
Karrel bermaksud datang ke rumah sakit itu untuk menjenguk Pika. Ia telah mendengar berita tentang kecelakaan yang di alami oleh gadis itu dari salah satu teman les Pika, namun baru ada waktu untuk menjenguknya hari ini karena sibuk dengan segala urusannya.
Ketika sampai didepan ruang rawat Pika, pria itu terhenti dan melihat seorang gadis yang terus menangis sambil mengamati Pika dari depan pintu. Gadis itu hanya menangis tanpa berniat masuk. Karrel terus berdiri menunggu gadis itu untuk masuk namun gadis itu malah berbalik pergi.
Saat melihat wajahnya, Karrel langsung mengenali gadis itu. Gadis yang membantu Pika membawa buku-bukunya waktu itu. Gadis manis dengan mata seperti boneka itu.
Karena gadis itu terus menangis dan ini sudah hampir tengah malam, jalanan pun sudah sepi, Karrel memutuskan mengikutinya diam-diam. Masih banyak waktu untuk menjenguk Pika.
Karrel terus mengamati gadis yang dari tadi masih menangis itu. Ia heran kok bisa air mata gadis itu tidak habis-habis. Tanpa sadar kakinya melangkah menghampiri gadis itu.
Ia bisa melihat ekspresi kaget gadis itu saat ia menepuk pelan bahunya. Karrel tersenyum saat gadis itu menatapnya lalu memilih duduk disampingnya.
Gadis itu terus menatapnya seperti mengingat-ingat dimana ia pernah melihat pria itu.
"K..kamu temannya Pika?" tanya gadis itu sesenggukan.
Karrel mengangguk.
"Kau masih ingat aku?" ia balas bertanya.
Chaby mengangguk pelan lalu kembali menunjukkan ekspresi sedihnya.
"Pika gadis yang kuat. Ia pasti bangun." ujar Karrel berusaha menghibur.
Cowok itu menatap Chaby lagi. Kali ini gadis itu sudah tidak menangis.
"Dimana rumahmu? Ayo ku antar pulang." katanya. Tidak baik anak remaja tengah malam begini di jalan.
Chaby menggeleng. Ia tidak mau pulang.
"Bagaimana kalau masuk ke dalam kamar rawat Pika." tawar Karrel lagi karena melihat Chaby yang enggan pulang.
Chaby langsung menggeleng keras. Apalagi masuk ke sana. Bisa-bisa ia ketemu kak Decklan lagi. Tidak, tidak. Ia terlalu takut.
Karrel semakin bingung. Sebenarnya nih bocah kenapa sih. Kok jadi seperti orang yang sedang kabur dari rumah.
"Kamu kabur dari rumah?" pertanyaan itu meluncur begitu saja dari mulutnya. Melihat gadis itu tidak menjawab dan hanya menunduk sedih, Karrel langsung tahu jawabannya.
"Kenapa kabur?" tanyanya lagi. Chaby menoleh kesal. Lama-lama ia kesal juga karena pria itu selalu bertanya.
__ADS_1
"Kabur yah kabur, pake tanya segala kayak kita akrab aja." balasnya sebal.
Karrel terkekeh. Tadi sedih, sekarang malah marah-marah.
"Kalo gitu nama kamu siapa? Aku Karrel."
Chaby menyipit menatap pria itu.
"Kamu ngajak kenalan?" balasnya ketus. Karrel tersenyum lebar dan mengangguk.
"Bolehkan?"
"Chaby." balas Chaby lagi tapi tetap ketus dan membuang muka dari pria itu.
"Baiklah Chaby. Sekarang lebih baik kamu pulang. Liat, jalanan udah sepi. Gimana kalau ada orang jahat yang lewat, kamu nggak takut?" Karrel menakut-nakuti. Chaby balas menatapnya lurus-lurus.
"Tapi aku pulang kemana? Nggak tahu." ia langsung menjawab pertanyaannya sendiri.
Alis Karrel terangkat. Gadis yang aneh. Masa rumahnya sendiri dia tidak tahu.
"Kamu punya rumah kan?"
"Kenapa?"
Untuk yang kesekian kalinya Chaby menatap pria itu dongkol.
"Kan aku lagi kabur, gimana sih."
Oke. Karrel menyerah. Ia tidak mau berdebat dengan anak kecil. Menurutnya gadis ini sangat kekanak-kanakan.
