
Decklan sedang duduk sendirian di sudut restoran Perancis tempat ia dan Chaby terakhir kalinya makan bersama sebelum gadis itu menghilang dalam kecelakaan mobil.
Lelaki itu mendesah berat. Tak ada semangat. Wajahnya selalu murung jika mampir ke restoran ini. Ia sangat merindukan istrinya. Ia yakin Chaby masih hidup. Persetan dengan polisi yang menyimpulkan istrinya di nyatakan meninggal dalam kecelakaan itu. Ia tidak akan pernah menerima kenyataan kalau istrinya sudah meninggal. Karena hanya dengan begitu ia bisa melanjutkan hidupnya. Pria itu bersumpah akan menemukan Chaby. Tangannya mengeluarkan dompet dari saku celana.
"Di mana kamu sayang?" gumamnya lirih sambil memandangi dan mengusap-usap foto Chaby dalam dompetnya. Ia selalu menatap foto itu tiap hari tanpa absen seharipun, menyalurkan segala rasa rindunya pada sang istri yang selalu ia tunggu bertahun-tahun ini. Decklan lalu mengangkat kepalanya dan menatap keluar.
Cuaca siang ini sangat tidak mendukung. Hujan deras sejak tadi. Kayaknya ia harus membatalkan beberapa meetingnya siang ini.
Rintikan hujan terlihat sangat jelas dari balik kaca restorant itu. Sesaat kemudian wine yang di pesannya telah datang dan waiter menuangkannya untuk dia nikmati.
Ketika Decklan menatap lurus kedepan, matanya menangkap sesuatu. Sosok gadis yang tengah duduk membelakanginya di meja lain didepan sana tiba-tiba mencuri perhatiannya. Gadis itu tampak seperti Chaby dari belakang. Tanpa ragu pria itu berdiri, bersiap melangkah ke meja itu. Saking cepat-cepatnya pria itu berjalan, ia malah menabrak meja yang dilewatinya dan menjatuhkan alat makan yang ada di atas meja itu.
Beberapa mata dalam restoran itu meliriknya. Salah satu perempuan yang duduk di meja itu sudah bersiap marah namun tidak jadi ketika melihat wajah Decklan. Sorot mata pria itu dingin dan amat menusuk namun sanggup membuat banyak wanita tertarik.
"Tuan, anda tidak apa-apakan?" tanya gadis berambut pirang itu. Decklan tidak menghiraukannya. Matanya terus mencari-cari keberadaan gadis yang membelakanginya tadi namun sudah tidak ada. Sial, ia kehilangan gadis itu.
"Tuan?" ujar gadis pirang itu lagi. Dua teman sesama perempuan yang duduk disampingnya berbisik-bisik kegirangan. Dimata mereka Decklan bak seorang selebrity. Sayangnya lelaki itu tidak terlihat peduli sama sekali.
"Decklan,"
__ADS_1
Decklan berbalik ke arah panggilan itu. Andra sudah berdiri didepan sana. Ia bisa lihat tatapan bingung sahabatnya itu namun tidak berniat untuk menjelaskan. Lelaki itu malah balik ke mejanya setelah meminta seorang pelayan membersihkan pecahan akibat ulahnya tadi.
Andra yang masih bengong hanya mengikuti langkah Decklan dari belakang. Ia menyampirkan jasnya yang agak basah karena hujan ke sandaran kursi kemudian duduk, menatap lurus Decklan.
Semenjak menghilangnya Chaby, Decklan tidak pernah tersenyum lagi. Wajahnya selalu dingin dan kadang terlihat seperti mayat hidup saking jarangnya sahabatnya itu berbicara.
Decklan juga sudah jarang sekali berkumpul dengan dirinya, Bara dan Pika seperti waktu masih ada Chaby dulu. Hampir tidak pernah malah. Sekarang pria itu lebih banyak menghabiskan waktu dengan bekerja, menelpon semua suruhannya yang mencari Chaby untuk sekedar bertanya perkembangan pencarian mereka. Terakhir, pria itu selalu berdiam diri di sudut kamarnya meratapi kesedihannya akan kehilangan Chaby.
Sudah enam tahun. Andra akui ia juga sangat merindukan gadis itu. Mereka semua sama seperti Decklan yang tetap percaya jika Chaby masih hidup.
