GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
Bab 103


__ADS_3

Chaby dan Pika berjalan berdampingan memasuki gedung besar didepan mereka. Gedung yang akan menjadi tempat mereka menimbah ilmu beberapa tahun kedepan ini.


"Gila, bagus banget nih kampus. Kalo gini mah gue nggak nyesel nggak satu kampus sama kak Bara." seru Pika tak berhenti-berhenti menatap kagum kampus baru mereka. Chaby turut mengiyakan.


"Lo tahu nggak, gue denger nih kampus banyak artis terkenal. Katanya di jurusan lo itu ada pemain piano yang ganteeng banget. Wah, kita bisa cuci mata dong liat cowok yang bening-bening." tambah gadis itu lagi antusias. Berbeda dengan Chaby yang kini menatapnya aneh.


"Pik, kamu nggak takut kak Bara marah kalo kamu ngelirik cowok lain? Lagian kenapa harus lirik-lirik cowok lain? Kan kak Bara sama kak Decklan ganteng banget juga. Liat mereka aja sama kak Andra, emang belum cukup." tutur Chaby. Pika menatapnya malas. Nggak asik banget sih sahabatnya ini.


"Chaby, kita tuh harus nikmatin masa muda. Nggak ada salahnya kok kita kagum sama orang lain. Yang penting cinta lo nggak berpindah ke lain hati. Kita itu udah biasa liat wajah mereka, nggak ada salahnya liat-liat wajah baru kan." balas Pika. Chaby mengangguk-angguk saja masa bodoh.


"Heh, lo berdua! Jalan itu yang cepet, lelet banget kayak siput. Cepetan masuk aula!" seru salah satu senior cowok dengan tampang sangarnya. Kalo Chaby masih cewek yang penakut banget kayak dulu, mungkin dirinya sudah menangis dibentak gitu. Untung sekarang dia sudah terbiasa, jadi bentakan-bentakan seperti itu sudah tidak bisa membuatnya takut lagi. Hanya saja ia dan Pika malu karena banyak orang lain yang melihat mereka berdua di bentak begitu. Galak banget sih tuh senior.


"Kenapa bengong? Cepetan masuk!" bentak senior itu lagi membuat Chaby dan Pika mau nggak mau bergegas masuk. Hari ini mereka akan mengikuti masa orientasi kampus sekalian acara penyambutan mahasiswa baru. Paling-paling pulangnya kalo nggak kesorean pasti malam.


Sudah banyak orang dalam aula. Semuanya memakai pakaian yang diperintahkan senior sesuai jurusan masing-masing. Chaby dan Pika berpisah mencari  jurusan mereka. Mereka memang harus duduk sesuai jurusan kata senior didepan tadi. Setelah menunggu hampir sepuluh menit, beberapa senior muncul diatas panggung dengan gaya sok berkuasa mereka.


 


                               ***


London, Inggris


Decklan menghentikan kegiatannya sebentar dan melirik jam tangannya. Jam menunjukkan pukul tujuh pagi. Berarti di Jakarta sekarang sekitar jam satu siang. Kekasihnya lagi ngapain ya? Masih kuliah? Harusnya sih masih. Tapi tidak apa-apa mengganggu sebentar kan. Ia butuh semangat dari gadisnya untuk melakukan aktifitasnya yang padat hari ini. Decklan lalu mengambil ponsel di meja belajarnya dan menekan layar yang ada tulisan video call. Cukup lama ia menunggu sampai telponnya diangkat.

__ADS_1


"Kok lama angkatnya sayang?" tanyanya setelah wajah Chaby muncul di layar.


"Baru selesai ceramah kak Decklan." sahut Chaby diseberang.


"Oh, gimana kuliah perdananya?"


Decklan melihat Chaby mendesah pelan. Kening cowok itu berkerut.


"Nggak asyik, seniornya pada galak-galak semua. Udah gitu ceramahnya bikin ngantuk lagi. Kak Decklan dulu, waktu pertama kali kuliah ada ceramahnya juga? Kita bisa minta request nggak sama pembawa ceramah buat bawain cerita lawak aja? Biar nggak ngantuk gitu loh, juga anak-anak barunya gak pada tegang. "


"Pftt..hahaha.." tawa Decklan pecah. Otak pacar kesayangannya ini benar-benar membuatnya tercengang. Bisa yah dia mikir mau minta request cerita lucu sama pembawa ceramah. Memangnya ini acara radio.


