GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 42


__ADS_3

Para tamu undangan makin banyak yang berdatangan. Andra dan Decklan


ikut berjalan ke dekat kolam renang, memilih menjadi penonton setia Chaby yang sibuk berpose dengan berbagai gaya dan Bara yang setia memotret.


Sesekali mereka tertawa karena  Chaby berpose dengan banyak gaya yang berbeda-beda dan terlihat sangat kocak, berbeda jauh banget sama penampilannya yang cantik malam ini.


Pika sampai berkali-kali menggumamkan kalau cewek itu bukan sahabatnya saking malunya diliatin orang-orang yang ikut menertawai cewek itu. Malah kebanyakan dari mereka kakak kelas lagi.


Ia melirik Decklan, ingin tahu ekspresi kakaknya itu apakah malu sama kayak dia juga atau nggak. Namun cewek itu tertegun sesaat ketika melihat senyuman lebar kakaknya yang terus menatap Chaby. Ia menatap Chaby lagi, merasa kalau cewek itu sangat beruntung.


"Tuh cewek siapa sih? Kok sampe Bara sama Decklan yang terkenal galak itu bisa dia suruh-suruh?" ujar Mira merasa penasaran. Sejak tadi ia dan Mega terus menjadi penonton lima orang yang tengah berada di tepi kolam sana, menikmati kebersamaan mereka seolah-olah tak ada orang lain di tempat itu.


"Siapapun tuh cewek, dia benar-benar beruntung. Nggak kayak cewek yang udah ngejar-ngejar Decklan dari dulu." timpal Mega lalu melirik Nana di ujung sana. Padahal ini pestanya tapi mukanya kusut begitu. Salahnya sendiri yang ngundang cowok yang ternyata udah suka sama cewek lain. Kasihan juga sih, tapi yang namanya cinta kan emang nggak bisa dipaksa.


"Chaby nggak pengen foto sama kak Decklan juga? seru Pika. Menurutnya ini kesempatan yang bagus. Apalagi ia melihat Decklan yang kayaknya nggak keberatan. Pasti tuh cowok mau juga, kan dia emang suka sama Chaby.


"Mau, mau,mau." balas Chaby antusias. Ia lalu berlari mendekati Decklan dan menyisipkan tangannya ke lengan cowok itu, membuat Decklan berdeham salah tingkah.


"Kak Bara bisa bikin aku terlihat lebih keren dari kak Decklan kan? Bikin kak Decklan gak kayak cowok banget gitu. Kan aslinya udah keren, kalo di foto bikin jadi kayak banci aja boleh nggak?"


Kamera Bara sampai-sampai hampir melompat dari tangannya karena perkataan Chaby. Mereka tertawa apalagi melihat Decklan yang langsung menoyor kepala Chaby membuat cewek itu balas menatapnya sebal kemudian Decklan mencubit gemas pemilik pipi tembem itu. Dua pasangan berbeda jenis itu saling menatap sebentar lalu keduanya malah tertawa bersama.


Bara yang melihatnya tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu dan langsung memotret mereka.


Decklan yang menyadari pun cepat-cepat menarik badan gadis itu mendekat, melingkarkan tangannya dipinggangnya dan menghadap kamera. Sementara Chaby yang awalnya merasa kaget dengan tindakan cowok itu ikut-ikutan bergaya setelah menyadari Bara sedang memotret mereka, tak lupa menyandarkan kepalanya di bahu Decklan.


Andra dan Pika saling memberi kode dengan senyuman. Tanda-tanda mau ada pasangan baru nih.

__ADS_1


                                ***


Gagal sudah semuanya. Nana melemparkan benda apa saja yang ada dalam kamarnya ke sembarang arah. Pestanya sudah berakhir dan dirinya pulang tanpa hasil.


Padahal ia sudah membuat rencana supaya Decklan bisa berduaan dengannya malam ini. Tapi semuanya kacau karena cewek itu. Ia bahkan tidak bisa mendekati Decklan sama sekali karena cowok itu terus-terusan bersama sih adik kelas sialan itu.


"ARGH!!


Cewek itu berteriak emosi sambil mengacak-acak rambutnya kasar.


