GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 48


__ADS_3

Hampir sepuluh menit Decklan hanya diam saja dan terus menatap Chaby yang masih setia bersembunyi didalam selimut itu. Cowok itu tersenyum tipis. Lama-lama ia jadi pengen bawah pulang gadis itu k ke rumahnya.


"Chaby," gumamnya pelan. Tangannya terangkat menyentuh Chaby yang tertutup selimut. Gadis itu tetap cuek. Ia masih sebal, pokoknya.


"Kamu yakin masih mau ngambek sama aku?" tak ada jawaban.


Decklan tersenyum jahil lalu berpindah dari dan duduk di tepi tempat tidur. Tanpa aba-aba ia mulai menggelitik pinggang Chaby membuat gadis itu menggeliat.


Chaby tertawa keras karena merasa geli akibat gelitikan Decklan. Ia menyembul keluar dari dalam selimutnya dan berusaha untuk lari tapi kekuatan Decklan jauh lebih besar darinya. Cowok itu terus melancarkan aksinya. Ia tidak pernah melakukan hal yang menyenangkan seperti ini, apalagi bersama perempuan yang dia cintai.


Decklan berhenti ketika mendengar tawa Chaby mulai melemah menandakan gadis itu sudah capek. Ia lalu memeluknya.


"Masih mau ngambek, hm?"


Chaby menggeleng dalam pelukan cowok itu. Decklan merapikan anak rambut Chaby dan melepaskan pelukan. Ia kemudian menggenggam erat tangan gadis itu dan menatapnya dalam.


"Besok aku bawa kamu ke restoran. Kamu bisa makan apa aja yang kamu suka." ucapnya lembut.


"Yeah!" Chaby bersorak senang.


                                ***


Decklan terus menatapi cincin di tangannya. Cincin itu ia pesan dari Perancis sekitar tiga minggu yang lalu dari seorang teman. Ia membelinya sepasang. Tentu saja buat Chaby dan untuk dirinya sendiri.


Mungkin terbilang cepat namun ia ingin mengikat Chaby disisinya selamanya. Untuk menikah memang masih terlalu dini namun ia ingin ada ikatan antara mereka. Setidaknya mereka bertunangan dulu. Ia lebih merasa yakin kalau gadis itu sudah benar-benar terikat dengannya.  Semenjak pacaran ia memang sudah berpikir serius tentang hubungan mereka. Ia ingin membangun keluarga yang bahagia bersama Chaby.


Pria itu menarik nafas panjang lalu meletakkan kembali benda yang dia pegang dalam kotak cincin. Ia melirik jam tangannya. Sudah waktunya menjemput gadis itu.


Decklan menghentikan mobilnya di restoran terkenal di daerah Jakarta Selatan.


"Kita makan disini?" tanya Chaby


"Mm, aku sudah pesan tempat. Ayo keluar."  kata Decklan membantu gadis itu turun. Chaby membiarkan dirinya dibimbing masuk ke dalam restoran.

__ADS_1


Gadis itu merasa agak aneh ketika masuk ke restoran itu dan tidak melihat seorang pun disana. Hanya ada beberapa pelayan yang berdiri di sudut ruangan, menunggu perintah.  Ada juga beberapa pria yang memainkan alat musik di panggung kecil tengah restoran.


Mereka duduk dibagian depan dekat panggung. Ketika Decklan sudah duduk berhadapan dengannya, Chaby membuka mulut.


"Kok restorannya sepi begini?"


Decklan hanya tertawa. Tak lama kemudian makanan mereka diantarkan. Chaby jadi lupa semuanya termasuk pertanyaannya tadi dan mulai makan. Ia sangat menikmatinya.


Saat mereka selesai makan, Chaby baru akan mengatakan sesuatu ketika Decklan mengangkat tangan untuk menghentikan ucapannya.


"Aku pengen ngomong sesuatu." kata Decklan lalu mengeluarkan kotak cincin dari saku celananya. Ia bangkit dari kursi dan berjalan kearah Chaby dan berlutut dihadapannya.


Alis Chaby terangkat.


Decklan menatapnya serius.


