GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 16


__ADS_3

Decklan yang tengah menggendong Arion itu melangkah mendekati tempat Chaby berdiri, di antara bunga-bunga. Ia tahu Chaby bekerja di situ untuk bantu-bantu wanita yang bernama Sharon katanya. Istrinya sendiri yang cerita tadi pagi sebelum berangkat kerja.


"Kau Sharon?" tanya Decklan melirik ke wanita yang berdiri di sebelah Chaby. Sharon menatap Chaby sebentar, kemudian mengangguk menatap Decklan. Pria itu lalu mengulurkan tangannya kedepan Sharon. Ia sangat berterimakasih pada wanita itu. Mungkin, kalau wanita itu tidak menemukan Chaby, Decklan tidak tahu lagi bagaimana kondisi istri dan putranya itu.


"Aku Decklan, suami Chaby. Aku sungguh tidak tahu bagaimana harus membalasmu, terimakasih sudah merawat istri dan anakku selama ini." katanya tulus. Ia memang sosok yang dingin, tapi akan menghangat pada orang-orang yang memperlakukan istrinya dengan sangat baik.


Sharon tersenyum dan melambai-lambai ke udara, merasa tidak enak.


"Tidak perlu, Chaby dan Arion sudah seperti keluargaku sendiri." balas Sharon. Malah dia sedikit merasa kehilangan karena Chaby dan Arion yang akan segera pindah ke rumah keluarga asli mereka lagi. Rumahnya akan kembali sepi seperti seperti dulu, waktu dirinya belum bertemu Chaby.


"Kalau ada yang kau butuhkan, bilang saja. Aku dan Chaby akan membantumu. Tapi jangan minta istriku tinggal di sini. Kau tahu kan sudah enam tahun aku tidak berhubungan dengannya. Aku harus berjuang lagi untuk memberi Arion seorang adik." ucap Decklan to the point sambil melirik nakal ke Chaby. Chaby sampai malu dan menepuk lengan pria itu. Sedang Sharon hanya tertawa. Ia mengerti maksud Decklan. Tidak mungkin juga Chaby dan suaminya itu tinggal terpisah. Mereka kan suami istri. Yang membuat Sharon bertanya-tanya adalah Chaby yang masih amnesia itu malah sudah kelihatan akrab lagi dengan suaminya. Tidak ada rasa canggung sama sekali. Padahal mereka baru ketemu. Arion juga.


Sesaat Sharon merasa iri. Seandainya ia punya seseorang yang sanggup menunggunya selama ini. Menjadi Chaby sangat enak. Punya kakak yang sangat menyayanginya, putra yang manis dan suami yang begitu setia menunggunya. Rasanya semuanya itu seperti mimpi. Sharon baru menemukan ada orang yang begitu dicintai banyak orang. Chaby sangat beruntung.


"Aku sudah bisa membawa istri dan anakku pergi sekarang?" pertanyaan itu menyadarkan Sharon. Wanita itu mengangguk ramah. Decklan lalu meraih tangan Chaby.


"Kak Sharon tenang aja, besok aku sama Arion datang lagi kok." ucap Chaby melambai ke Sharon, Lusi dan Tuti.


"Dada tante Shalon, tante Tuti, tante Lusi." seru Arion yang sudah keasyikan di gendong Decklan. Sharon dan yang lain balas melambai.


Mereka terus melihat kepergian keluarga kecil itu dengan tatapan iri.

__ADS_1


"Nggak nyangka, ternyata keluarga Sia kaya banget. Lihat saja mobil itu, mungkin harganya lebih mahal dari toko ini. Belum lagi wajah suaminya, sudah seperti artis saja. Ganteng abiss.." gumam Tuti masih tidak berhenti-berhenti terpesona. Lusi ikut mengiyakan. Sharon menggeleng-geleng. Mereka belum lihat saja tampangnya kakak Chaby seperti apa dan posisinya sebagai bos di perusahaan besar itu, bisa-bisa mereka pingsan nanti.