Kenapa? Kenapa Decklan nggak melihatnya sedikitpun dan malah tertarik pada... Siapa? kalau tidak salah namanya Chaby. Apa lebihnya sih?


Nana kembali melemparkan barang-barangnya yang ada diatas meja belajar. Ia sungguh-sungguh merasa tidak terima.


Di tempat lain, Decklan tidak mau kehilangan kesempatan lagi. Pokoknya ia harus menyampaikan perasaannya pada gadis itu malam ini juga. Ia sudah bertekad.


Decklan meraih tangan Chaby, menggenggamnya dan menariknya pelan ke halte bus.


Cewek yang sejak tadi mengikuti langkah cowok didepannya itu mulai merasa aneh. Ia merasakan sesuatu yang berbeda semenjak Decklan mengatakan ingin membawanya ke suatu tempat berdua saja. Cowok itu juga tidak bicara sama sekali dan terus menariknya, menuntunnya entah kemana.


Chaby merasakan pergelangan tangannya di lepas perlahan oleh Decklan. Mereka sudah turun dari bus yang ditumpanginya tadi.


Matanya menatap ke segala arah dan berhenti didepan sebuah toko. Ahh, ia ingat tempat ini. Inikan supermarket tempat mereka bertemu berminggu-minggu yang lalu. Saat pertama kalinya cowok itu membelikan dia ice cream.


Kening cewek itu terangkat bingung. Kenapa mereka kesini malam-malam begini. Sudah sepi juga. Hanya ada dua orang kasir didalam sana.


Kalau Decklan mau mentraktirnya ice cream ia sudah nggak mampu. Perutnya sudah penuh karena memakan segala jenis makanan di pesta tadi. Cewek itu menaikkan kepalanya menatap Decklan.

__ADS_1


"Kak Decklan ngapain bawa aku kesini? Mau beliin ice cream? tanyanya.


Decklan tersenyum tipis dan menggeleng lalu kembali meraih tangan gadis itu duduk di bangku depan supermarket. Tempat ia pernah menemani cewek itu makan ice cream yang ia belikan dulu.


Chaby masih bingung apa maksud kakak kelasnya itu membawanya kesini.


Decklan menghadapkan wajahnya menatap cewek itu.


"Masih ingat nggak sama pertemuan pertama kita?" tanyanya. Chaby mengangguk. Pandangannya tetap fokus ke cowok itu.


"Apa pendapat kamu tentang aku waktu itu?" bukannya geer, yang ia tahu banyak banget cewek-cewek yang selalu bilang dia ganteng sampe muja-muja dia waktu pertama kali ngeliat tampangnya. Dan dia ingin tahu bagaimana dengan tanggapan cewek didepannya yang satu ini.


Chaby memutar kedua bola matanya dan mulai berpikir.


"Galak, pemarah, suka bentak?"


Memang itu yang gadis itu pikirkan ketika pertama kali mereka bertemu. Saking galaknya Decklan waktu itu, ia jadi nggak konsen sama mukanya yang ganteng banget kata orang-orang, menurutnya juga sih.


Decklan tertawa kecil. Memang benar ia tipe cowok seperti itu, ia mengakuinya.


"Kalau sekarang?" tanyanya lagi.


"Masih suka galak, tapi udah banyak baiknya sama aku. Buktinya aku nggak takut lagi sama kak Decklan, udah biasa." sahut gadis itu tersenyum senang menatap Decklan.  Cowok itu ikut tersenyum. Masih banyak pertanyaan lagi yang ingin ia tanyakan.


"Bener kata Pika kamu nggak pernah pacaran?" ia ingat dulu Pika pernah ngomong begitu. Waktu mereka salah paham kalau dia dan Galen berpacaran.


Chaby merengut pelan. Ia mulai merasa bosan karena Decklan terlalu banyak bertanya.

__ADS_1


"Iih, kak Decklan kok daritadi nanya terus sih?" omelnya jengkel membuat Decklan terkekeh. Pandangannya turun kebagian bahu gadis itu yang terekspos, ia lalu cepat-cepat melepaskan blazer abu-abu dibadannya dan menyampirkannya ke tubuh mulus itu. Sial, kenapa ia tidak memperhatikannya tadi.


__ADS_2