GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 5


__ADS_3

"Aku yakin seratus persen nama kamu Chaby, kamu sendiri yang bilang waktu kenalan sama aku dulu." kata Aska pasti.


"Tapi ada nama aslinya kan pasti," kali ini Sharon yang angkat bicara. Ia ingin tahu nama asli Chaby, supaya tahu latarbelakang keluarganya tentu saja.


Chaby ikut mengangguk setuju. Ia ikut-ikutan Sharon saja. Meski dirinya sangat ingin tahu seperti apa keluarganya, apa mereka menyayanginya atau tidak, masih mengharapnya kembali atau tidak, dirinya tetap ceria. Kalau pun keluarganya tidak mencarinya lagi dan menganggapnya sudah mati, ia masih punya Arion dan Sharon sebagai keluarganya. Setidaknya ia tidak sendirian. Meski memikirkan itu hatinya merasa sedih, namun ia tetap harus menerima kenyataan bukan?


"Aku nggak tahu nama aslinya," gumam Aska menatap Sharon.


"Loh, katanya kenal. Kok nggak tahu nama asli aku sih. Jangan-jangan kenal boongan lagi, karena liat wajah aku cantik banget kayak gini." celetuk Chaby sebal. Padahal dia kan sudah antusias banget mau tahu jati dirinya yang sebenarnya. Meski begitu, dirinya tetap saja berceloteh dengan segitu pedenya.


Aska cukup kaget mendengar celotehan gadis itu. Namun sekali lagi, ia tidak bisa menahan senyum lebarnya karena Chaby yang terus saja ngelawak meski sedang mengomelinya.


"Sia, dengerin Aska dulu, jangan bikin-bikin malu." ucap Sharon pelan ditelinga Ara.


"Dianya yang bikin malu, ngaku-ngaku kenal aku. Padahal mau deketin doang kali. Asal kamu tahu ya, walaupun masih keliatan muda dan sexy begini, aku udah punya anak, udah liat sendiri kan tadi?hmph!" kata Chaby lagi lalu membuang muka.


perkataan Chaby sukses membuat Aska terperangah. Kali ini ia tak dapat menahan tawanya lagi. Sharon sendiri menggeleng-geleng kepalanya karena malu. Ya ampun, ia sungguh tidak bisa berkata apa-apa lagi karena ulah Chaby. Untung pria didepannya sekarang ini adalah Aska, jadi ia masih bisa meredam sedikit rasa malunya.


"Denger Chaby, aku nggak ada niatan sama sekali buat maafaatin kamu yang hilang ingatan. Kalo kamu nggak percaya, terserah kamu aja. Aku beneran nggak tahu nama asli kamu, kita hanya bertemu beberapa kali dan gak bisa dibilang deket juga." kata Aska panjang lebar.


Chaby diam terus memandang Aska dengan mata menyipit. Tentu ia ingin mendengar penjelasan pria itu lagi.

__ADS_1


"Dulu kamu junior aku di kampus. Tapi belum sempat kenal deket, aku udah pergi keluar negeri. Kamu sendiri sudah nikah muda sama pacar kamu." jelas Aska lagi. Chaby dan Sharon saling berpandangan.


Ternyata Arion memang bukan anak haram. Bocah itu ada karena hubungan yang sah dari dirinya dengan pria yang sekarang dia sudah lupa. Chaby jadi ingin tahu seperti apa rupa suaminya.


Apakah papa kandungnya Arion itu masih menunggunya sampai sekarang? Masih mencintainya atau sudah ada perempuan lain disampingnya? Chaby bisa makhlum karena ia sudah terlalu lama menghilang. Tapi kenapa Chaby merasa tidak rela kalau suami yang tidak bisa ia ingat itu sudah bersama perempuan lain?


"Kau kenal suaminya?" tanya Sharon.


Aska menggeleng.


"Aku hanya melihatnya sekilas, tidak mengenalnya sama sekali. Tapi," pria itu menggantung ucapannya menatap kedua gadis didepannya.


"Kakakku mungkin kenal."


"Karrel dan gadis ini berteman, itu yang aku tahu." katanya. Chaby mulai semangat lagi. Berarti ia punya harapan besar buat bertemu keluarganya.


"Aku bisa membawa Karrel ke sini tapi kita harus menunggu seminggu lagi." tambah Aska.


"Kenapa?" beo Chaby seolah merasa keberatan. Seminggu itu terlalu lama menurutnya. Ia ingin bertemu keluarganya secepat mungkin. Meski awal-awal mereka pasti akan terlihat asing dimatanya.


"Kakakku sedang berada di Afrika. Jadwalnya balik ke Indo minggu depan." sahut pria itu.

__ADS_1


"Emang gak ada cara lain buat cari tahu keluarga Sia?" Sharon masih terbiasa menggunakan nama pemberiannya pada Chaby.


Ada. Gumam Aska dalam hati. Ia sudah memikirkan cara lain. Tinggal bertanya ke kampusnya yang dulu saja. Mungkin data asli Chaby masih ada arsipnya disana. Tapi Aska tidak bisa, jadwal konsernya terlalu padat seminggu ini. Ia tidak punya banyak waktu. Takutnya tidak akan sempat.


"Jadwalku terlalu padat, aku takut tidak akan punya waktu untuk itu. Kau bisa menunggu kan?" pandangan Aska beralih ke Chaby. Gadis itu tampak berpikir lalu akhirnya mengangguk setuju.


"Ya sudah. Aku juga harus menyiapkan hati bertemu dengan keluarga aku. Kali aja mereka sudah lupa sama aku saking lamanya aku hilang." ucap Chaby lemah.


"Hus, lupa gimana. Gak ada orangtua yang bisa lupa sama anaknya Sia." celetuk Sharon


"Ya bisa aja kak Sharon. Buktinya,  aku juga bisa lupa sama mereka." timpal Ara.


"Ya kasus kamu itu kan beda cerita."


"Tetep aja kan udah enam tahun aku hilang. Muka aku aja udah berubah cantik banget gini. Wajarlah kalau mereka gak kenal aku lagi."


ingin sekali Sharon menjitak kepala Chaby tapi senyuman lebar Aska karena kelakuan gadis itu membuatnya tertegun. Ia jadi penasaran apa yang terjadi di masa lalu Chaby dan lelaki yang hampir menjadi adik iparnya ini. Apa Aska sudah bisa melupakan kepergian adiknya?


Apa Aska melupakan adiknya saat pria itu bertemu Chaby? Kalau memang benar, Sharon tidak akan heran. Chaby punya pesona kuat yang bisa membuat banyak pria jatuh hati. Bahkan ada beberapa pria yang sengaja mendekati Chaby beberapa tahun ini. Untung Chaby punya seorang putra yang bisa dia jadikan alasan untuk menjauhi mereka.


"Baiklah, sebaiknya aku pergi sekarang. Manajerku sedang menunggu di luar." pamit Aska akhirnya. Tanpa sadar tangannya terangkat mengacak-acak pelan rambut Chaby. Ketika sadar Sharon tengah menatapnya, pria itu berdeham salah tingkah.

__ADS_1


"Jangan lupa memberi kabar padaku," kata Sharon. Aska mengangguk lalu pergi.


__ADS_2