
Setelah mengantar Decklan pergi didepan pintu keluar, Chaby berbalik masuk. Gadis itu tidak langsung ke kamarnya. Ia membuka pintu kamar Danzel perlahan. Sangat perlahan hingga kakaknya tidak sadar gadis itu sedang mengintipnya dari ambang pintu. Terlebih lagi lelaki itu duduk membelakanginya.
Danzel dan Chaby tidak pernah dipisahkan sejak kecil. Chaby selalu bergantung pada kakaknya itu. Namun, ia tidak menyangka akan bertemu Decklan dalam masa-masa dirinya bertumbuh dewasa. Decklan memberikan warna lain dalam hidupnya. Seolah memberinya kekuatan dalam mengatasi segala rasa takutnya dulu. Ia akui dirinya yang dulunya amat penakut itu perlahan-lahan berubah setelah bertemu Pika, kak Decklan dan yang lainnya. Dan ia sangat senang bisa kenal mereka. Namun bukan berarti ia tidak peduli lagi pada kakak kandungnya itu.
Danzel bukan hanya ia anggap sebagai kakak, tapi juga orangtua. Sosok orangtua kandungnya tidak pernah melakukan tugas mereka. Dulu waktu mama dan papa mereka selalu bertengkar, kak Danzellah yang tetap setia menemani dirinya. Memang dirinya akan sedih kalau hidup jauh dari mereka, tapi dia juga ingin bersama kak Decklan. Apa itu salah? Apa dia sudah menjadi adik yang durhaka pada kakak kandungnya sendiri?
"Chaby?"
panggilan Danzel membuyarkan lamunan Chaby. Matanya melebar karena merasa telah ketahuan mengintip sang kakak diam-diam. Gadis itu menyengir lebar pada sosok tampan didepan sana.
"Kenapa nggak masuk?" tanya Danzel lagi. Chaby cepat-cepat masuk ke dalam dan duduk di sebelah Danzel. Pria itu mencubit pelan pipi sang adik.
"Kamu ngintipin kakak, hm?" gemas Danzel. Chaby menyengir lebar.
"Kakak lagi mikirin permintaan kak Decklan tadi?"
pertanyaan itu membuat senyuman di wajah Danzel memudar. Ia mendesah pelan, cukup lama dirinya terdiam sampai ia merasakan jemari adiknya menelusup masuk ke dalam lengannya dan menyandarkan kepala dibahunya.
"Kalo kakak nggak setuju, aku bakal ngomong sama kak Decklan tunda aja dulu nikah sama aku."
kali ini senyum tipis terpampang di wajah tegas Danzel. Pria itu lalu menangkup wajah Chaby menghadapnya.
"Kamu udah siap belum nikah sama dia?" tanyanya.
__ADS_1
"Siap banget malah!" seru Chaby cepat.
"Tapi kalau kak Danzel nggak setuju, mau gimana lagi. Aku kan nggak bisa ngelawan orangtua." gadis itu sengaja mendesah panjang hingga sukses membuat Danzel tersenyum lebar.
Danzel percaya sama Decklan. Ia juga tahu kalau ia menolak, cowok itu akan mencari segala cara untuk memaksanya supaya setuju. Decklan bukanlah tipe cowok yang akan menyerah begitu saja. Dari pada menolak dan di kejar-kejar terus sama tuh cowok, lebih baik setuju saja.
"Pokoknya nanti kalau su.."
Drrtt...
Suara getaran dari ponsel Danzel membuat perkataan pria itu terhenti. Danzel merogoh ponsel dari saku celananya dan mengernyit bingung ketika melihat nama sih penelpon. Yang menelpon adalah pengacara papa mereka, Kim Ju wan. Kenapa pria itu menelpon tengah malam begini? Ia melirik arlojinya yang menunjukkan pukul dua belas lebih, berarti di Seoul sekitar pukul dua tengah malam. Seoul lebih cepat dua jam perbedaan waktunya dari Jakarta.
Danzel mengangkat telpon itu karena berpikir mungkin ada hal penting yang akan disampaikan sang pengacara. Sesekali matanya melirik Chaby.
"Siapa kak?" tanyanya setelah Danzel mengakhiri pembicaraan di telpon dengan orang yang entah siapa itu.
Danzel menatap adiknya cukup lama dan mendesah pelan.
"Chaby," gumamnya pelan. Chaby menatap pria itu lurus.
"Kayaknya pernikahan kamu dan Decklan harus di tunda dulu." kening Chaby berkerut. Ia ingin mendengar perkataan kak Danzel selanjutnya.
