GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 52


__ADS_3

Bara melempar kunci mobilnya ke sembarang arah dan duduk dengan kasar ke sofa. Ia mengusap wajahnya kasar. Pengaruh alkoholnya sudah menghilang hampir seratus persen. Namun kepalanya masih agak pusing. Ia merasa pening.


Pria itu mengingat kejadian tadi yang dia lakukan ke Pika. Ya Tuhan, apa yang sudah dia lakukan. Hampir saja ia merusak gadis yang dia cintai. Bara marah pada dirinya sendiri, tapi di saat yang sama ia merasa tidak berdaya. Ia benar-benar hampir kelepasan. Untung saja kesadarannya datang sebelum mereka melangkah terlalu jauh.


Bara memijit pelipisnya. Ia sudah merasa sangat lelah seharian ini. Di tambah lagi dengan hubungannya dan Pika yang bersitegang, ia merasa stres. Ia sengaja memblokir nomor Pika karena begitu sakit hati. Ia tahu itu bukanlah sikap yang dewasa tapi ia tetap melakukannya, seolah ingin Pika merasakan kekecewaan yang sama dengan apa yang dia rasakan.


Tiga hari tidak melihat gadis itu, mendengar suaranya dan mendengar keluhannya, Bara menjadi rindu. Ia amat merindukan Pika. Ia ingin kerumah gadis itu untuk menemuinya, tapi egonya terlalu tinggi. Bayangan Pika berciuman dengan pria lain masih teringat jelas dalam benaknya. Akhirnya Bara berakhir minum-minum sendirian di club. Ia tidak pernah menyangka ketika pulang ke rumah, gadis yang terus ada dalam pikirannya beberapa hari ini akan berada dalam dikamarnya.


Karena masih dalam pengaruh mabuk, ia malah menggunakan bahasa kasar yang menyakiti perasaan Pika. Bahkan hampir menidurinya. Bara menyesal, sangat menyesal. Ia memang sempat berpikir untuk putus karena merasa mereka tidak cocok lagi, tapi ketika melihat wajah gadis itu, ia tidak sanggup untuk meninggalkannya. Bara sadar sepenuhnya kalau dirinya masih amat mencintai Pika. Bara mengusap wajahnya sekali lagi dan bersandar di sofa, ia telah yakin dengan apa yang akan dia katakan pada Pika besok.


\*\*\*


Kira-kira pukul delapan pagi, Bara sudah berada di rumah Pika untuk menjemputnya. Pria itu minta ijin ke tante Lily untuk membawa gadis itu keluar. Keduanya bolos kerja hari ini. Tante Lily sendiri setuju-setuju saja. Perempuan tua itu memang sempat melihat sang putri tidak bersemangat akhir-akhir ini. Jadi dia berpikir pasangan itu pasti bertengkar dan sekarang mungkin sedang berusaha menyelesaikan masalah mereka.


Sepanjang perjalanan yang entah dirinya mau dibawa kemana oleh Bara itu, Pika hanya memilih diam. Tangannya saling meremas satu sama lain. Keringat lembut membasahi tangan lembutnya. Pika tidak tenang dan hal yang dilakukannya saat ini pun tidak banyak memperbaiki suasana hatinya.


Bagaimana bisa ia tenang kalau kata putus terus terbayang dalam benaknya? Bagaimana bisa ia tenang kalau wajah dingin Bara yang hampir pasti akan mengakhiri hubungan mereka terus terbayang dalam pikirannya? Tidak, Pika tidak bisa tenang. Rasa sedih jelas mendominasi apa yang dia rasakan saat ini.


Seandainya saja waktu bisa diputar kembali, Pika tidak akan pergi ke bar malam itu dan mencium laki-laki asing itu sembarangan. Tapi waktu memang tidak bisa diputar, dan Pika tidak bisa berhenti menyalahkan dirinya sendiri.


"Kita sudah sampai." perkataan Bara membuyarkan lamunan Pika. Sikap pria itu tidak sedingin semalam. Malah terkesan lembut. Tapi tetap saja tidak membuat Pika merasa membaik, malah makin membuatnya semakin gelisah.

__ADS_1


Pandangan Pika berhenti ke sebuah rumah minimalis namun terkesan mewah didepan sana. Keningnya berkerut, dimana ini? Rumah siapa?


"Ayo turun," ia tidak menyadari Bara sudah berada diluar dan membukakan pintu mobil itu untuknya.


