GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 45


__ADS_3

Pria itu tersenyum menatap Chaby yang masih pulas di kasurnya. Tidur pun masih secantik ini, batinnya.


Ia memilih duduk di tepi tempat tidur dan mengamati gadis itu sebentar. Tangannya terangkat mengelus lembut pipi halus itu penuh sayang.


"Chaby." panggilnya lembut. Ia jadi tidak tega membangunkan gadis kesayangannya yang terlihat begitu damai dalam tidurnya itu. Cowok itu tersenyum tipis dan mengecup kelopak mata Chaby.


"Sayang, hei.. ayo bangun." gumamnya lagi setelah melihat ada pergerakan dari gadis itu. Tangannya menepuk-nepuk pelan pipi Chaby sampai gadis itu membuka matanya perlahan dan menguap.


"Kak Decklan?" gumamnya serak.


Decklan tersenyum.


"Ayo bangun." ia membantu gadis itu bangun. Kalau tidak begitu mereka nggak bakalan pergi-pergi nanti.


Untungnya Chaby bukanlah tipikal cewek ribet yang harus dandan sana sini sampe lama banget. Ia hanya mengganti kaos putih dan jins highwaist berwarna navi senada dengan jaket yang dipakai Decklan. Gadis itu sudah mandi sejak pulang sekolah tadi jadi nggak perlu repot-repot mandi ulang. Lagian badannya masih wangi kok.


Ketika mereka bertiga sampai di rumah Bara, salah satu pembantu rumah itu langsung menuntun mereka ke taman belakang. Bara dan Andra sudah sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing disana.


Chaby mengerlingkan mata senang saat melihat sajian makanan yang bervariasi diatas meja. Selera makannya langsung muncul. Ia ingin mencicipi semuanya. Jarang-jarang kan. Gadis itu mau mencomot keripik yang dilihatnya namun Decklan buru-buru memukul pelan tangannya sambil menunjukkan ekspresi galak.


Gadis itu balas menatap sang pacar dengan wajah memelas membuat Bara yang sedang membakar jagung tak jauh dari situ mengulum senyum. Ia merasa lucu dengan interaksi keduanya.


"Cobain satu aja kok." ucap Chaby masih memelas sambil mengangkat tangan menunjukkan jari telunjuknya didepan wajah Decklan. Cowok itu berdecak pelan, mengelus pipinya lembut. Ia lalu mengambil satu roti pita diatas meja dan diberikan pada gadis itu.


"Ini aja, batuk kamu belum sembuh." katanya lembut. Mau tak mau Chaby mengambilnya dengan wajah cemberut. Iih, nggak asik banget kalau mau ngemil terus ada kak Decklan. Kak Decklan itu lebih parah dari kak Danzel. Nggak boleh makan inilah, nggak boleh makan itulah, pokoknya nyebelin.


Gadis itu berjalan menjauh dari Decklan sambil membanting-banting kakinya sebal. Ia memilih duduk didekat Bara dan menonton cowok itu membakar daging dan seafood sambil mengunyah roti pita yang di kasih sama Decklan tadi.


"Pika, bantuin gue naro bumbu dong." seru Andra dari arah yang berlawanan dengan mereka.


"Baik kak." sahut Pika lalu berlari kecil kearah Andra.

__ADS_1


Chaby mulai menatap berkeliling. Menurutnya rumah kak Bara ini nyaman. Ia suka udaranya, mungkin karena di taman ini di tumbuhi banyak tumbuh-tumbuhan hijau. Ia kemudian teringat sesuatu dan melirik ke Bara lagi.


"Kak Bara?" Bara mengangkat wajah menatap gadis itu.


"Hm?"


"Kok mamanya kak Bara nggak keliatan?"


"Mama lagi arisan sama temen-temennya." jawab Bara. Matanya kembali fokus ke makanan yang sedang dibakarnya.


Chaby mengangguk-angguk mengerti. Berarti hari ini ia nggak bisa bertemu dong sama mamanya kak Bara dan kak Galen. Ya sudahlah, belum jodoh.