"Kita harus ke Seoul sekarang juga. Papa sebenarnya sedang sakit keras dan sekarang kondisinya memburuk. Ia sedang dirawat di rumah sakit. Kata pengacaranya, dia terus sebut-sebut nama kamu."
__ADS_1
Chaby tertegun, beberapa detik kemudian ia menangis dipelukan Danzel. Walau dulu papanya tidak pernah terlihat peduli padanya karena terlalu sibuk bekerja dan bertengkar dengan mama mereka, Chaby tetap menyayangi pria tua itu. Biar bagaimanapun itu adalah papa kandungnya. Danzel ikut sedih. Tangannya mengusap-usap punggung Chaby yang masih terisak. Mereka memang sudah melewati begitu banyak peristiwa yang menyakitkan karena orangtua mereka yang sangat tidak bertanggung jawab dulu. Namun, mereka tetaplah anak yang akan merasa sedih kalau terjadi sesuatu pada salah satu keluarga mereka. Mama mereka sekarang di penjara, Danzel tidak perlu takut karena wanita itu tidak bisa melukai Chaby lagi. Ia juga pernah menemui sang mama, meski wanita tua itu hanya memperlihatkan sifat angkuhnya, Danzel bisa merasakan bahwa ada penyesalan dalam mata mamanya. Alangkah bagusnya kalau mamanya sadar dan tidak menyalahkan Chaby lagi.
"Kamu mau kan ikut kakak ke Seoul?" tanya pria itu lembut. Chaby mengangguk. Seoul adalah tanah kelahirannya. Meski banyak peristiwa tidak menyenangkan yang pernah dialaminya dulu, ia juga kangen dengan negara itu.
"Masih ada keberangkatan terakhir malam ini. Kita harus segera bergegas." ucap Danzel lagi. Chaby mengangkat kepalanya dari dada Danzel,
"Nggak ngasih tahu kak Decklan dulu?" tanyanya.
"Kita bisa kasih tahu setelah sampai Seoul, Decklan pasti ngerti." kata sang kakak. Chaby masih terlihat berpikir lalu mengiyakan perkataan Danzel. Dua kakak beradik itu bergegas ke bandara. Mereka hanya membawa apa saja yang dibutuhkan seperti Visa, paspor, dan tanda pengenal tentu saja.
Galen baru mengetahui kedua orang itu sudah tidak di Indonesia keesokan harinya, ketika memasuki apartemen itu siang hari dan tidak mendapati keberadaan Danzel dan Chaby. Ia pikir Danzel sengaja meliburkan diri dari urusan kantornya, eh ternyata malah terbang ke Seoul.
Danzel sudah menjelaskan semua kepadanya. Jadi untuk sementara, pria itu yang akan menangani perusahaan.
Galen menatap ke pintu depan yang tiba-tiba terbuka dan menampilkan seorang cowok bertubuh jangkung dengan wajah khasnya yang dingin, yang kini melangkah cepat melewatinya sambil memanggil-manggil nama Chaby dan memeriksa seluruh ruangan apartemen itu.
Galen mendesah pelan. Ia sudah lupa kalau ada seseorang seperti Decklan di dunia ini yang seakan tidak bisa terpisahkan dari Chaby.
"Dimana Chaby?" tanya Decklan dengan nada rendahnya karena tidak menemukan keberadaan sang kekasih. Sejak pagi tadi ia terus menelpon Chaby tapi nomornya tidak aktif. Decklan masih berpikir biasa saja hingga siang ini ia kembali menelpon dan nomor Chaby masih tidak aktif-aktif juga, ia makin gelisah. Cowok itu segera datang ke apartemen itu, namun Chaby tidak ada. Apa Danzel sengaja membawa gadis itu kabur untuk menghindari pernikahan? Tapi Danzel tidak sepicik itu. Kalau tidak setuju, ia akan langsung bilang bukan main kabur-kabur begitu saja. Cowok itu mencoba bersikap tenang dan bertanya ke Galen yang kebetulan ada di tempat itu.
Ia menatap Galen duduk dengan sikap tenangnya. Tak lama kemudian Galen mulai menjelaskan. Decklan terkejut saat tahu gadis itu sudah pergi dari Indonesia.
Cowok itu tidak mengatakan sepatah katapun, hanya termenung ditempatnya. Ia merasa tidak berdaya. Alasan Chaby pergi adalah karena papa gadis itu, dan ia tidak bisa melakukan apa-apa. Bahkan memaksa Chaby untuk balikpun ia tidak bisa.
__ADS_1