
Paginya di sekolah Chaby harus rela sendirian dalam kelas tanpa di temani Pika. Gadis itu ijin nggak masuk selama dua hari karena mau ikutan lomba melukis katanya. Jadi besok ia masih akan sendirian lagi.
Huffft...
Chaby menghembuskan nafas lelah. Ternyata nggak asik kalau nggak ada Pika. Ia sudah terbiasa dengan keberadaan cewek itu.
Pandangannya menatap ke sekeliling ruangan kelas yang terbilang besar itu. Kebanyakan teman-teman sekelasnya tampak sibuk dengan kegiatan mereka masing-masing. Ia tidak akrab dengan kebanyakan dari mereka dan ragu-ragu untuk menyapa hanya untuk sekadar basa-basi. Ia merasa mereka pun tidak terlihat tertarik untuk mengajaknya ngobrol.
Gadis itu akhirnya memutuskan keluar. Ia juga ke belet pipis jadi lebih baik pergi ke toilet aja mumpung belum ada guru yang masuk.
Sepanjang perjalanan menuju toilet tidak terlihat satu siswa pun di koridor. Padahal biasanya tempat itu selalu ramai dengan bisik-bisik para penghuni sekolah itu. Mungkin karena sekarang masih jam belajar, tentu saja semua murid pasti berada di dalam kelas.
Sesekali Chaby merinding dan mempercepat langkahnya. Kenapa toiletnya jadi berasa jauh banget yah?
Ia jadi parno sendiri.
BUKK!!!
Chaby kaget bukan main ketika badannya tiba-tiba terjungkal kedepan dan jatuh dengan keras ke lantai. Perutnya terbentur keras hingga membuatnya merasa sangat kesakitan.
Gadis itu ingin menangis seketika tapi ucapan Decklan tiba-tiba terngiang-ngiang dikepalanya
"Jangan gampang nangis didepan orang lain."
Chaby menahan rasa sakitnya dan berusaha keras untuk tidak menangis.
Ia bangun perlahan sambil memegangi perutnya yang kesakitan.
Gadis itu menaikkan wajahnya menatap dua siswi yang sejak tadi hanya melihatnya tanpa berniat membantu. Ia kenal salah satu diantara mereka. Itu Nana, kakak kelasnya. Cewek itu memang sengaja menjulurkan kakinya kedepan untuk membuatnya terjatuh.
Nana tersenyum sinis.
"Kenapa, mau marah? Lo sendiri yang nggak ngeliat kaki gue didepan terus jatoh." katanya enteng. Ia masih dendam karena kejadian di pestanya waktu itu. Apalagi gara-gara nih cewek ia jadi nggak bisa deketin Decklan lagi. Ia masih tidak rela dirinya yang sudah mengajar cowok itu lebih dari dua tahun ini tapi malah kalah sama adik kelas sialan itu.
__ADS_1
"Kasian, mau nangis tuh Na." timpal Gista cewek yang bersama Nana tadi dengan nada mengejek.
Chaby hanya menunduk takut-takut lalu cepat-cepat berbalik pergi meninggalkan dua cewek yang sekarang tersenyum puas dengan perbuatan jahat mereka itu. Pas banget mereka ketemu tuh adek kelas saat nggak ada pawangnya. Di saat semua orang lagi nggak ngeliat, Nana bisa kasih perhitungan biar dia tahu diri.
Chaby berlari kencang sambil menahan tangis. Ia tidak kembali ke kelasnya. Gadis itu malah masuk begitu saja ke kelas Decklan dan langsung memeluk cowok itu. Bangku yang diduduki Decklan bahkan hampir terjungkir kebelakang kalau tidak cepat-cepat di tahan oleh Bara.
Gadis itu membenamkan wajahnya di dada bidang cowok itu lalu menangis tanpa suara membuat Decklan tertegun. Kenapa dengan gadisnya?
Semua orang yang sedang serius mendengar pelajaran dalam kelas itu jadi tidak fokus dan memusatkan perhatian mereka pada Chaby yang tiba-tiba berlari masuk kelas itu dan memeluk Decklan. Sang guru matematika yang sejak tadi serius menjelaskan didepan pun ikut terheran-heran.
