
"Bar, bilang sama semuanya kumpul di rumah Decklan sore ini. Chaby sudah ditemukan."
Bara mematung. Ia berdiri linglung di ruangannya. Apa kata Andra? Apa dia salah dengar? Andra bilang Chaby ditemukan. Ini adalah berita gembira. Tapi benarkah? Ia seperti tidak percaya. Atau dirinya yang salah dengar. Andra hanya bilang begitu dan langsung menutup telpon. Ya ampun, Andra sungguh membuatnya penasaran setengah mati. Ia bahkan tidak bisa menunggu sampai sore untuk memastikan apa yang baru dia dengar betul atau tidak.
Tanpa pikir panjang Bara keluar dari ruangannya dan berjalan cepat ke ruangan Galen.
Ternyata Galen tidak ada di ruangannya, begitu pun Danzel. Sekretaris Danzel bilang mereka sedang ada rapat. Bara menghembuskan nafas panjang. Ingin rasanya ia menerobos rapat dan memberitahu kedua pemimpin kantor itu Sekarang juga. Tapi Bara tidak melakukannya.
Lagipula sekarang masih siang. Kata Andra berkumpul di rumah Decklan sore nanti. Ya sudah. Dirinya terpaksa kembali lagi ke ruangannya mengerjakan pekerjaan yang belum selesai. Ia ingin sekali menelpon untuk memberitahu Pika terkait Chaby. Tapi Pika pasti sedang sibuk sekarang. Sebentar saja ia menelpon gadisnya itu. Ia tidak mau pekerjaan Pika terganggu.
***
Di rumah sakit, setelah pertemuan yang mengharukan antara Decklan, Chaby dan putra mereka Arion, Decklan bilang ingin membawa Chaby pulang ke rumah dan bertemu keluarga yang lain.
Tentu saja Chaby bersikeras tidak mau dibawa Decklan kembali ke rumah. Ia belum siap pokoknya. Apalagi kak Sharon sama sekali tidak tahu ia sudah bertemu keluarganya. Pasti kak Sharon akan kebingungan dan khawatir kalau mereka tidak pulang hari ini. Malah Chaby tidak bawa hp lagi karena panik dan takut Arion kenapa-napa, ia jadi tidak terpikir hpnya.
Meski terus menolak tidak mau ikut Decklan pulang, Decklan tetap saja adalah sosok pria yang tidak bisa dilawan. Kalau Chaby tidak mau ikut dengannya secara sukarela, terpaksa dia harus memaksa istrinya itu dengan dengan caranya sendiri.
"Sudah jelaskan aku suami kamu, ayo pulang ke rumah sama aku." Decklan merasa kewalahan karena Chaby terus berpegang pada kepala ranjang yang terbuat dari besi itu. Ia heran, dulu Chaby tidak sekuat ini. Pria itu menghembuskan nafas kasar. Ia terlalu fokus pada Chaby sampai-sampai tidak sadar Andra sudah duduk di ranjang besar itu bersama Arion menonton aksi mereka yang konyol. Belum lagi Chaby dengan segala perkataan-perkataan konyolnya yang selalu keluar tanpa di pikir-pikir dulu. Bahkan Arion yang masih lima tahun itu lebih terlihat dewasa dari papa dan mamanya sekarang.
"Chaby, jangan ngelawan aku." kata Decklan mulai kelelahan.
"Ngelawan apaan, orang aku cuma bertahan doang." balas Chaby tidak mau kalah. Matanya berpindah ke Arion.
__ADS_1
"Arion, kamu juga nggak mau pulang sama dokter yang kayaknya memang papa kamu ini kan?" tanyanya. Ia tahu anaknya itu pasti berada di pihaknya. Biar bagaimanapun enam tahun ini dirinya yang merawat Arion sendirian. Eh, sama kak Sharon juga. Arion pasti akan memihaknya.
"Ali mau kok. Om dokter kan papanya Ali. Om andla bilang papa Ali bakal ngasih pelmainan banyak banget sama Ali kalo Ali ikut papa." tutur Arion panjang lebar. Tidak perlu heran, kebanyakan anak-anak akan begitu kalau di sogok dengan permainan.
