
Sejak hari di mana Danzel mengatakan tertarik pada Sharon, lelaki itu semakin sering datang ke rumah Sharon. Memang dirinya kadang merasa tidak enak datang di malam hari menemui wanita itu karena siangnya kedua-duanya sama-sama sibuk bekerja. Tapi Danzel sungguh tidak bisa menahan diri untuk tidak menemui Sharon.
Dan sore menjelang malam itu, untuk pertama kalinya Danzel mengajak Sharon nonton. Dan untuk pertama kalinya pula Sharon merasa tidak bisa konsentrasi pada film yang ditontonnya. Setiap adegan di layar lebar itu sama sekali tidak dapat memasuki kepalanya. Konsentrasinya tercurah tuntas pada Danzel yang duduk bersebelahan dengannya. Judul film yang mereka tonton pun tidak sempat ia ingat.
Sharon tersentak ketika jemarinya yang dingin mendadak hangat oleh sentuhan Danzel. Pembuluh darahnya gemetar ketika jemari besar itu menggenggam dan meremas lembut jari-jari tangannya. Sharon ingin menepisnya karena malu, tapi ia seperti tidak memiliki kekuatan untuk itu. Ia merasakan tangan itu menggenggam jarinya lebih erat. Ia bahkan tidak bisa menolak ketika lengan Danzel melingkari bahunya lalu merengkuh tubuhnya ke dalam pelukannya.
Sharon menggigit bibirnya lirih. Perlahan ia merebahkan kepalanya ke bahu Danzel. Sungguh, dalam hidupnya hari ini adalah malam paling romantis yang pernah ia lewati bersama seorang pria. Bahkan pria itu sangat keren dan berkarisma. Sikap dingin yang awal dibencinya kini berubah menjadi sesuatu yang dia sukai. Keduanya kini tak fokus lagi ke film.
Danzel mulai berani menyentuh wajah Sharon. Sharon memejamkan matanya, saat jari-jari Danzel mulai bergerak membelai pipinya. Pria itu tersenyum tipis lalu menjauhkan kepala Sharon dari bahunya.
Dalam keremangan itu, untuk beberapa saat, mata mereka saling memandang. Dan Sharon tidak berpaling ketika Danzel mendekatkan wajahnya lalu mengecup lembut bibirnya. Tubuh Sharon bergetar, ia begitu gugup karena ini adalah ciuman pertamanya. Sebelumnya ia belum pernah berpacaran. Memang ada beberapa pria yang sempat mendekatinya, tapi Sharon merasa tidak cocok. Entah kenapa pada Danzel ia tidak bisa menolaknya seperti yang sebelum-sebelumnya. Pria itu seperti memiliki sebuah magnet yang tidak bisa di tolak.
Sebelum keduanya berciuman lebih jauh, film usai dan ruangan menjadi terang-benderang. Sharon tertunduk ketika mata indah Danzel masih menatapnya lekat. Ia tidak mampu membalas tatapan itu. Danzel menggamit lengannya, lalu sama-sama berdiri tanpa kata.
"Sabtu kamu ada acara?" tanya Danzel begitu mereka sampai di luar gedung. Sharon menggeleng. Ia lupa kalau hari itu ia sudah ada janji ternyata.
__ADS_1
"Aku boleh mengajakmu lagi kan?"
Sharon ingin mengangguk tapi ia tiba-tiba teringat kalau hari Sabtu nanti ia punya janji dengan Chaby dan Arion. Mereka mau pergi jalan-jalan bertiga di taman bermain.
"Aku lupa. Hari itu aku sudah ada janji." ucapnya. Dahi Danzel berkerut samar.
"Dengan siapa?" ia berharap Sharon tidak membuat janji dengan seorang pria.
"Adik dan ponakan kamu. Kami akan pergi ke taman bermain." sahut Sharon. Danzel seketika bernafas lega. Ternyata janjiannya sama Chaby.
Sharon diam sebentar kemudian bertanya.
"Kau mau mengajakku ke mana?" ia menatap Danzel.
"Aku ingin mengajakmu surfing."
__ADS_1
"Surfing?" Sharon tersentak senang. Ia rasa surfing sangat menyenangkan meski ia belum pernah mencobanya.
"Tapi aku belum pernah mencobanya." gumamnya tak semangat seperti tadi.
"Tenanglah, aku akan mengajarimu. Bagaimana, kau mau ikutkan?" tanpa pikir panjang Sharon mengangguk. Maaf Chaby, kali ini saja ia berkhianat. Danzel sendiri tersenyum puas melihat anggukan kepala Sharon. Lalu dengan mesra, ia menggenggam tangan perempuan yang sebentar lagi akan dia jadikan kekasihnya itu, membawanya pergi dari tempat itu.
"Kau ingin aku antar pulang sekarang, atau masih mau mampir ke tempat makan?" tanya Danzel meminta pendapat Sharon.
"Antarkan aku pulang saja. Masih ada yang harus aku kerjakan." sahut Sharon. Danzel mengangguk. Mereka berjalan berdampingan ke mobil Danzel.
\*\*\*
Setelah mengantar Sharon, Danzel langsung pulang ke apartemennya. Ia merebahkan dirinya ke sofa ruang duduk. Pria itu mengingat kebersamaannya dengan Sharon di bioskop tadi lalu menyentuh bibirnya.
Ini pertama kalinya ia mencium bibir seorang wanita. Walau hanya menempel sebentar, tapi bibir Sharon terasa begitu manis.
__ADS_1
Danzel tertawa. Ia tidak menyangka dirinya akan melakukan sesuatu seperti itu. Sharon sungguh mampu membuatnya tidak mampu menahan diri. Apa dia langsung menikahinya saja? Tidak, tidak. Mungkin Sharon akan kaget mendengarnya. Ia tidak boleh mengambil keputusan sepihak tanpa memikirkan pendapat Sharon. Sekarang biarkan mereka menikmati waktu berkencan dulu berdua. Sepertinya dia juga harus mengurangi pekerjaannya di kantor.