GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 31


__ADS_3

"Lep... lepasin,"


Sharon terus mencari cara melepaskan diri dari Danzel namun seakan tuli, pria itu berjalan tanpa mendengar perkataannya. Tanpa mengatakan apapun, tanpa meminta persetujuannya, dan Sharon saat kesal dengan cara laki-laki itu. Mereka tidak akrab juga tidak punya hubungan khusus yang bisa dijadikan alasan oleh pria itu melarangnya pergi kemanapun dia suka.


Memang Sharon tidak betah di bar tadi. Tapi bukan berarti dia harus pulang begitu saja tanpa memberi kabar pada temannya. Ketika Danzel memasukannya ke dalam mobil, Sharon cepat-cepat mengambil kesempatan itu untuk keluar. Sayangnya niatnya segera terhenti setelah mendengar suara Danzel yang penuh tekanan.


"Kau berani keluar?" Sharon heran. Kenapa ia bisa takut dengan kalimat pendek Danzel itu. Ia tidak mengerti. Ia merasa tidak berkutik. Akhirnya wanita itu memilih menurut saja. Sudut bibir Danzel terangkat. Lalu pria itu berputar masuk ke bangku sopir.


Tak ada pembicaraan sama sekali dalam mobil. Danzel hanya fokus menyetir mobil dan Sharon masih terlalu kesal untuk bicara. Ia tidak ada mood. Matanya terus menatap ke ponselnya yang mati. Ia merutuk dalam hati. Ia merasa sangat sial. Kenapa juga ponselnya mati, ia kan harus memberi tahu kabarnya pada temannya. Wanita itu menarik napas kesal. Tingkah tak luput dari Danzel. Ternyata pria itu terus memperhatikannya dari tadi, lewat sudut matanya.


Danzel sadar ia sudah berbuat seenaknya pada Sharon. Tapi ia sungguh tidak bisa menahannya. Jujur ia sangat tidak suka melihat wanita yang terus dia pikirkan itu lebih dari seminggu ini berada di tempat seperti itu. Danzel belum pernah melarang seorangpun wanita dan bersikap posesif seperti ini selain pada Chaby. Chaby adalah adik yang paling sayang dan ia besarkan dengan sepenuh hati. Wajar ia posesif pada Chaby karena hampir seluruh hidupnya bersama dengan sang adik. Tapi Sharon, Danzel tahu ia memiliki perasaan lebih pada wanita itu. Namun belum bisa memastikannya seratus persen.


Ketika mobilnya berhenti tepat didepan rumah Sharon, kedua orang tetap diam. Belum ada yang bicara. Entah berapa lama mereka diam-diaman seperti itu sampai terdengar suara Sharon yang memulai pembicaraan.


"Kenapa, kenapa menarikku keluar dari bar seperti itu? Caramu terlalu seenaknya. Kau tidak berhak sama sekali mengaturku." ujar Sharon merasa kesal.

__ADS_1


"Aku hanya tidak suka melihatmu di sana." balas Danzel. Wajar wanita itu marah. Sharon mendengus keras.


"Tidak suka? Apa alasannya? Kita tidak cukup dekat dan tidak berada dalam satu hubungan. Apa kau selalu seperti ini dengan wanita yang baru kau kenal?" entah kenapa Sharon menanyakan seperti itu. Ia ingin tahu apakah Danzel selalu berbuat seperti itu pada wanita lain juga atau hanya pada dirinya.


Danzel menatap ke samping. Pria itu sangat tenang daritadi. Ia menatap ke dalam mata Sharon dan tatapan itu sukses membuat Sharon merasa tidak kuat. Mata indah Danzel seakan menyihirnya. Tidak heran wajah Chaby cantik sekali. Gen keluarga mereka sangat baik dan jujur Sharon merasa iri sekali.


"Aku hanya seperti ini padamu." ujar Danzel.


"Kau wanita pertama yang membuatku tertarik." Sharon cukup terkejut mendengar ucapan Danzel. Tapi ia tidak mau geer dulu. Wanita itu berusaha bersikap tenang.


Danzel... Pria itu memikirkannya? Kenapa? Mungkinkah...


"Sepertinya aku menyukaimu."


Deg...

__ADS_1


Jantung Sharon tiba-tiba berdegup kencang. Danzel... Pria menyukainya secepat ini? Tapi kenapa? Mereka bahkan belum lama bertemu. Sharon memalingkan wajahnya ke arah lain. Ia terlalu malu mendengar pengakuan pria itu. Bingung bagaimana menghadapinya. Ia juga sadar ia merasakan hal yang sama pada lelaki itu. Sesuatu yang lebih dari sekedar kagum. Namun, tidak mungkin bukan dia mengatakan menyukai pria itu juga. Itu akan terlihat seperti dirinya adalah wanita gampangan.


"Aku tidak tahu sebesar apa rasa sukaku padamu, karena itu...


bisakah kau ijinkan aku untuk lebih mengenalmu? Aku tidak memintamu menjadi kekasihku sekarang. Aku hanya ingin memastikan apakah aku sungguh-sungguh menyukaimu atau itu hanyalah sekedar rasa kagum." Danzel tidak bisa lagi menahan diri. Ia ingin membuat pendekatan dengan Sharon. Ingin tahu, apakah itu hanya sekedar rasa suka biasa atau lebih. Karena wanita itu terus memalingkan wajah ke arah lain, Danzel mengangkat tangannya memegang bagian wajah Sharon dan membuat wanita itu melihatnya.


"Jawab aku," gumamnya.


Sharon sudah merasa terlalu canggung untuk bicara.


"A.. se... Sebaiknya aku turun." katanya bersiap-siap membuka pintu namun lagi-lagi tangan Danzel menghalanginya.


"Aku butuh jawaban Sharon." katanya tidak membiarkan wanita itu lari. Baru kali ini ia menyebut nama itu. Sharon merasa mau pingsan saja. Kenapa situasinya berubah seperti ini sih.


"Mm, baiklah." jawabnya lalu segera turun dan berlari ke dalam rumah. Meninggalkan Danzel yang tersenyum lebar.

__ADS_1


__ADS_2