"Kenapa denganmu? Kau tampak tidak senang." tanya Andra kemudian. Ia melihat Decklan sesekali meneguk wine yang dituangkan pelayan tadi.
"Aku melihat gadis yang mirip Chaby."
Andra menghembuskan nafas pelan. Entah sudah yang keberapa kalinya Decklan bilang seperti itu.
"Kau tahu itu hanya ilusimu sa..." tiba-tiba perkataan Andra terhenti. Pandangannya menatap lurus kedepan dan tanpa sengaja melihat seorang gadis yang begitu mirip dengan Chaby berdiri di balik dinding kaca restoran itu. Gadis itu tampak sedikit lebih dewasa dari Chaby yang dulu, namun wajahnya memang sangat mirip dengan Chaby. Seperti pinang dibelah dua. Saking kagetnya Andra bahkan tidak bisa berkata apapun, bibirnya kelu. Ia terus menatap ke depan sana.
Decklan yang awalnya tidak peduli sedikitpun dengan perkataan Andra, menaikan wajahnya menatap lelaki itu. Ekspresi Andra seperti habis melihat hantu saja. Ia juga menggantung perkataannya tadi.
__ADS_1
"Kau kenapa?" tanya Decklan kemudian karena merasa bingung.
"C..c...Cha..Chaby." dengan susah payah Andra akhirnya meloloskan satu nama itu keluar dari mulutnya. Nama yang sanggup membuat seluruh tubuh Decklan panas dingin dan jantungnya berdetak tidak karuan.
Decklan membalikan badannya perlahan. Ia tahu selama ini dirinya terus berhalusinasi melihat seseorang yang mirip dengan istrinya. Namun kali ini bukan dirinya yang bilang, Andra sendiri yang mengucapkan nama Chaby dari mulutnya. Decklan sangat berharap perkataan Andra benar. Ia sudah hampir gila karena kehilangan sang istri, bahkan tahun-tahun pertama Chaby menghilang Decklan sempat di rawat di rumah sakit karena penyakit mental yang dideritanya.
Mata Decklan membulat besar ketika melihat gadis yang mirip Chaby itu sedang berdiri didepan sana. Tidak, bukan hanya mirip, itu memang Chaby. Ia sangat kenal istrinya. Perasaan senang bercampur haru menyelimuti hati Decklan.
Lelaki itu berubah gugup dan langsung berdiri dari kursi. Ia berlari sekencang mungkin kedepan sana ketika sebuah mobil berhenti tepat didepan Chaby dan gadis itu naik ke dalam mobil itu.
Andra ikut berlari dari belakang Decklan. Orang-orang hanya menatap mereka dengan keheranan. Kali ini memang bukan hanya ilusi. Mereka benar-benar melihat Chaby. Saat mereka sampai di tempat Chaby berdiri tadi, mobil yang dinaiki gadis itu sudah melesat pergi meninggalkan tempat itu.
"ARGH!"
Decklan berteriak keras sambil mengacak-acak rambutnya frustasi. Ia merasa tidak bertenaga lagi. Ya Tuhan, Chabynya... Ia ingin berbalik menuju mobilnya di parkir untuk mengejar Chaby, tapi mobil yang dinaiki Chaby tadi entah kenapa begitu cepat menghilang dari hadapannya. Membuatnya tambah frustasi.
Andra disampingnya mengatur nafasnya lalu memegang bahu lelaki itu.
"Decklan, tenangkan dirimu. Bukannya kita sudah melihat Chaby? Kita bisa mencarinya nanti. Banyak cctv di lokasi ini. Aku yakin kita bisa menemukannya." ucap Andra berusaha menenangkan Decklan yang terlihat sangat gusar. Decklan menatapnya. Ia menjadi sedikit terhibur mendengar perkataan Andra.
__ADS_1
Hanya saja ada hal yang mengganjal dipikirannya. Kalau istrinya masih hidup dan tinggal tak jauh dari mereka, kenapa Chaby tidak pernah mendatanginya dan keluarganya?
Sesaat Decklan merasa ragu, tapi bukan berarti ia akan berhenti mencari tahu keberadaan Chaby. Ia yakin sekali yang dilihatnya tadi adalah Chaby. Dan ia pastikan akan menemukan istrinya itu dan meminta penjelasan.