"Mana ada yang kayak gitu sayang. Kalo ceramah itu kan mereka kasih edukasi sama kita. Misalnya, bahayanya penggunaan narkoba, **** bebas yang bisa merusak masa depan anak bangsa, dan masih banyak lagi." Chaby memutar matanya malas.


"Kamu tuh ya. Hobinya tidur, makan sama nonton aja. Giliran belajar, dengerin ceramah nggak mau." kata cowok itu. Chaby malah menyengir lebar.


"Kak Decklan nelpon jam segini pasti ada maunya kaan." ujar Chaby mengganti topik. Ia sudah tahu kak Decklan pasti mau nyuruh dia ngomong kata-kata manis. Udah biasa hampir setahun ini tiap kali mereka video call-an.


"Tuh kamu udah tahu. Ayo cepet, aku butuh banget semangat dari kamu hari ini."


"Mm," Chaby mengusap-usap dagunya berpikir. Ia bingung mau ngomong apa lagi.


"Mm.. kak Decklan yang ganteng, belajarnya yang rajin ya biar cepat kelar, terus langsung balik ke Jakarta dan nikahin aku. Aku sayang kak Decklan, muachhh." Chaby sengaja memberikan ciuman jarak jauhnya.

__ADS_1


Decklan terus menatap wajah pacar imutnya di layar itu tanpa berkedip sedikitpun. Jantungnya berdebar keras. Padahal sudah lama ia dan Chaby berpacaran. Kata orang, mereka pasti akan mengalami masa jenuh dengan pasangan mereka apalagi kalau sudah lama pacaran. Tapi Decklan sama sekali tidak merasakan hal itu. Rasa suka dan cintanya pada sang kekasih makin hari kian bertambah besar. Sungguh, kalau gadis itu terlalu imut seperti ini dirinya tidak sanggup lama-lama di negeri orang.


"Sayang..," gumam Decklan. Chaby terus menatapnya dengan senyuman lebar yang menambah kesan manis di wajahnya.


"Aku kangen bibir kamu." kata cowok itu parau sementara Chaby langsung menggigit bibir bawahnya dengan senyum malu-malu.


"Jangan digituin sayang. Aku makin gak nahan loh kalo kamu kayak gitu." goda Decklan lagi makin membuat Chaby malu.


"Kak Decklan ih." balas gadis itu salah tingkah.


Decklan tertawa. Gadisnya selalu mempesona. Ia sudah semangat lagi sekarang.


"Ya udah,  aku mau siap-siap ke kampus. Makasih udah kasih aku semangat sayangku, nanti aku telpon lagi yah muachh." cowok itu balik kasih kiss jauhnya yang penuh sayang ke Chaby lalu menutup telpon.


                                  ***


Jakarta, kampus Chaby


Chaby masih tidak berhenti-berhenti memegangi wajahnya yang terasa panas cuma karena kak Decklan bilang rindu sama bibirnya. Gadis itu berjalan hendak balik ke aula tanpa memperhatikan jalan. Matanya terus fokus ke ponsel.


Gadis itu berjalan turun tangga menuju aula di lantai satu. Tadi dia habis dari rooftop saat telponan sama Decklan. Tangannya sibuk membaca ulang pesan-pesan Decklan di ponselnya, sampai dia tidak lihat ada seseorang yang sedang berdiri diam di anak tangga itu dan malah menabraknya. Kalau cowok itu nggak cepet-cepet sadar dan meraih pinggangnya, bisa dipastikan sekarang Chaby sudah jatuh ke bawah. Untung ponselnya doang yang terbang, bukan orangnya. Chaby harus memuji cowok itu. Bisa-bisanya ia tidak ikut jatuh, padahal jelas-jelas Chaby menabraknya kuat. Bahkan sekarang dirinya yang malah di tolong sama tuh cowok.


Mata Chaby lalu mengikuti arah ke mana ponselnya jatuh. Ia sama sekali belum sadar badannya sudah menempel dengan seseorang didepannya yang posisinya memegang pinggang cewek itu. Sang pemilik wajah tampan itu terus memperhatikan gerak-geriknya.

__ADS_1


__ADS_2