Kini Decklan sudah berdiri di sebelah Chaby. Pika dan Andra juga sudah  selesai mencampur bumbu di seafood dan daging mentah sisa yang akan mereka bakar. Decklan ikut membantu Bara membakar. Hampir sejam semua makanannya baru matang.


Mereka berlima duduk melingkar di meja bulat itu dan mulai menikmati makanan.


"Jadi beneran kak Bara yang masak hampir semua makanan ini?" tanya Pika dengan mulut penuh makanan. Ia dengan dari Andra tadi waktu mereka campur-campurin bumbu.


"Mm." sahutnya pendek.


Pika dan Chaby mengangguk-angguk kagum. Ternyata kak Bara pinter masak, masakannya enak-enak lagi. Pika pikir tadi kak Andra bohong.


"Kalo tahu gitu kemaren aku minta tolong ke kak Bara bikin nasi goreng buat Gatan bukannya ke Chaby."


Terdengar gelak tawa pelan saat Pika bicara. Ia jadi teringat bagaimana konyolnya Chaby masak nasi goreng waktu itu.


"Memangnya Chaby bisa masak?" tanya Andra melirik Chaby dengan tampang ragu. Ia tidak yakin.


Pika tertawa.


"Bisa banget kak, bahkan Chaby masak nasi gorengnya pake beras, bumbunya di campurin sama air, udah gitu minyak gorengnya segelas pula." ucapnya di sela-sela tawa.

__ADS_1


Mereka semua sekarang melirik Chaby dengan pandangan yang berbeda-beda membuat gadis itu malu dan cepat-cepat membenamkan wajahnya di dada Decklan saking malunya.


Pika gimana sih, aib orang kok di cerita-cerita. Dia kan jadi malu banget. Decklan ikut tersenyum. Ia pun masih sering mengingat kejadian hari itu. Bukan perkara Chaby masak nasi goreng. Tapi ketika gadis itu masuk ke kamarnya dan terjadi sesuatu yang di luar kepalanya.


Setelah makan mereka berlima masih berbincang-bincang lama menikmati kebersamaan mereka lalu berfoto bersama. Chaby yang mau. Katanya dia mau bikin album biar ada kenang-kenangan.


                                   ***


Di sebuah apartemen yang berseberangan dengan apartemen Danzel dan Chaby, berdiri sosok wanita paruh baya kira-kira umurnya di akhir empat puluh. Wajahnya tegas dan tanpa senyum. Sejak tadi ia terus memandang keluar jendela.


Pandangannya lurus ke bawah sana pada pasangan yang berjalan berdampingan sambil sambil saling membalas senyuman. Sih pria menggenggam tangan sang gadis begitu erat dan menatapnya penuh sayang sambil sesekali mencium keningnya.


Pria itu bukan Danzel.


Sudah hampir seminggu ini wanita itu terus mengamati gerak-gerik mereka dari tempat tinggalnya. Pria itu kerap mengantar sih gadis pulang.


Wanita itu tersenyum sinis dari kamar apartemennya.


"Tampaknya kau bahagia sekarang, Nam Sarang." gumamnya sinis lalu menyesap kopi yang sejak tadi digenggamnya.


Sudah bertahun-tahun ia mencari-cari keberadaan gadis itu dan kakaknya. Ia sangat beruntung karena akhirnya usahanya tidak sia-sia. Sekarang ia bisa menemukan mereka.


Tinggal tunggu waktunya. Pasti mereka akan sangat terkejut saat melihatnya. Ia sangat menantikan pertemuan itu. Wanita tua itu lalu tertawa licik.


🌴🌴🌴


                  


Buat kalian yang pengen aku up nya banyak, mohon bersabar yah soalnya akunya emang lagi sibuk sama kerjaan yang lain juga🙏


Kalo kalian suka sama cerita ini ayo dukung aku terus biar aku lebih semangat berkarya yah😉

__ADS_1


__ADS_2