"Ini rumah siapa?" tanya Pika ketika berjalan mengikuti Bara. Pria itu diam saja belum bicara sepatahkatapun. Tangannya sibuk membuka pintu rumah. Bara menyuruh Pika masuk dan mereka duduk di sofa ruang tengah. Pika masih penasaran rumah siapa ini, pasalnya tidak ada satupun penghuni di rumah ini ketika mereka masuk.


Tiba-tiba ia merasakan Bara menggenggam jemarinya, menatapnya dalam-dalam dan tersenyum lembut. Tidak ada lagi tatapan dingin yang membuat Pika merasa begitu sedih.


"Kalau aku mengatakan aku ingin menikah denganmu, bagaimana pendapatmu?"


Pika tertegun. Apa dia salah dengar? Katakan kalau dirinya tidak salah dengar. Ini bukan mimpi kan? Tatapan Bara memancarkan cinta dan kasih sayang. Dan Pika tidak sanggup menahan airmatanya.


"K..kak Bara nggak mau putusin aku? Aku sadar aku udah ngelakuin kesalahan besar, pantes diputusin. Masih banyak perempuan yang jauh lebih baik dari aku, aku ..."


"Ssttt..." Bara menyentuh mulut Pika dengan telunjuknya. Membuat gadis itu berhenti bicara.


"Jangan ingat-ingat itu lagi. Aku memang marah dan kecewa berat, tapi rasa cinta aku sama kamu jauh lebih besar. Tiga hari ini aku berpikir sangat keras tentang hubungan kita. Dan semalam aku baru sadar, ternyata aku nggak bisa kehilangan kamu. Aku juga sadar kalau kita berdua sama-sama salah. Kedepannya, aku dan kamu harus lebih saling terbuka. Kamu mau kan?" ujar Bara mengelus-elus pipi Pika penuh kasih sayang. Gadis itu mengangguk dan mereka berpelukan.


"Kamu belum jawab pertanyaan aku." gumam Bara pelan. Pika mengangkat wajah menatapnya. Ia masih sesenggukan.


"Pertanyaan?"

__ADS_1


"Nikah sama aku, secepatnya. Maukan?" Pika tersenyum senang dan langsung mengangguk tanpa lama-lama berpikir. Lalu ia teringat sesuatu,


"Tapi mamanya kak Bara..." gumamnya tiba-tiba mengingat kondisi kesehatan mama sang kekasih. Bara menghela nafas.


"Kata dokter keadaan mama mulai membaik. Kalau sebulan lagi, pasti mama bisa hadir di acara pernikahan kita."


"Sebulan lagi?!" Pika melotot menghadap Bara. Ia tidak menyangka secepat itu akan menikah.


"Kenapa buru-buru kak Bara?" tanyanya. Ia pikir waktu tercepat mereka akan menikah setelah Bara melamarnya adalah tiga bulan. Dia juga kan butuh persiapan.


"Aku takut setelah semalam melakukan itu padamu, aku tidak bisa tahan lagi untuk menghamilimu. Kamu tahu maksudku bukan?" bisik Bara pelan ditelinga Pika. Tentu saja Pika langsung malu mengingat kejadian semalam. Walau mereka tidak melakukannya sejauh itu, tetap saja ia sudah telanj*ng didepan pria itu dan tangan Bara sudah... Ah Pika malu sekali mengingat kejadian semalam. Ia cepat-cepat menyembunyikan wajah malunya di dada bidang Bara. Sedang Bara hanya tertawa kecil mengacak-acak rambutnya. Ia merasa lega mereka sudah baikan.


"Oh ya, aku masih penasaran. Sebenarnya ini rumah siapa?" dari tadi Pika memang penasaran rumah siapa yang mereka masuki ini.


"Rumah ini milik kita berdua. Aku membelinya untuk keluarga kecil kita nanti."


Mulut Pika sukses menganga lebar.


"Sejak kapan kak Bara beli rumah ini?"


"Mm, kalau tidak salah empat bulan yang lalu." Pika terdiam sebentar sambil menutup mulutnya seolah masih tidak percaya. Kemudian mencium wajah Bara bertubi-tubi menyalurkan segala rahasia bahagianya. Ternyata rasa galaunya dari semalam yang berpikir kekasihnya itu akan mengakhiri hubungan mereka sia-sia belaka. Bara malah melamarnya. Meski belum ada cincin yang tersemat dijarinya, ia tetap senang. Hatinya sangat lega.

__ADS_1


__ADS_2