
Decklan berniat untuk membawa Chaby ke psikiater siang nanti. Itu sebabnya ia memutuskan pulang lebih cepat meski yang beralasan tadi adalah Bara. Besok Decklan mulai kuliah lagi dan akan kesulitan punya waktu karena ia tinggal di asrama yang ketat itu. Ia juga sudah menelpon dan mengatur waktu hari ini untuk bertemu dengan salah satu psikiater yang ia kenal di rumah sakit keluarganya, juga termasuk seniornya di kampus.
Mereka sudah sampai di rumah Decklan. Andra dan Bara sendiri telah pulang ke rumahnya masing-masing. Chaby, Decklan belum mengantarnya pulang karena itu tadi, ia mau membawa gadis itu ke psikiater tapi sebelumnya, cowok itu mengajak kekasihnya itu ke dalam kamarnya untuk bercerita serius. Ia ingin mengatakan niatnya pada Chaby karena ia tidak mau nantinya Chaby kaget ketika berhadapan dengan orang yang akan mereka temui nanti.
"Decklan, kamu sama Chaby jangan berbuat yang aneh-aneh ya. Ingat kalian belum nikah!" tegur mamanya dari ruang nonton. Mamanya sedang menemani Gatan menonton kartun namun matanya tidak lepas dari anak-anaknya yang baru sampai itu. Tante Lily juga melihat Decklan saat cowok itu menarik Chaby naik tangga. Kemana lagi kalau bukan kamarnya tuh cowok. Kalau ke kamarnya Pika, anak perempuannya itu tidak mungkin cuek saja dengan tidur-tiduran di sofa.
Sebenarnya perempuan tua itu percaya sama Decklan tapi sebagai seorang ibu ia tetap punya kewajiban untuk mengingatkan, siapa yang tahu nanti tiba-tiba mereka tidak tahan dan malah berbuat yang tidak-tidak, apalagi Chaby masih sekolah. Walau Decklan anak kandungnya, tante Lily tidak ingin Chaby di rusak oleh cowok itu sebelum waktunya. Chaby sudah ia anggap sebagai anaknya sendiri.
"Ia ma, aku mau ngomong serius aja bentar, berdua sama Chaby." sahut Decklan sopan dari anak tangga. Ia tidak mau membantah mamanya. Baginya teguran orang tua itu sangat penting karena mereka lebih berpengalaman. Sepintar apapun dirinya dalam menjaga hubungan, tetap saja masih kalah dari kedua orang tuanya yang sudah menikah bertahun-tahun.
Tante Lily mengernyit bingung, bicara serius? Wanita paruh baya itu jadi penasaran dengan kata serius yang di maksud sang anak. Kira-kira apa yah? Pandangannya beralih ke Pika yang kini menatapnya juga.
"Jangan tanya aku ma, aku nggak tahu." ujar Pika seolah tahu arti tatapan sang mama. Ia lalu menutup matanya, masih malas naik kekamarnya. Gadis itu merasa kelelahan setelah mengikuti kegiatan dari kemarin.
Di kamarnya, Decklan mendudukkan Chaby di tempat tidur besarnya lalu menggeser kursi dan duduk berhadapan dengan gadis itu. Tangannya memegang bahu Chaby dan menatapnya serius.
Chaby mengerutkan kening bingung. Ada apa sih? Ia terus menatap cowok didepannya itu dan menunggunya bicara.
"Habis ini kita ketemu teman aku yah." gumam Decklan pelan. Tangannya menyentuh surai rambut Chaby dan menyelipkan dibelakang telinga gadis itu.
"Teman yang mana?"
__ADS_1
"Dokter, psikiater." mata Chaby melebar.
"Mau ngapain? Kak Decklan mau nyuruh teman dokternya kak Decklan periksa kalo aku beneran gila apa nggak?" ketusnya tiba-tiba menjadi sensitif. Decklan menggenggam kedua tangan gadis itu. Chaby memilih memalingkan wajah kearah lain.
"Liat aku." pinta cowok itu tapi Chaby tetap cuek. Ia sudah mengerti maksud Decklan mau membawanya ke psikiater. Bohong kalau dirinya tidak tahu karena kak Danzel juga pernah mau mengobatinya dulu dengan membawanya bertemu dengan orang-orang profesional di bidang kejiwaan itu. Ia akui mereka cukup membantunya. Yang dirinya benci adalah, ia akan dipaksa lagi mengingat kenangan buruk yang tidak mau ia ingat itu.
