GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 80


__ADS_3

"Decklan, lo nggak apa-apa kan?" tanya Elsa karena cowok didepannya itu hanya diam saja sejak tadi. Dalam hati ia merasa senang, pasti cowok itu sedang marah. Semoga saja mereka bertengkar hebat kalau perlu putus sekalian biar dia ada kesempatan.


Decklan menatap Elsa. Kali ini tatapannya lebih dingin ke gadis itu.


"Gue kenal cowok itu." ucapnya dengan nada rendah. Senyuman Elsa seketika menghilang.


"Lo kenal?" tanyanya lagi hati-hati. Jelas sekali ia lihat tadi Decklan emosi.


"Elsa, gue tahu selama ini lo terus deketin gue karena ada maksud lain. Terus terang gue terganggu." kata Decklan langsung, ia tidak ingin diganggu lagi. Nafas Elsa tercekat mendengar perkataan Decklan.


"Lo tahu gue udah punya tunangan tapi lo terus-terusan deketin gue di kampus dan itu bikin gue risih. Gue harap kedepannya lo nggak usah deketin gue lagi, masih banyak cowok lain yang lebih dari gue yang cocok sama lo." tambah Decklan tegas kemudian berdiri dan pergi dari situ.


Elsa masih terdiam kaku ditempatnya. Ia tersenyum kecut. Decklan sangat kejam, tidak mempedulikan perasaannya. Ia bisa mendengar bisikan-bisikan cewek-cewek di dekat situ.


Tidak. Elsa tidak terima. Ia berdiri cepat-cepat mengejar Decklan.


"Decklan!" panggilnya. Cowok itu belum jauh. Ia melihat Decklan tidak peduli dan terus berjalan, Elsa berlari menghadang langkah cowok itu.


"Apa dari diri gue yang kurang sama dia? Jelas-jelas gue jauh lebih cocok dari pacar lo yang manja, sok polos dan kekanakkan itu. Gue bisa ngimbangin lo dalam pelajaran dan nggak akan bikin lo sibuk karena terus-terusan ngurusin gue." sergah Elsa tidak malu lagi. Ia tidak ingin usahanya mengejar cowok itu selama ini sia-sia.


Decklan menarik napas panjang. Ia menatap Elsa serius.


"Lo tahu, Chaby memang sangat berbeda dengan gue, tapi dia satu-satunya perempuan yang bisa bikin gue jatuh cinta dan mengisi kekurangan gue. Dalam hal ini, lo nggak bisa." ucap Decklan penuh penekanan. Elsa mengepalkan tangannya kuat-kuat, hatinya belum bisa terima. Gadis itu berbalik pergi meninggalkan Decklan yang akhirnya menarik napas lega. Gila tuh cewek, batinnya.


"Kasian sih tuh cewek lo tolak mentah-mentah." Hugo merangkul bahu Decklan dengan pandangan lurus ke Elsa yang hampir menghilang dari pandangan mereka. Entah sejak kapan ia muncul, yang pasti ia dengar kalimat penolakan Decklan ke gadis itu.


"Andra kemana?" tanya Decklan tidak peduli dengan perkataan Hugo tadi.

__ADS_1


"Lagi ngobrol sama gebetan barunya."  jawab Hugo. Dahi Decklan berkerut samar. Andra punya gebetan? Cowok itu memutuskan tidak peduli lagi karena teringat Chaby. Ia harus menemui gadis itu sekarang juga dan membuat perhitungan.


"Kalo gue belum balik-balik juga, bilangin ke penjaga asrama gue ijin pulang ke rumah ." ucapnya ke Hugo dan berlalu pergi begitu saja. Hugo menggaruk-garuk kepalanya. Kenapa sih Decklan tergesa-gesa begitu yah, bukan seperti Decklan yang sangat tenang seperti biasanya.


                                  ***


Sejak keluar dari kampus tadi Decklan langsung mengemudi ke arah apartemen Chaby. Awas saja kalau gadis itu belum ada di apartemen.


Cowok itu menekan sandi apartemen dan masuk begitu saja. Ia sudah terbiasa melakukannya. 


Tidak ada siapa-siapa. Apartemen itu tampak sepi. Ini memang masih jam kantornya Danzel dan Galen jadi kedua pria itu pasti masih di kantor.