"Apa kamu ingat saat pertama kali kita bertemu? Kau menggelantung diatas tembok seperti orang bodoh. Saat itu entah kenapa hatiku mulai tergerak. Aku tidak pernah peduli pada wanita lain sebelumnya, namun setia kali melihatmu pandanganku  tidak mau beralih ke tempat lain. Ketika mendengar kau punya pacar, aku mulai terganggu, kesal dan marah. Saat melihatmu sedih, hatiku ikut terluka. Dan aku begitu bahagia saat melihatmu tertawa."


Decklan berhenti sejenak dan tertawa kecil.


"Bagi orang lain kamu mungkin hanya seorang gadis manja, ceroboh dan penakut yang tidak bisa diandalkan. Namun bagiku kau seperti matahari, sungguh sulit bagiku untuk tidak memperhatikanmu.


"Bara dan Andra bilang, tampangku sangat konyol saat tersenyum. Namun aku rela terus tersenyum konyol seperti ini agar bisa melihatmu setiap hari. Aku ingin selalu berjalan berdampingan denganmu."


"Aku tidak ingin memintamu untuk menikah sekarang, juga tidak berani jamin hidup kita kelak pasti akan sangat lancar. Namun aku berani jamin, dalam keadaan baik atau buruk... Aku akan terus menemanimu, membuatmu bangga menjadi bagian dari keluargaku."


Decklan menghembuskan nafas panjang. Ia belum pernah berbicara sepanjang ini sebelumnya. Pandangannya lurus kedepan, menatap kedalam mata gadis itu.


"Chaby, kau mau kan menghambiskan  waktu bersamaku sampai kita tua nanti?"


Chaby terdiam memandangi wajah laki-laki didepannya itu. Ia tidak tahu menjawab apa. Decklan memandangnya lurus-lurus. Chaby tidak tahu bagaimana menggambarkan perasaanya saat ini, yang ia tahu pipinya mulai terasa panas dan air mata mulai mengalir di pipinya.


Decklan tersenyum.

__ADS_1


"Anak bodoh. Kenapa menangis?" tanya pria itu sambil menghapus air mata di pipi Chaby dengan jarinya. Sesudah itu ia menyematkan cincin di jari manis gadis itu lalu mencondongkan tubuh untuk menciumnya.


"Aku mencintaimu." bisiknya pelan dan kembali mencium gadis itu. Iringan musik yang indah menambah suasana romantis dalam ruangan itu.


   


                                ***


Chaby tidak berhenti-berhenti tersenyum. Ia terus menerus mengingat perkataan Decklan semalam yang membuatnya menjadi berbunga-bunga. Gadis itu mengangkat tangannya di udara dan memandangi cincin yang tersemat di jari manisnya itu dengan penuh minat. Selama itu kak Decklan, ia rela memberi dirinya pada cowok itu.


"Chaby!"


Chaby cepat-cepat menurunkan tangannya dan menyembunyikannya kebelakang. Ia mendongak menatap Pika.


"Kenapa lo, kok kaget banget begitu?"


Pika menyipitkan matanya curiga. Chaby menggeleng kuat.


"Dasar aneh." kata Pika lagi. Chaby tersenyum lebar. Pandangannya beralih ke buku yang dipegang cewek itu.


"Kok bukunya banyak?" tanyanya.


"Oh iya, bantuin gue dong anterin buku ini ke teman les gue di depan."


ajak Pika kemudian. Chaby mengambil beberapa buku di tangan gadis itu dan mengikutinya keluar.


Mereka berhenti didepan gerbangal sekolah dekat sebuah mobil. Temannya Pika yang Chaby tidak tahu siapa namanya itu cepat-cepat membuka pintu bagian tengah biar mereka bisa menaruh buku-buku itu.


"Makasih yah Pik, entar gue traktir deh." kata sih cowok temannya Pika itu.


"Ya elah, santai aja bro." balas Pika. Cowok itu tersenyum.


"Ya udah kalo gitu gue balik yah." pamitnya menatap Pika dan Chaby bergantian. Chaby ikut tersenyum dan melambaikan tangan ke cowok yang terlihat bersahabat itu. Keduanya lalu berbalik masuk gedung besar itu, namun belum mencapai gerbang seseorang memanggil Chaby dengan bahasa asing.

__ADS_1


Bukan nama panggilannya. Orang itu memanggil nama aslinya, membuat gadis itu berdiri kaku di tempatnya.


                                 


__ADS_2