
Jumat sore, Danzel mengajak Chaby dan Arion jalan-jalan. Agar besoknya dia bisa pergi berduaan dengan Sharon tanpa ada gangguan dari siapapun. Mereka tidak hanya bertiga. Danzel mengajak Galen juga. Rasanya sudah lama sekali mereka tidak bersama dengan adik tercinta mereka itu.
Dulu ketika Chaby masih remaja, ia sulit sekali berpisah dengan keduanya. Hidupnya sangat bergantung pada dua pria itu. Sampai akhirnya Decklan masuk dalam kehidupan Chaby. Awalnya Danzel berpikir Chaby akan hidup bersamanya sampai dia tua. Sayangnya, semua yang terjadi tidak seperti yang dia bayangkan. Memang awal-awal Chaby menikah rasanya begitu sulit berpisah dengan adik yang dia besarkan itu, apalagi mendengar Chaby yang tiba-tiba kecelakaan mobil saat menuju bandara bahkan dinyatakan meninggal membuatnya hampir gila karena tidak sanggup kehilangan.
Sekarang bisa melihat Chaby lagi, dirinya sangat bersyukur.
Setelah puas jalan-jalan dan menonton animasi kesukaan Arion, mereka mampir ke restoran untuk makan. Habis itu langsung pulang ke apartemen Danzel. Galen pulang ke rumahnya. Sebenarnya ia masih inginĀ mampir ke apartemen Danzel, menikmati kebersamaannya dengan Chaby. Tapi nanti saja. Mamanya sedang menunggunya di rumah. Ia akan cari waktu lain jalan-jalan lagi dengan adiknya itu.
Hari ini pertama kalinya Chaby kembali menginjak apartemen yang pernah menjadi rumahnya itu. Ia tumbuh besar di tempat ini. Chaby memandang tempat itu dengan serius. Ia merasa tidak asing dengan apartemen ini.
"Ini rumah kita. Kamu besar di sini." ucap Danzel mengusap-usap kepala Chaby penuh sayang. Arion sudah tertidur didalam kamarnya. Malam ini Chaby sudah minta ijin ke Decklan untuk menginap di rumah kakaknya sesuai dengan permintaan Danzel.
Chaby terus memandangi tempat itu. Ada yang aneh. Entah kenapa ia merasa sangat emosional dengan apartemen ini. Apalagi ketika sang kakaknya membawanya ke kamar yang katanya miliknya itu. Ketika di rumah suaminya, ia sempat merasakan hal yang sama namun ia selalu menepis jauh-jauh pikirannya itu karena kepalanya sangat pusing kalau dipaksa mengingat. Tapi malam ini, di apartemen ini, ia malah ingin memaksakan otaknya untuk mengingat. Ia sungguh ingin ingat kenangan apa yang pernah dia lewati di rumah ini. Gadis itu berpikir keras sampai-sampai kepalanya terasa begitu sakit.
__ADS_1
Chaby mengerang pelan sambil memegang kepalanya dengan kedua tangan. Danzel yang melihat menjadi khawatir sekaligus panik.
"Chaby, kenapa sayang? Mana yang sakit?" ujar Danzel memegangi Chaby lalu membimbing gadis itu ke ranjang. Chaby terus mengerang kuat akibat rasa sakit yang menyerang kepalanya. Danzel makin panik. Kenapa dengan adiknya? Kenapa tiba-tiba kesakitan begini?
"Sayang, hei..." gumam Danzel terus memegangi Chaby. Kira-kira tiga menit Chaby mengerang kesakitan kemudian terdiam sebentar seperti orang linglung sambil menatapnya lama.
"Kenapa, hm? Kamu sakit?" tanya Danzel lagi dengan suara lembutnya. Ia mengulurkan tangan membelai pipi Chaby, tapi Chaby tidak menjawab, hanya terus menatap kakaknya lama. Sesaat kemudian airmatanya terjatuh dengan deras membasahi pipinya.
"A..aku s..sudah ingat semuanya. Kakak sama kak Galen, aku ingat kalian yang besarin aku.." ucap Chaby sambil terus terisak.
Sejenak Danzel tidak berkata apa-apa, hanya menatap Chaby tanpa berkedip. Ia ingin mencerna apa yang baru saja dikatakan adiknya kepadanya. Ia ingin merasa yakin ini bukan mimpi. Ingatan Chaby sudah kembali? Adiknya benar-benar mengingatnya sekarang. Danzel melepaskan pelukan Chaby sebentar, memegangi bahu adiknya kuat-kuat.
"Kamu sudah ingat semuanya?" tanyanya memastikan. Chaby mengangguk pasti dengan mata penuh air. Danzel yang seakan tidak percaya langsung menarik Chaby ke dalam pelukannya, memeluknya erat-erat dan tanpa sadar airmatanya ikut jatuh membasahi pipinya. Bukan airmata kesedihan, tapi ia merasa sangat terharu sekaligus senang. Ingatan Chaby sudah kembali. Adiknya mengingatnya. Ya Tuhan, ini sungguh berita yang menggembirakan.
__ADS_1
"Siapa lagi yang kamu ingat?" tanyanya. Kali ini tangisan Chaby mulai reda namun masih setengah terisak. Gadis itu menatap sang kakak dengan mata bengkaknya.
"Semuanya, saat masuk ke sini tadi, tiba-tiba kepala aku sakit sekali dan semua ingatan itu kembali begitu saja." jawab Chaby. Ia juga tidak tahu kenapa. Yang pasti ingatannya sudah pulih sekarang.
"Semuanya? Berarti semua orang yang ada dalam masa lalu kamu juga selain kakak?" tanya Danzel lagi. Chaby mengangguk. Mereka lalu kembali berpelukan saling melepaskan rindu. Sangat lega rasanya mendengar Chaby sudah mengingat semuanya. Danzel sampai tidak tahu lagi bagaimana cara mengungkapkan kebahagiaannya, ia mencium pipi Chaby berkali-kali dan terus memeluk sang adik erat-erat. Begitupun dengan Chaby. Ia berterimakasih pada Tuhan yang sudah membuat ingatannya kembali pulih. Rasanya ia ingin bertemu kak Decklan sekarang juga dan berteriak kuat-kuat di telinga suaminya itu kalau dirinya sudah ingat semuanya. Juga bertemu Pika, kak Andra dan Bara. Tak lupa ada kak Galen juga. Dan kecelakaan itu...
"Kakak denger nggak kondisi pak sopir yang di mobil sama aku waktu kecelakaan enam tahun lalu?" ia ingat enam tahun lalu ia sudah siap-siap pergi bulan madu bersama Decklan ke luar negeri. Tapi karena ada yang salah dengan tiket yang dipesan, Decklan berangkat ke bandara lebih dulu. Chaby menyusul setengah jam kemudian. Sayangnya taksi yang ia tumpangi menuju bandara mengalami kecelakaan.
"Seingat kakak, saat sopir itu ditemukan, dia sudah meninggal dunia." ucap Danzel. Chaby menghembuskan nafas berat. Menyayangkan kematian sopir itu. Danzel kembali mengulurkan tangan menyentuh pipi Chaby.
"Kepala kamu masih sakit?" tanyanya. Chaby menggeleng pelan.
"Ya udah, kalo gitu kamu istrihat ya. Kita ngobrol lagi besok. Kakak bakal temenin sampai kamu tertidur." kata Danzel. Chaby menurut saja. Sikap kakaknya ini mengingatkan saat dia masih sekolah dulu. Ia rindu saat-saat itu. Ketika dirinya sangat dimanjakan oleh kedua kakak tersayangnya.
__ADS_1