.
__ADS_1
Memang sudah seminggu ini ia tidak menghubungi Chaby karena semua urusannya di tambah dengan perkataan Andra yang selalu bilang bahwa gadis itu baik-baik saja di temani kakaknya.
Namun entah kenapa semakin lama ia semakin merasa Andra seperti sedang menyembunyikan sesuatu darinya. Tiap kali ia menanyakan Chaby, cowok itu langsung menjawab dengan alasan pacarnya itu masih tidak mau keluarlah, lagi sama kakaknya lah atau apalah yang bagi Decklan tidak masuk akal. Chaby sangat dekat dengan Pika dan selama mereka berhubungan, gadis itu juga sangat bergantung padanya. Kenapa gadis itu malah tidak menjenguk Pika sekali saja dan hpnya tidak pernah aktif.
Apa gadis itu berpikir dia akan marah karena penyebab kecelakaan Pika adalah ulah mamanya? Tidak, ia tidak akan pernah menyalahkannya. Gadis itu tidak salah apa-apa. Yang harus disalahkan adalah wanita yang melahirkannya itu. Atau jangan-jangan Chaby sudah dibawa pergi oleh wanita itu?
Decklan mulai berpikir keras. Setelah ia pikir-pikir, Bara juga jarang sekali terlihat datang ke rumah sakit dan hanya muncul sesekali. Biasanya cowok itu selalu bersama mereka.
Pikiran Decklan mulai merambat kemana-mana. Ia makin tidak tenang. Ia mengambil ponselnya dan menghubungi Chaby lagi. Nomornya masih tetap tidak aktif-aktif juga. Decklan mulai curiga. Ketika melihat Andra masuk kamar itu ia langsung menarik kerah pria itu membuat Andra tersentak. Decklan menatap cowok itu lekat-lekat.
"Katakan yang sebenarnya, di mana Chaby?" gumam Decklan dengan suara yang sangat rendah, sangat dingin, dan sangat serius. Keheningan yang menyusul terasa sangat mencekam sementara.
Andra menelan ludah menatapnya. Ia sudah menduga pria itu cepat atau lambat akan merasa curiga.
Decklan terus menatapnya dengan wajah menuntut ingin tahu. Andra mencoba melepaskan diri dari cengkeraman pria itu. Ia rasa ia sudah tidak bisa berbohong lagi.
Setelah itu Andra mulai menceritakan semuanya.
Dalam sekejap darah yang mengalir dalam tubuh Decklan seolah-olah membeku. Danzel meninggal? Ia sangat terpukul.
Tanpa berpikir lagi, ia kembali mencengkeram kerah kemeja Andra, lalu meninju wajahnya. Begitu Andra tersungkur ke lantai, Decklan langsung menariknya berdiri lagi dan mendorongnya dengan kasar ke dinding, tangannya yang kuat menjepit leher Andra.
__ADS_1
Saat itu Decklan benar-benar kalap, tidak bisa berpikir jernih. Andra membuatnya sangat marah karena menutupi semua darinya. Yang dirasakannya sekarang hanyalah amarah yang begitu besar yang belum pernah dirasakannya selama ini. Amarah hebat yang membuatnya ingin menuntut darah.
Kenapa mereka harus menutupi semua kejadian itu darinya?