
Di rumah, sudah ada Bara dan Pika yang duduk berhadapan dengan kedua orang tua Decklan dan Pika tentu saja. Decklan sempat bertanya-tanya tadi kenapa papanya yang gila kerja itu hari ini tidak masuk kerja. Namun ia langsung menyadari rupanya pria tua itu ada pertemuan penting dirumahnya dengan calon menantu mereka yang lain.
Setelah dengar cerita dari Chaby tadi, Decklan sudah bisa menebak apa yang sedang dibicarakan oleh kedua orangtuanya, adiknya dan sahabatnya.
"Decklan, Chaby ayo ke sini." seru tante Lily terlihat bersemangat.
"Pika sama Bara bakal nikah nggak lama lagi!" tambah wanita tua itu antusias. Pika hanya menunduk malu-malu. Jemarinya digenggam erat oleh Bara yang duduk disampingnya.
"Kapan?" Decklan bertanya.
"Minggu depan." Bara yang menjawab. Decklan tampak kaget. Bukan karena merasa keberatan. Hanya lumayan terkejut saja.
"Kenapa secepat itu?" tanya Decklan lagi.
"Kak Decklan kok nanya gitu? Dulu kan waktu kak Decklan maksa nikah sama aku, kita nikahnya cepat juga." cicit Chaby. Decklan langsung melemparkan tatapan tajam ke istrinya.
"Jadi kamu terpaksa nikah sama aku?" semburnya dongkol. Chaby menyengir.
__ADS_1
"Bukan kayak gitu kak Decklan, aku salah ngomong." balas Chaby terus tersenyum lebar ke suaminya.
"Udah, udah. Kenapa malah kalian berdua yang pada ribut sih. Pokoknya mulai hari ini kita akan fokus bantu Pika dan Bara mengurus pernikahan mereka. Decklan, kamu sama Andra bantuin semua kebutuhan pernikahan calon pengantin laki-laki, Chaby, kamu sama mama bantuin Pika." ujar tante Lily. Chaby langsung mengangguk semangat.
"Bara, om denger kamu udah siapin rumah buat kalian berdua tinggali." kali ini papa mereka yang angkat suara. Ia sempat mendengar cerita itu dari istrinya, dan istrinya dengar dari Pika.
Bara mengangguk. Bukannya tidak suka tinggal dengan orangtua atau mertuanya, ia hanya ingin punya tempat tinggal sendiri buat keluarga barunya. Mereka bisa berkunjung ke rumah orangtua masing-masing kalau ada waktu.
"Itu bagus. Tapi kalau kalian sudah menikah nanti, luangkan waktu sesekali nginap di rumah orangtua." kata lelaki tua itu lagi.
"Baik om." angguk Bara.
***
Didalam kamar, Decklan masih ngambek sama Chaby. Lelaki itu terus diam sejak tadi. Ia masih kesal karena ucapan Chaby di luar tadi. Chaby sendiri kebingungan. Sudah berbagai cara ia lakukan untuk membujuk suaminya. Sayangnya tidak ada satupun yang berhasil. Laki-laki itu tetap ngambek.
Chaby memutar otaknya. Kira-kira apa yang harus dia lakukan untuk membuat suaminya tidak ngambek lagi? Lalu ia mulai memikirkan sesuatu yang mesum. Kak Decklan memang sangat mesum ketika mereka sedang berduaan. Mungkin saja pria itu akan berhenti ngambek kalau dia mencoba memuaskan suaminya.
__ADS_1
Lalu tanpa aba-aba Chaby duduk disebelah Decklan dan tangannya tanpa ijin membuka resleting celana pria itu dan mulai membelai milik Decklan yang besar. Secara otomatis Decklan mengerang panjang karena merasa jari-jari Chaby bermain-main di sana dengan begitu lincah. Membangkitkan gairahnya.
"Ah... C..Chaby..." desah Decklan tak tertahan. Ponsel ditangannya terlepas begitu saja. Chaby tidak berhenti, tangannya terus bermain di sana. Decklan menatap istrinya dengan mata berkabut. Ia membiarkan gadis itu memimpin permainan kali ini. Ia sampai lupa kalau dirinya masih ngambek perihal perkataan gadis itu diruang tamu tadi. Yang dirasakannya saat ini terlalu nikmat. Jarang-jarang istrinya akan memanjakannya seperti ini. Mungkin dia harus sering-sering ngambek biar dapat pijit plus-plus dibagian yang paling dia suka.
"Ya... disitu..sayang..."
Chaby terus menggerakkan tangannya naik turun. Mengoc*k kejant*nan Decklan. Decklan mengerang panjang. Ia mau gila rasanya ketika Chaby berganti posisi berlutut didepannya dan mulai bermain dititik sensitif itu dengan mulutnya.
"Ya... Begitu..." Decklan begitu frustasi dan tidak berdaya. Seluruh kendali ada pada Chaby.
"Ohhh...." Decklan memejamkan matanya dan berteriak ketika akan mencapai pelepasannya. Dan saat cairan itu keluar, pria itu mendes*h panjang. Nafasnya terengah-engah.
"Gimana, kak Decklan masih mau ngambek lagi?" tanya Chaby menatap suaminya. Decklan tertawa, menarik Chaby duduk disampingnya dan merangkulnya erat.
"Kalau kamu pakai bujukan kayak gini sih, aku mau ngambek tiap hari. Biar tiap hari dimanjain terus kayak gini sama kamu." goda Decklan. Chaby memukul lengan suaminya.
"Kak Decklan ih," protesnya.
__ADS_1
"Mau lanjut nggak? Kali ini biar aku yang mimpin." tawar suaminya lagi.
"Nggak ah, nanti aja. Aku mau periksa Arion dulu." tolak Chaby lalu berdiri dari sofa dan melangkah keluar pintu. Decklan hanya bisa manyun. Menu paling utama tidak bisa ia cicipi malam ini.