
Pika yang hampir tertidur, Bara dan Andra yang menikmati kehangatan didepan api unggun itu terkesiap kaget mendengar teriakan Chaby. Ketiganya langsung berlari cepat masuk ke tenda.
Hanya mereka yang berani karena yang lain tidak punya hubungan sedekat itu dengan kelompok Decklan, mana bisa mereka seenaknya masuk tenda begitu. Mereka hanya berbincang diluar dengan penasaran.
"Chaby, Chaby, kenapa?" tanya Pika dengan wajah khawatir. Bara dan Andra sudah berdiri dibelakangnya dengan ekspresi yang sama.
Mereka tertegun melihat Decklan yang tertawa lebar dan Chaby yang terus mencubit-cubit cowok itu dengan wajah sebal.
Pika memutar bola matanya malas.
Astaga, dia pikir ada apa. Kayaknya sahabat dan kakaknya itu lagi becanda. Pasti di jahilin kak Decklan lagi.
"Pikaaa..." Chaby berdiri memeluk Pika saat melihat gadis itu masuk ke tenda. Tenda itu cukup besar dan tinggi jadi mereka tidak gerah berada didalam, apalagi tempat camp itu suasananya memang dingin.
"Kak Decklan bilang aku sakit jiwa." lapornya menatap Decklan sebal.
Ketiga makhluk yang baru masuk itu menatap Chaby dan Decklan terheran-heran. Kok malah jadi sakit jiwa sih.
Decklan menatap Chaby masih dengan senyuman yang jarang sekali terlihat itu. Hanya bersama Chaby, mereka akan melihat cowok itu menjadi murah senyum. Jadi kalau mau melihat senyum lebar seorang Decklan, harus ada Chaby disampingnya.
"Sekarang jawab aku." ujar Decklan terus menatap Chaby. Chaby balas menatap cowok itu.
"Yang tadi suruh aku periksa sama kasih obat sakit jiwa siapa?"
"Aku." sahut Chaby cepat.
"Jadi yang bilang kamu sakit jiwa siapa?
"Aku juga."
__ADS_1
"Tuhkan, kamu sendiri yang bilang kamu sakit jiwa, aku cuma bilang mau kasih obat sakit jiwa buat kamu kok, nggak bilang kamu sakit jiwa." balas Decklan lagi dengan senyum kemenangan.
Chaby langsung membuang dirinya ke lantai, mengambek sambil membanting-banting kakinya seperti anak kecil. Ia merasa tidak terima, memang dirinya sendiri yang memulai, tapi kak Decklan juga sengaja ngeledekin dia, padahal dia sudah lupa.
Decklan masih tertawa menatap Chaby. Sementara Bara, Andra dan Pika hanya melongo tidak percaya. Dasar pasangan yang aneh. Mereka merasa sia-sia sudah masuk tadi. Dipikir ada apa-apa. Pika lalu mengangkat Chaby.
"Chaby, berdiri cepet. Lo nggak malu apa dibilang kayak anak kecil, udah besar juga." omelnya. Mau tak mau Chaby berdiri dengan setengah hati. Ia membuang muka saat melihat Decklan yang masih terus menatapnya senyum-senyum sambil memainkan mata. Jarak mereka hanya dekat.
"Ceritain, di kolam tadi lo kenapa? Kok jadi aneh gitu? Lo liat hantu?" tanya Pika langsung. Andra menggeleng-geleng mendengarnya. Masih saja perkara hantu. Meski begitu, ia juga penasaran dengan Chaby tadi jadi ia ingin mendengar jawabannya.
Chaby menatap mereka semua satu persatu. Senyum Decklan memudar. Ia masih menatap Chaby tapi kali ini dirinya berubah serius, pertanyaan Pika bisa membuat gadis itu kembali mengingat traumanya dan ia tidak suka. Namun di satu sisi Pika tidak tahu, dan pertanyaan itu adalah hal yang wajar sebagai orang yang dekat dengan Chaby. Ia tidak bisa menyalahkan Pika yang bertanya begitu.
Chaby masih berpikir sebentar, Decklan terus berhati-hati berharap Chaby tidak teringat mamanya yang bisa kembali mempengaruhi pikirannya nanti. Sudah susah payah cowok itu membujuknya tadi.
