
Tante Lily, Pika dan Gatan tak berhenti-berhenti melongo karena melihat mobil Decklan yang penuh dengan belanjaan. Beberapa pasang sepatu kets, pakaian dan mainan. Sudah tiga kali Decklan bolak-balik dari mobil ke ruang tamu karena mengambil barang belanjaan mereka. Gatan, adik laki-lakinya yang kini telah tumbuh menjadi cowok remaja membantu Decklan.
Gatan tak kalah tampannya dari sang kakak. Tapi sifat mereka bertolak belakang. Kalau Decklan bersifat dingin dan sulit didekati, Gatan kebalikannya. Cowok itu sangat senang bergaul dan bersikap ramah pada siapapun.
"Abang kok belanjaannya banyak banget gini?" tanya Gatan masih terheran-heran. Entah berapa banyak duit yang dihabiskan oleh kakaknya itu.
"Kakak aja bingung kenapa dua bocah itu cepet banget ngambil barang-barang sampai sebanyak ini." kata Decklan menunjuk Chaby dan Arion yang kini sibuk sendiri memeriksa barang masing-masing. Ia memang mengijinkan istri dan anaknya itu mengambil apapun yang mereka suka ketika masuk mall. Tapi dirinya sama sekali tidak terpikir keduanya akan mengambil begitu banyak barang di luar dugaannya. Orang-orang yang mengantri di kasir bahkan sampai heran. Mereka kelihatan seperti mau membeli seluruh isi mall saja.
Decklan sendiri pusing karena limit kartu kreditnya terkuras sangat banyak dalam satu hari. Tapi ia tetap senang, karena istri dan anaknya sendiri yang porotin uangnya. Ia senang bisa memanjakan dua orang yang menjadi sumber kebahagiaannya itu.
"Bocah-bocah?" Gatan mengikuti pandangan Decklan. Pandangannya berhenti pada istri dan anak kakaknya. Perasaan hanya satu bocah di sana, kenapa kakaknya bilang dua? Cukup lama Gatan berpikir keras sampai akhirnya mengangkat bahu acuh tak acuh ikut masuk ke dalam.
"Arion beli apa itu?" tanya tante Lily. Ia duduk didekat Arion yang sibuk membuka-buka semua mainan barunya.
"Pelmainan Oma." sahut Arion tanpa melihat omanya, anak itu lebih tertarik dengan mainan barunya. Tante Lily ikut membantu membuka mainan lain yang masih terbungkus rapi di dalam dalam dus. Ada yang kecil, ada yang besar. Pokoknya ruang keluarga itu penuh dengan barang-barang.
"By, lo beli apaan?" Di sisi kiri ada Pika yang melihat semua barang belanjaan Chaby yang mulai ia keluarkan dari sekian banyaknya tas belanjaan. Ada pakaian untuk anak kecil beberapa potong, pakaian perempuan yang pasti untuk dirinya sendiri, dan beberapa potong pakaian laki-laki dewasa. Masih ada lagi dus-dus sepatu yang entah ada berapa banyak itu.
__ADS_1
Pika memilih membuka dus sepatu dan tertawa setelah melihat isinya yang kurang lebih sama dengan pakaian yang dilihatnya. Sepatu kecil ada beberapa pasang dengan jenis yang berbeda, sepatu kets perempuan, dan laki-laki dewasa. Pika jadi tahu sekarang kalau pakaian dan sepatu itu adalah milik keluarga kecil mereka. Kakaknya sih Decklan, Chaby dan Arion. Siapa lagi coba.
"Yang milih semua barang-barang ini siapa?" tanya Pika menatap Chaby.
"Aku." sahut Chaby semangat.
Decklan kini duduk di sofa yang berada berhadapan langsung dengan Chaby. Tangannya asyik memutar-mutar kunci mobil sambil menatap terus ke Chaby. Ia belum lihat barang-barang apa saja yang dibeli oleh istrinya. Ia pikir Chaby hanya membeli barang buat dirinya sendiri. Namun dia terpaku sesaat ketika melihat ada beberapa barang pria dewasa yang tercampur di semua belanjaan itu, yang kini sedang di atur-atur oleh gadis itu. Dia yakin sekali barang-barang itu dibeli untuknya . Karena gadis itu sempat menanyakan ukuran sepatunya tadi.