Chaby melongo. Sejak kapan sih dokter bernama Andra itu bicara dengan putranya? Ah, lupakan. Ia menatap tajam putranya.
"Kamu itu anak mama, kok belain orang lain sih?" celotehnya pada Arion.
"Tapi Alion anak papa juga,"
Decklan merasa senang mendengar Arion memanggilnya papa. Arion sangat cepat menerimanya, dan anak itu pintar.
"Ari, kamu mau ikut pulang sama papa kan?" tanyanya. Padahal ini pertama kalinya Decklan bertemu dengan bocah itu, namun ia sudah merasa begitu akrab. Arion mengangguk. Decklan tersenyum puas. Ia kembali menatap Chaby yang kini malah menunjukkan wajah cemberutnya, membuat Decklan merasa gemas. Ia tidak sabar ingin berduaan dengan sang istri. Sudah enam tahun ini dirinya tidak pernah menyentuh istrinya itu. Tentu saja hasratnya langsung bangkit saat Chaby bertindak menggemaskan seperti itu.
Andra terus menahan tawanya.
"Mama kamu dari dulu sebelum kamu lahir emang udah gitu sifatnya." bisik Andra di telinga Arion. Ia sendiri sudah merasa akrab dengan anak Decklan dan Chaby itu. Bocah itu pintar, seperti papanya. Tapi lucunya mirip Chaby.
"Benel om, mama suka akting." kata Arion lagi. Tentu saja bisa didengar sama Chaby. Gadis itu maju selangkah ingin mencubit pipi Arion saking gemesnya tapi tubuhnya tiba-tiba melayani ke atas.
"Hwaaa..." teriak Chaby sekeras mungkin.
"Hahaha..." tawa Arion melihat ekspresi mamanya yang tiba-tiba di gendong Decklan seperti menggendong sekarong beras.
__ADS_1
"Lepasin nggak!" seru Chaby memukul-mukul Decklan namun pria itu sama sekali tidak peduli. Pukulan Chaby tidak sakit sama sekali.
Decklan tidak mau terpisah lagi dengan istrinya. Semua orang juga harus tahu Chaby sudah ditemukan. Ia ingin semua orang yang menganggap Chaby sudah meninggal tahu kalau penantiannya selama ini tidak sia-sia. Gadis itu akhirnya kembali padanya lagi, bahkan membawa hadiah seorang putra yang sangat lucu. Decklan berjanji kali ini ia akan membahagiakan istri dan anaknya, keluarga kecilnya. Dia ingin mereka menjadi keluarga yang paling bahagia.
Andra menurunkan Arion dari ranjang dan memegang tangannya. Kemudian mereka mengikuti Decklan yang sudah keluar lebih dulu dengan Chaby.
"Lumahnya papa banyak mainannya nggak om? Soalnya Ali khianatin mama kalena mainan." tanya Arion polos. Andra the tersenyum mengacak rambut Arion. Bocah itu sangat lucu dimatanya.
"Ari tenang aja yah. Waktu Ari lahir kan papa Decklan nggak tahu. Jadi mainannya belum banyak. Nanti Ari beli mainan yang banyak sama papa Decklan yah. Tapi Ari harus bujuk mama Chaby supaya mau tinggal sama papa. Rumah Ari sama mama yang beneran kan di rumahnya papa Ari." jawab Andra panjang lebar. Arion terlihat berpikir.
"Ali sih mau aja om, tapi nanti tante Shalon gimana? Pasti sedih Ali tinggalin."
Andra mengernyitkan dahi. Tante Shalon?
"Siapa tante Shalon?" mereka berhenti sebentar.
"Tante Ali," sahut Arion.
Andra masih tidak mengerti.
"Ndra, cepetan!" teriak Decklan yang sudah mencapai pintu keluar rumah sakit. Andra langsung menggendong Arion dan berlari kecil keluar.
Mereka terus menjadi perhatian semua dokter dan staff lainnya yang berkumpul tak jauh di situ. Apalagi Decklan yang menggendong Chaby.
__ADS_1
"Jadi dia istrinya dokter Decklan yang hilang itu?"