
Danzel mencubit gemas pipi Chaby. Dasar adiknya itu. Untung dia datang tepat waktu dan mendengar semua pembicaraan mereka. Kalau tidak, ia benar-benar akan disalahpahami oleh Sharon akibat perkataan blak-blakan Chaby.
Chaby sendiri malah menyengir kuda. Arion kini duduk dipangkuannya dan Sharon masih memandangi kakak beradik itu bergantian. Raut wajahnya seolah ingin mendengar penjelasan dari perkataan Chaby tadi. Kan nggak lucu kalau mengetahui pria yang menjadi pacarnya ternyata seorang penyuka sesama jenis dulu. Bukannya tidak terima, biar bagaimanapun Sharon akan merasa aneh kalau seandainya itu memang benar. Ia kan belum lama kenal pria itu juga.
Danzel menatap Chaby. Sorot matanya seolah bilang kalau adiknya itu yang harus mempertanggung jawabkan kata-katanya tadi pada Sharon. Chaby berdeham lalu mulai bicara.
"Jadi gini kak Sharon, maksud aku dulu itu kak Danzel emang nggak pernah tertarik sama perempuan,"
"Chaby," sela Danzel melemparkan tatapan tajamnya ke sang adik.
"Tapi bukan berarti suka sama laki-laki." lanjut Chaby. Danzel baru bernafas lega. Gadis itu menambahkan.
"Dulu kak Danzel lebih fokus jagain aku sama bekerja. Jadi nggak ada waktu pacaran."
Giliran Sharon yang merasa lega setelah mendengar penjelasan Chaby. Oh, jadi begitu. Ia pikir dulu Danzel serong. Wanita itu tertawa dalam hati. Ia menatap Danzel yang terus menatapnya sejak tadi. Tatapan itu begitu dalam sampai-sampai Sharon tidak mampu membalas tatapannya karena malu.
Chaby senyum-senyum melihat tingkah pasangan baru yang tengah kasmaran itu. Ternyata tipe kak Danzel yang kayak kak Sharon begini. Tapi Chaby senang mereka bisa pacaran. Kalau perlu, cepat-cepat menikah saja sekalian. Chaby tidak mau perempuan yang akan menjadi kakak iparnya nanti adalah perempuan yang hanya memanfaatkan harta sang kakak dan tidak akrab dengannya. Jaman sekarang kan memang banyak perempuan yang begitu. Kalau nggak matre, pasti nggak suka pacar atau suaminya itu dekat banget sama adik perempuannya. Banyak wanita yang begitu kan sekarang. Kalau kak Sharon, ia sudah kenal dan sangat dekat juga dengannya, sudah seperti kakaknya sendiri. Kak Sharon itu orangnya tulus dan baik hati. Cocok banget jadi pendamping kakaknya. Kak Danzel berhak mendapatkan yang terbaik.
"Kak Sharon temenin kakak aku ya. Aku pengen tidurin Arion dulu di kamar." gumam Chaby kemudian. Ia sengaja mau memberi keduanya ruang buat berdua. Nggak enak juga kan gangguin pasangan yang baru jadian. Setelah berkata begitu, Chaby berdiri sambil menggendong Arion ke kamar.
__ADS_1
\*\*\*
"Jadi begitu ceritanya. Kau tidak akan menganggapmu sebagai pria gay lagi bukan?" Danzel bergumam lembut kepada Sharon. Wanita itu tertawa pelan lalu mengangguk.
"Tadi ngobrol-ngobrol apa sama Chaby?" tanya pria itu kemudian.
"Tidak banyak, aku cerita tentang hubungan kita sekarang. Aku tidak mau menutupinya, aku ingin adik kamu tahu."
"Tentang kita berdua pacaran?"
Sharon mengangguk lirih.
"Aku senang bisa memilikimu Sharon. Dan aku ingin hubungan kita melangkah lebih serius. Aku tidak muda lagi. Aku ingin memiliki anak denganmu. Bocah yang lucu seperti Arion." Sharon sontak kaget mendengar ucapan itu. Ia langsung menenggelamkan tubuhnya di dada Danzel yang bidang dan memeluknya semakin erat, menutupi wajah yang memerah karena malu. Mereka baru resmi pacaran pagi tadi, tapi Danzel sudah berani bilang ingin memiliki anak dengannya. Bagaimana dia tidak malu coba. Membayangkan dia dan Danzel menikah dan...
Sharon belum sanggup memikirkannya. Ia takut kalau hubungan mereka sebagai pasangan kekasih tidak akan bertahan lama. Banyak orang yang pacaran begitu kan? Tahu-tahunya malah putus di tengah jalan.
Sharon membuyarkan lamunannya. Ya ampun, apa yang dia pikirkan? Ia dan Danzel baru pacaran tapi sudah memikirkan bagaimana kalau mereka putus. Fokus Sharon, fokus.
Wanita itu merasakan Danzel mendongakkan dagunya, lalu mengecup bibirnya dengan lembut dan intens.
__ADS_1
"Aku sungguh ingin kau menjadi perempuan pertama yang ku lihat di pagi hari ketika aku membuka mataku, dan menjadi yang terakhir kupeluk di malam hari ketika aku beranjak tidur." gumam Danzel pelan. di telinga Sharon setelah melepaskan kecupannya. Sharon terkekeh.
"Kau sangat romantis." gumamnya pelan.
"Kau tidak suka? Aku tidak pernah seperti ini dengan perempuan manapun. Kau tahu... semua orang menganggapku kaku." Danzel tersenyum tipis,
"Bahkan terkadang aku merasa iri kepada Decklan yang dengan mudahnya mengeluarkan kata-kata puitis untuk merayu adikku."
Sharon tertawa,
"Kau cukup puitis untukku kok."
Danzel menyipitkan mata, tidak mempercayai ucapan Sharon. Wanita itu malah terlihat seperti sedang meledeknya.
"Kebohongan di matamu terlalu jelas Sharon." gumamnya lalu menggelitik tubuh Sharon membuat wanita itu kaget dan menatap wajah Danzel seolah tidak percaya. Ia tidak menyangka pria itu memiliki selera humor juga. Danzel mulai bersikap lebih berani padanya.
Sharon tertawa geli karena pria itu tidak juga berhenti menggelitiknya. Dan tanpa mereka sadari, Chaby diam-diam tengah memotret kebersamaan mereka dari balik kamarnya. Chaby merasa senang melihat kakaknya tersenyum gembira seperti sekarang pada wanita lain. Dulu kak Danzel memang sering tersenyum, tapi hanya padanya. Ia selalu memperlakukan orang lain dengan kaku.
"Semoga mereka cepat nikah." gadis itu bergumam pelan sambil terkikik sendiri.
__ADS_1