Decklan bisa merasakan seragamnya yang mulai basah. Gadis itu menangis? Rahang cowok itu mengeras. Sialan, siapa yang mengganggunya. Tangannya terangkat memegangi kepala Chaby bermaksud ingin menatapnya dan bertanya tapi gadis itu seperti tidak siap dan makin kuat membenamkan kepalanya di dada cowok itu sambil terus menangis.
Kejadian itu berlangsung tidak lama karena Chaby tiba-tiba berhenti menangis dan langsung muntah ke lantai membuat semua orang heboh.
Decklan kaget bukan main dan mendadak panik. Bara disebelahnya dan Andra yang duduk dibelakang mereka cepat-cepat berdiri. Chaby sudah terlihat pucat.
Decklan meraih gadis itu dan memeriksanya. Suhu badannya biasa saja, tidak panas atau demam. Tapi kenapa bisa tiba-tiba muntah?
"Chaby, lo sakit perut?" tanya Andra karena dari tadi ia melihat gadis itu terus memegangi perutnya. Chaby tidak menjawab, tenaganya sudah mau habis. Ia menyandarkan kepalanya pada Decklan di belakangnya sambil terus memegang perutnya.
"K..kak Decklan." gumamnya tanpa tenaga. Matanya sesekali tertutup, suaranya terdengar seperti orang mau pingsan.
"Please Chaby, jangan nakutin aku." balas Decklan cemas dan makin panik. Ia lalu menggendong gadis itu dan berlari keluar membawanya ke UKS.
***
Decklan memperhatikan dengan serius dokter Nina, dokter yang bertugas di sekolah itu yang sejak tadi memeriksa Chaby.
Pria itu duduk di kursi sisi tempat tidur. Tangannya terus menggenggam Chaby sejak tadi, menemaninya. Sesekali gadis itu mengeluh sakit saat sang dokter menekan bagian perutnya.
"Apa yang kamu makan tadi pagi?" tanya dokter Nina menatap Chaby.
"Dia sarapan roti dan susu kayak biasanya dok." Decklan yang menjawab. Menurutnya Chaby masih terlalu lemah untuk bersuara.
__ADS_1
Dokter Nina tampak berpikir. Sepertinya memang tidak ada yang salah dengan makanan. Wanita itu menatap Chaby lagi.
"Apa ada benda keras yang kamu tabrak tadi?" tanyanya.
Decklan ikut menatap Chaby, ingin tahu. Mungkin saja itu alasan gadis itu menangis tadi. Chaby menatap dokter Nina dengan mata bengkaknya.
"A..aku tadi jatoh, terus perut aku ke bentur lantai dok." jelasnya pelan.
Mata Decklan melebar. Ia lalu mencondongkan tubuhnya kedepan wajah Chaby tidak peduli mau ada orang lain atau tidak di situ. Ia khawatir. Sebelah tangannya terangkat mengusap lembut puncak kepala Chaby dan menyampirkan rambut gadis itu ke belakang telinga. Cowok itu tertawa kecil ketika melihat mata gadis itu yang masih bengkak akibat menangis tadi.
Dokter Nina berdeham. Malah ia yang jadi malu melihat pasangan itu.
"Ehem."
Decklan melirik sang dokter lalu tersadar dan memberi wanita itu ruang supaya bisa leluasa memeriksa Chaby.
"Sepertinya dia mengalami cedera ringan karena terbentur keras. Mungkin itu yang menyebabkannya tiba-tiba muntah." dokter Nina menjelaskan.
"Sebaiknya dia istirahat di rumah beberapa hari ini. Saya akan memberi resep obatnya setelah itu kamu bisa membawanya pulang." tambahnya menatap Decklan.
"Apa dia perlu di rontgen dok?" tanya cowok itu.
Dokter Nina menggeleng.
"Tidak perlu, cukup istirahat beberapa hari saja sampai kondisinya membaik."
Decklan mengangguk mengerti. Pandangannya beralih ke Chaby lagi yang ternyata sudah tertidur. Ia tersenyum tipis.
"Ini resepnya."
Dokter Nina menyodorkan sebuah kertas kecil ke depan Decklan lalu berbalik pergi setelah cowok itu mengambilnya.
__ADS_1