GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 58


__ADS_3

Ketika sibuk memeriksa laporan-laporan dari para karyawannya, Danzel tiba-tiba teringat adiknya. Ia merasa aneh karena akhir-akhir ini dirinya tidak pernah memikirkan Chaby. Maksudnya, hatinya tidak pernah segelisah ini saat memikirkan adiknya. Perasaan ini, sama dengan perasaan waktu dirinya mendengar kecelakaan yang menimpa sang adik enam tahun lalu.


Danzel merasa sangat gusar. Chaby adalah adik kandungnya, mereka sangat dekat. Wajar kalau mereka memiliki semacam ikatan batin. Oleh sebab itu, Danzel meninggalkan semua pekerjaannya dan pergi secepat mungkin ke rumah sakit. Ia mau memastikan keadaan sang adik. Ia tidak mau kejadian yang sama terjadi pada Chaby seperti enam tahun lalu. Tidak, tidak. Dia tidak bisa.


Laki-laki itu langsung melompat keluar dari mobilnya dan berlari masuk ke dalam rumah sakit. Ia berhenti didepan lift, menunggu lift itu terbuka. Namun suara teriakan keras dari arah kiri membuatnya menoleh. Beberapa orang yang ada ditempat itu  ikut berlarian menuju bagian kiri dekat tangga ke lantai dua.


"Seseorang terjatuh dari tangga!" seru salah satu perempuan yang memakai baju perawat. Danzel terus mengamati sosok perempuan yang berguling-guling dari atas tangga itu. Tentu saja mereka sudah tidak bisa menolong gadis itu yang terguling-guling di tangga itu selain menunggunya mencapai lantai bawah dan menolongnya.


Tapi, gadis yang terjatuh dari atas sana tampak begitu familiar. Mata Danzel tidak bisa berpaling dan terus memandang ke depan. Ketika gadis itu mencapai lantai, Danzel langsung menyadari kalau itu adalah adiknya. Tubuhnya seperti bisa merasakan apa yang dirasakan oleh adiknya sekarang.


"CHABY!" ia berteriak keras dan berlari ke Chaby dengan wajah sangat panik. Ia tidak mau kehilangan adiknya lagi. Tidak mau.

__ADS_1


Danzel menerobos beberapa orang yang berdiri mengitari Chaby dan langsung berhambur ke adiknya. Mengangkat kepala Chaby ke atas pahanya. Adiknya itu sempat membuka matanya sesaat sebelum akhirnya tidak sadarkan diri. Tanpa pikir panjang Danzel langsung menggendong Chaby, membawa gadis itu agar segera mendapatkan penanganan secepat mungkin. Apalagi Chaby saat ini sedang hamil.


"Panggil dokter sekarang juga!" teriak Danzel ke beberapa orang yang memakai pakaian perawat. Teriakannya begitu menggelegar dan terdengar panik. Andra, dokter yang kebetulan bertugas di situ hari ini ikut terkejut melihat keadaan Chaby.


"Dia kenapa?" tanyanya menatap Danzel.


"Jatuh dari tangga."


                                   ***


Sementara itu Luna berlari cepat dan bersembunyi ke dalam toilet. Tangannya masih gemetaran akibat perbuatannya pada Chaby tadi. Meski begitu, ia tidak menyesal sama sekali. Ia berharap gadis bodoh itu keguguran.

__ADS_1


Ia masih ingat semalam ketika dirinya hendak pergi menemui Decklan di ruangannya. Tapi pria itu sama sekali tidak ada diruangannya. Lalu ia teringat istri pria itu yang sedang di rawat di rumah sakit. Luna merasa sih gadis bodoh itu hanya merepotkan Decklan saja. Padahal pria itu sudah sangat sibuk dan lelah dengan pekerjaannya. Ia tidak suka Decklan dibuat repot oleh istrinya tersebut.


Luna lalu pergi malam itu untuk melihat apa yang dilakukan Decklan dikamar rawat istrinya. Tapi yang ia lihat malah sesuatu yang sangat dia benci. Malam itu, ia menonton dari balik kaca pintu ruangan itu bagaimana pasangan suami istri itu bercinta dengan panasnya. Bahkan suara desah*n itu membuat kebenciannya pada Chaby makin menjadi-jadi.


Mungkin dia memang sudah gila. Tapi malam itu dalam pikirannya hanyalah melenyapkan sih bodoh itu dari dunia ini. Dengan begitu dia bisa memiliki Decklan untuk dirinya sendiri. Tekadnya begitu kuat untuk menyakiti Chaby. Karena itu, ia terus mencari kesempatan dengan mengamati setiap gerak-gerik gadis itu pagi ini.


Luna tersenyum penuh kemenangan ketika melihat istri Decklan itu dengan cerobohnya berdiri menghadap tangga. Takdir berpihak padanya. Bahkan tidak ada CCTV di tempat itu. Ia jadi gampang melancarkan aksinya. Lalu tanpa memikirkan apa-apa, ia melangkah perlahan, berdiri didepan sih gadis bodoh itu yang sibuk menikmati apelnya. Luna melihat kanan-kiri. Saat tidak didapatinya orang lain di tempat itu, tanpa aba-aba ia langsung mendorong Chaby dengan sekuat tenaga. Setelah melakukan perbuatan jahat itu, Luna cepat-cepat berbalik pergi ke toilet. Bersembunyi sebentar di dalam sana sambil menenangkan diri. Ia tidak tahu ada seseorang yang merekam perbuatan jahatnya diam-diam.


Orang yang merekam itu bahkan tidak percaya sama sekali dengan apa yang baru dilihatnya. Ia masih syok karena dokter yang dianggap baik dan ramah oleh banyak orang di rumah sakit itu akan melakukan hal kejam seperti itu.


"Luna, aku sama sekali tidak menyangka." gumam orang yang merekam perbuatan Luna tadi. Entah sudah yang keberapa kalinya ia menonton video yang direkamnya tadi. Ia bingung harus bagaimana dengan video itu. Melaporkannya atau tidak.

__ADS_1


__ADS_2