Langkah Decklan lurus ke arah kamar Chaby tapi gadis itu tidak ada. Cowok itu masih mencari-cari sebelum memutuskan menelpon sang pacar. Ia mendengar bunyi nada dering hp Chaby dari arah ruangan lain, berarti gadis itu ada.


Decklan berjalan dan terus mendengar dari arah mana bunyi nada dering itu. Ternyata kamar Danzel. Kamar itu terbuka lebar menampilkan Chaby yang setengah tidur diatas ranjang. Matanya masih terbuka sesekali. Decklan mengulum senyum tapi langsung mengingat maksudnya menemui gadis itu. Dengan langkah cepat ia berjalan dan duduk ditepi tempat tidur menepuk pipi Chaby.


"Kak Decklan?" gumamnya pelan. Matanya sudah sangat berat untuk membuka dengan sempurna. Ia sudah sangat mengantuk.


"Bentar aja tidurnya, aku mau nanya penting." ucap Decklan, tangannya terus mengelus-elus pemilik pipi halus itu.


"Besok aja nanyanya yah." balas Chaby malas. Decklan melotot. Apa katanya, besok? Ia bisa mati penasaran kalau nunggu sampai besok.


"Nggak ada besok-besok. Aku bisa gila kalo nunggu kelamaan." ketusnya. Tanpa pikir panjang cowok itu memaksa Chaby bangun dari tempat tidur dan membimbingnya ke kamar mandi ke depan wastafel lalu membasuh wajah gadis itu dengan air. Ia tertawa ketika mata Chaby terbuka lebar dan menatapnya kesal.


"Kak Decklaaan.." teriak gadis itu kesal. Ia tambah kesal karena cowok didepannya itu malah menertawainya. Chaby sudah siap-siap mau mengomeli Decklan tapi cowok itu malah membopongnya keluar. Ya ampun, kak Decklan kenapa sih hari ini. Katanya tadi waktu mereka telponan cowok itu mau belajar seharian, tapi sekarang malah tiba-tiba muncul disini dan mengganggu kegiatannya tidur. Padahal Decklan tidak pernah mengganggunya kalau dirinya sudah mengantuk begitu, tapi hari ini berbeda. Itu alasannya kenapa Chaby merasa aneh.


Decklan menurunkan Chaby di sofa luar.

__ADS_1


"Masih ngantuk?"


Chaby membuang muka sebal. Masih ngantuk gimana, kantuknya sudah benar-benar hilang sekarang dan ia merasa kesal.


"Tadi pulang sekolah kemana?" cowok itu memulai interogasinya. Chaby menoleh. Dari tatapan Decklan jangan-jangan cowok itu tahu lagi dia dan Pika mampir ke KFC. Dia harus bohong nggak yah? Tapi kenapa juga harus bohong? Chaby terus menimbang-nimbang.


"Kamu tahu wajah bohong kamu bisa ketahuan sama aku kan?" gumam Decklan memberi peringatan dengan menatap Chaby tajam. Belum ngomong saja ia sudah tahu kalau gadis didepannya itu sedang mencari-cari alasan.


Chaby menyengir lebar.


"Aku sama Pika mampir ke KFC." akhirnya ia memilih jujur saja, daripada kena semprot kalau bohong, mending cari aman.


Ternyata ada Pika juga, batin Decklan. Elsa memang sengaja mau memanas-manasinya tadi. Tapi bisa dibilang berhasil sih, karena dirinya memang merasa cukup emosi mendengar Chaby datang ke tempat itu apalagi ada cowok lain, ia cemburu.


"Sama siapa lagi?" tanyanya lagi.


"Hah?"


"Ke KFC sama Pika terus sama siapa lagi?"


"Ohh.., sama Karrel temennya Pika." Alis Decklan terangkat. Jadi cowok itu teman Pika.


Tapi ia tetap tidak suka, ia masih ingat bagaimana Chaby dan cowok itu saling tersenyum satu sama lain didalam foto yang di tunjukkan oleh Elsa tadi.


"Kak Decklan jangan marah ya, aku nggak makan ayamnya kok. Cuman kentang doang." pinta Chaby. Decklan tidak menjawab. Ia hanya menatap Chaby terus dan menarik gadis itu kedekatnya lalu tanpa ijin menggigit tulang selangkanya memberikan tanda kepemilikannya pada gadis itu.


"Auuwww!"

__ADS_1


__ADS_2