                                  ***


"Papa, katanya mau beliin Ali mainan?" tanya Arion. Bocah itu sekarang duduk di pangkuan Chaby karena Decklan harus menyetir. Decklan mengacak-acak rambut anaknya itu.


"Iya tenang aja, nanti papa beli segudang mainan buat Ari," janjinya, sampai Chaby melongo menatapnya.


Berbanding terbalik dengan Arion yang jadi semangat sekali.


"Yes! Ali bakal punya banyak mainaaan..." seru Arion berjoged-joged dipangkuan mamanya. Chaby sendiri terus melongo menatap Decklan dengan mulut terbuka. Decklan bisa lihat ekspresi sang istri dari sudut matanya. Ia terkekeh. Sebelah tangannya lalu terangkat menjepit mulut Chaby.


Chaby menyingkirkan tangan Decklan yang menjepit mulutnya.


"Emang punya uang buat beli mainan sebanyak itu? Kan pekerjaan dokter gajinya nggak tinggi-tinggi amat." Arion ikut menatap Decklan karena pertanyaan mamanya. Decklan tertawa kecil.


"Kamu mau bukti?" tanya Decklan.


"Kalau begitu beliin juga aku baju segudang, sama sepatu juga." balas Chaby langsung. Decklan yang tidak menyangka Chaby akan mengatakan kalimat itu menghentikan mobilnya sebentar dipinggir jalan. Ia menatap istrinya.


"Bilang aja kamu nggak rela cuma Ari yang aku beliin mainan." goda Decklan mencolek pipi Chaby. Dari dulukan sifat gadis itu memang begitu. Selalu tidak rela kalau ada orang yang dapat hadiah terus dia nggak. Tapi Arion ini anaknya sendiri, masa masih begitu sih.

__ADS_1


"Waktu tante Shalon mau beliin baju buat Ali sama mama aja, mama bilang halganya mesti sama, bial adil." lapor Arion. Decklan menatap kedua orang yang paling dia sayangi itu bergantian, lalu fokus ke Chaby.


"Kamu itu udah jadi mama sayang, apa salahnya sih ngalah sama anak sendiri." ucap Decklan mengusap seluruh wajah Chaby yang memerah. Ia menghembuskan nafas panjang.


"Ya udah, kita langsung ke mall aja." kata Decklan kemudian, bersiap-siap menggas mobilnya lagi. Ia mau memanjakan anak dan istrinya malam ini.


"Ngapain?" tanya Chaby. Arion ikut menatap papanya dengan mata hitam bulat itu. Decklan ingin tertawa melihat ekspresi lucu mama dan anak itu. Mata keduanya sama persis kalau menatap begitu.


"Ngapain lagi. Beliin Ari mainan dong!"


"Terus baju sama sepatu aku gimana?" Chaby tidak mau kalah. Sungguh Decklan ingin sekali mencium bibir istrinya itu sekarang juga, tapi ditahannya. Masih ada Arion di sini.


"Kamu bisa milih semuanya sesuka kamu deh."


"Ali juga bisa milih mainan kesukaan Ali dong?" Decklan mengangguk kuat.


"Yes!" seru Chaby dan Arion bersamaan.


kali ini Decklan tertawa keras melihat kekompakan anak dan mama itu. Ada-ada saja. Yang satu istrinya, yang satu lagi putranya, tapi mereka terlihat seperti anak sepermainan sekarang. Ia terus menggeleng-geleng.


Meski begitu Decklan tahu, Chaby memiliki sisi dewasa. Kalau tidak, tidak mungkin Arion bisa tumbuh sehat dan pintar begini. Peran aktif seorang ibu itu sangat penting, dan Decklan yakin Arion tumbuh seperti sekarang ini tak lepas dari peran Chaby sebagai seorang ibu. Meski terkadang gadis itu akan menunjukkan sifat kekanakannya, itu karena memang sudah pembawaannya sejak dulu. Decklan mencintai Chaby dengan tulus, karena itu semua kekurangan gadis itu ia bisa menerimanya.

__ADS_1


__ADS_2