"Gimana kalau kamu ikut aku dulu?"
Chaby mendongak menatap pria itu lagi. Matanya menyipit curiga. Ia ingat kak Danzel dan kak Galen selalu bilang jangan gampang percaya dengan orang asing. Apalagi mengajaknya pulang.
Ketika gadis itu mau bicara, ia tiba-tiba terhenti karena mendengar teriakan keras seseorang memanggil namanya dari seberang sana.
"CHABY!"
Chaby dan Karrel refleks menatap panggilan itu. Mata Chaby membulat besar. Ada empat pria di ujung sana yang tengah menatapnya dengan pandangan yang berbeda-beda.
__ADS_1
Oh tidak, ia harus kabur sekarang. Ada kak Decklan juga disana. Ekspresinya tampak marah besar.
Chaby makin parno. Tanpa pikir panjang gadis itu langsung berdiri dari bangku jalan itu dan berlari kencang membuat Karrel disebelahnya keheranan.
Jalanan sudah sepi dan tak ada lagi mobil yang lewat. Jadi Chaby bisa berlari dengan leluasa.
Galen, di ikuti Bara dan Andra cepat-cepat mengejarnya. Sedang Decklan hanya berjalan santai namun dengan kilatan amarah besar yang terpancar dari wajahnya.
Seharian ini mereka terus mencari gadis itu. Decklan hampir gila memikirkan kalau ia tidak akan pernah melihat gadis itu lagi. Apalagi ini sudah tengah malam.
Bara memberi ide untuk mencari Chaby di rumah sakit karena kemungkinan gadis itu akan melihat Pika diam-diam. Mereka semua ke rumah sakit. Dan Bara benar. Mereka menemukan Chaby didepan sana sedang beradu mulut dengan seorang pria yang tidak mereka kenal.
Ketika Galen meneriakkan namanya gadis itu terlihat sangat kaget. Ia bahkan berdiri dari tempatnya dan buru-buru kabur dari situ, membuat Decklan makin tidak bisa menahan amarahnya. Mau kabur lagi? Jangan harap.
Decklan memilih melangkah pelan. Ada tiga pria lain yang sedang mengejar gadis itu. Ia tidak akan bisa kabur lagi. Matanya sempat melihat ke arah Karrel dengan ekspresi tidak bersahabat. Ada rasa cemburu disana.
"Chaby stop!"
Galen akhirnya bisa meraih tangan Chaby. Namun Chaby masih terus berusaha melepaskan diri. Ia meronta-ronta memukuli pria jangkung itu.
"Lepasin. Aku mau pergi." tukas Chaby berusaha lepas dari genggaman Galen.
"Pergi kemana? Kamu nggak bisa hidup sendiri. Nggak bisa sekali pun kamu memaksa!" balas Galen dengan suara tinggi. Karrel yang merasa tidak tahu apa-apa hanya menatap mereka dengan raut wajah bingung. Ia tidak tahu siapa cowok-cowok itu, ia tidak kenal.
"Kak Galen, biarin Chaby pergi yah. Aku... aku..." pandangan gadis itu berpindah ke Decklan yang berjalan dari seberang sana dan makin lama makin. Sorot matanya sangat dingin. Ia sungguh belum siap berhadapan dengan cowok itu.
"Nggak bisa. Danzel pas..."
Decklan tiba-tiba menarik tangan Chaby dari Galen. Padahal sedikit lagi pria itu akan bilang kalau sebenarnya Danzel masih hidup. Galen mengerang kesal. Biarkan saja. Masih ada banyak waktu.
"Bang, gue pengen bicara berdua sama dia, nanti gue anter pulang." ujar Decklan datar.
Galen sebenarnya sedikit keberatan namun mengingat pria itu yang sejak tadi siang sangat kacau, membuatnya tidak bisa menolak. Ia bisa melihat Decklan yang begitu mencintai Chaby.
"Baiklah. Jangan buat dia nangis." Galen memberi peringatan.
"Nggak janji." balas Decklan langsung. Galen menatapnya tajam. Lelaki ini benar-benar.
"Bang, biarin aja dia." bisik Andra. Cowok itu belum mengobati luka-lukanya akibat pukulan Decklan tadi siang. Ia sibuk mencari Chaby bersama mereka karena merasa bersalah juga khawatir pada gadis itu.
__ADS_1