"Hantu?" Chaby mengulang kata yang diucapkan Pika tadi. Pika mengangguk. Jangan-jangan benar lagi yang ia pikirkan. Pika sudah sangat ingin mendengar jawaban Chaby tapi kakaknya malah berdiri dan mengubah topik.
"Udah malam, kalian harus tidur." ujar Decklan mengalihkan topik. Ia menarik lengan Chaby pelan, membantunya memakaikan sleeping bag dan menyuruhnya berbaring diatas matras. Setelah itu pandangannya berpindah ke Pika.
"Jangan bahas pertanyaan tadi lagi sama Chaby." bisiknya pelan.
Chaby menatap mereka dengan aneh dari bawah.
"Pasti lagi ngatain aku sakit jiwa yah?" serunya dari bawah dengan wajah cemberut, sontak mengundang tawa keempat orang yang masih berada dalam tenda itu. Apalagi melihat Chaby yang begitu menggemaskan didalam sleeping bag berwarna pink tua itu.
"Tuhkan, semuanya pada setuju rame-rame." tambahnya karena melihat mereka semua malah menertawainya. Decklan lalu membungkukkan badan dan berlutut didepannya, mencubit pipinya pelan dan berbicara.
"Kamu nggak sakit jiwa sayang, aku yang sakit jiwa karena kamu." gumamnya pelan lalu mengecup kening Chaby yang mengerjap-ngerjap heran padanya dan berbalik keluar.
Bara dan Andra hanya tersenyum geli mengikuti Decklan keluar.
__ADS_1
Pika? cewek itu sampai sekarang masih tidak habis pikir melihat kakaknya yang bisa berubah drastis didepan Chaby. Chaby memang patut dikasih jempol sepuluh karena bisa membuat kakaknya itu tergila-gila begitu.
Gadis itu ikut memakai sleeping bag miliknya sambil memikirkan perkataan yang dibisikkan kakaknya tadi. Kenapa tidak boleh mengungkit hal itu? Apakah ada sesuatu yang serius sama kejadian tadi? Tapi melihat keadaan Chaby yang sudah biasa saja sepertinya kejadian tadi tidak serius. Pika merasa bingung. Dia akan bertanya besok saja pada kak Decklan.
"Pika,"
Pika melirik Chaby. Ia sudah berbaring di sebelah gadis itu.
"Kenapa?" tanyanya.
Chaby menatapnya cukup lama lalu tersenyum lebar.
"Nggak jadi, hehe." ingin sekali Pika menjitak kepala cewek itu. Dasar aneh.
"Udah cepetan tidur." semprotnya galak.
***
Bara dan Andra mengikuti Decklan. Mereka sudah masuk ke tenda mereka. Keduanya menatap Decklan masih ingin seolah ingin bertanya tentang Chaby. Decklan balik menatap keduanya.
"Katanya dia liat mamanya dalam air mau dorong dia." jelas cowok itu, raut wajahnya serius. Ia merasa harus membawa Chaby ke psikiater, ia tidak mau trauma gadis itu makin serius. Ia ingin membantu Chaby keluar dari ingatan masa lalunya yang buruk. Dan sebagai pasangannya, Decklan harus terus mendampingi gadis itu.
Bara terlihat berpikir mengingat-ingat. Akhir-akhir ini ia rajin berbincang-bincang dengan Galen. Selain masalah bisnis, Bara juga terkadang menanyakan tentang Chaby. Yah, karena penasaran tentang masa lalunya yang masih buram di mata Bara. Kenapa mama Chaby sangat membenci gadis itu bahkan tidak segan-segan menyakitinya, padahal Chaby anak kandungnya sendiri.
Galen banyak bercerita ke Bara. Bahkan sampai hal-hal apa saja yang bisa memicu traumanya. Kolam? Bara tiba-tiba teringat sesuatu. Galen pernah bilang kalau Chaby jangan sampai duduk menatap kedalam air. Ia lalu menatap Decklan.
"Chaby duduk menghadap kolam?" tanyanya.
Andra mengangguk mengiyakan, sedang Decklan mengerutkan keningnya menatap Bara.
__ADS_1
"Galen cerita waktu kecil Chaby pernah mau ditenggelemin sama mamanya dengan posisi seperti itu. Mungkin itu yang memancingnya teringat masa lalu buruk yang memicu traumanya." Bara menjelaskan. Decklan berdecak kesal, mamanya Chaby memang sudah gila.