Chaby merasakan sentuhan Decklan di dagunya, memaksanya menatap cowok itu.
"Sayang, aku cuma ingin kamu sembuh dari trauma kamu." ucapnya lembut. Chaby balik menatap Decklan serius, memegangi tangan yang kini menyentuh wajahnya dan menatapnya lurus-lurus.
"Aku tahu kak Decklan peduli sama aku. Dulu kak Danzel pernah bawa aku ke psikiater juga. Menurutku mereka cukup membantu, tapi..," ucapan Chaby tertahan, Decklan terus menatapnya, menunggu gadis itu melanjutkan perkataannya.
"Perawatan seperti itu membuat aku harus mengingat kejadian dulu, dan aku nggak suka. Aku lebih milih bersama dengan orang-orang yang aku sayang, nyiptain banyak kenangan indah sampai aku benar-benar lupa kalau aku pernah mengalami kenangan yang buruk dulu." tutur Chaby dari hatinya yang paling dalam. Mereka masih saling menatap dan tatapan itu makin dalam. Decklan seolah bisa merasakan apa yang sedang gadis itu rasakan sekarang ini. Ia tidak mau memaksa dan akan menghargai apapun keputusan Chaby. Saat berbicara serius seperti ini, entah kenapa ia melihat gadis itu begitu dewasa.
"Kalau itu keputusan kamu, aku janji akan terus disisi kamu." gumam Decklan penuh pengertian.
Ekspresi Chaby berubah senang.
"Sampai tua? Sampai aku jadi jelek? Janji kak Decklan nggak bakalan tinggalin aku?" tanyanya bertubi-tubi. Decklan tertawa pelan. Ia lalu meraih pinggang Chaby sampai badan mereka bertubrukan dan menatap gadis itu cukup lama sebelum bicara.
"Kalau kamu, mau nggak bersama aku sampai tua? Sampai aku jadi kakek-kakek jelek?"
__ADS_1
Chaby pura-pura berpikir lalu tanpa ijin malah mencium pipi Decklan, melepaskan diri dari cowok itu dan berlari keluar.
Decklan tersenyum lebar. Meski tidak menjawab dengan kata-kata, ia tahu bahwa ciuman itu mewakili jawaban sang kekasih. Cowok itu memegang dadanya yang berdebar dan terus senyum-senyum sendiri. Kalau ada yang melihat ia pasti sudah disangka gila. Iya, gila karena cinta.
***
"Udah ngomong seriusnya sama Decklan?" tanya tante Lily ketika Chaby ikut bergabung nonton dengan mereka. Chaby mengangguk. Tante Lily hanya senyum-senyum penuh arti. Ia sebenarnya ingin tahu apa yang mereka bicarakan tapi yah sudahlah, itu urusan anak muda kayak mereka. Ibu-ibu sepertinya jangan terlalu ikut campur.
"Ma, mama katanya mau pergi arisan." kata Pika mengingatkan. Cewek itu ikut nimbrung bareng mereka. Pika melirik jam tangannya dan baru sadar ternyata udah hampir sejam ia ketiduran.
"Oh iya mama lupa." sang mama menepuk kepalanya lalu mengambil ancang-ancang berdiri.
"Pika, Chaby, jagain Gatan yah. Mama mau ikut arisan dulu. Ingat, kalau mau makan, bilang ke kak Decklan aja jangan sembarangan kayak kemaren-kemaren." ujar mamanya menatap Pika dan Chaby bergantian kemudian pergi. Mereka mengangguk lalu kembali sibuk menonton.
Saat lagi seru-serunya nonton, bel rumah mereka malah berbunyi. Mau tak mau Pika berdiri dengan malasnya membukakan pintu. Siapa sih, hampir malam juga. Nggak mungkin kak Danzel atau kak Galen. Sekarang kan kakaknya yang kebanyakan mengantar Chaby kalau lagi main ke rumah itu.
"Kak Bara?" seru Pika melihat Bara yang telah berdiri didepan pintu rumahnya. Bara tersenyum sambil melambai-lambai padanya.
Ya Tuhan, Pika merasa jantungnya berdegup kencang.
_______________
__ADS_1
Sampai disini aku mau bilang makasih buat kalian yang tetap dukung novel ini yah 😇
Lagi-lagi aku harus minta maaf karena belum bisa doble up 🙏