"Semua itu punya siapa?" Pika bertanya lagi sedikit melirik Decklan.
"Aku, Arion sama suami aku itu tuh, sih kak Decklan." tunjuk Chaby ke Decklan ia masih ingat suaminya itu memaksanya untuk memanggilnya dengan embel-embel kakak didepan. Ada rasa bahagia yang tidak bisa Decklan ungkapkan. Pria itu hanya tersenyum senang mendengar Chaby mengakuinya sebagai suami.
"Kamu beliin aku baju sama sepatu juga?" tanya Decklan terus memandangi istrinya. Tidak peduli merek apa yang Chaby beli, dia pasti akan memakainya nanti. Walau nanti mereknya biasa, ia tidak peduli. Ia senang karena istrinya yang memilihkan untuknya.
Pika dan tante Lily berpandangan saling memberi kode. Ini awal yang bagus menurut buat Chaby dan Decklan mereka.
"Kan yang beliin kak Decklan, emang situ lupa kalau tadi situ sendiri yang nyuruh aku sama Arion milih semua barang yang pengen dibeli, situ yang bayar?" balas Chaby dengan gaya yang begitu menggemaskan di mata Decklan.
__ADS_1
"Maksud aku kenapa ada punyaku juga?"
mendengar pertanyaan itu, Chaby menghentikan kegiatannya sebentar dan menatap Decklan sambil berkacak pinggang.
"Kan biar adil suami, istri, sama anak sama-sama beli baju sama sepatu baru. Masa aku beli cuma punya aku sama Arion. Tega banget dong sama suami.." celetuknya panjang lebar. Decklan tersenyum lebar. Ia mengacak-acak rambut Chaby lalu ikut duduk di lantai membantu istrinya mengatur-atur belanjaan, pria itu terlihat sangat bersemangat.
Tidak apa-apa deh istrinya itu belum mengingatnya, yang penting dia tidak ditolak lagi sebagai suami. Chaby sepertinya mulai menerima keberadaannya. Pokoknya ia harus menggunakan kesempatan ini untuk melakukan pendekatan yang lebih intim lagi pada istrinya nanti. Agar hubungan keduanya makin dekat. Dia juga akan memperbanyak waktunya buat Chaby. Ke tempat-tempat yang pernah menjadi kenangan mereka bersama dulu, siapa tahu Chaby akan mengingatnya perlahan-lahan.
"Gatan,"
"Iya ma?" Gatan berbalik ke mamanya yang terus menemani Arion.
"Nanti Arion tidur sama kamu yah. Besok baru mama bersihin kamar baru buat Arion." kata tante Lily lalu memainkan matanya menatap Decklan. Decklan sendiri tahu apa maksud mamanya tapi pura-pura cuek.
"Iya ma." sahut Gatan mengerti. Dirinya sudah tumbuh jadi cowok remaja. Sudah enam belas tahun, tidak mungkin tidak mengerti.
Pika yang didekat Decklan dan Chaby ikut senyum-senyum. Hufft.. dirinya jadi pengen nikah juga sama kak Bara. Mereka memang sudah pacaran sangat lama tapi tidak pernah berbuat sejauh itu. Bara sangat menghargai dan bersikap sopan padanya. Tiap kali mereka berciuman, Bara tidak pernah melakukan sesuatu yang berlebihan. Terkadang Pika berpikir apakah dirinya yang tidak menarik? Sampai Bara tidak pernah menyentuhnya sedikitpun bertahun-tahun ini. Namun setelah merenung, dia malah senang karena Bara tidak mau merusaknya sebelum mereka betul-betul sah. Bara sendiri yang bilang. Makanya sekarang dia harus rela jadi perawan tua. Umurnya sudah dua puluh tujuh tahun, sudah di usia yang cukup matang untuk menikah. Lihat saja Chaby, di umur yang sama dengannya gadis itu sudah punya anak berumur lima tahun. Bentar lagi nambah nih pasti.
__ADS_1