
Chaby terus menatap Decklan naik turun. Tampan iya, tinggi juga. Kalau terus diperhatikan mirip Arion juga. Kalau di lihat dari wajah sih, pria itu memang tipe idealnya Chaby sih penyuka pria-pria tampan. Tapi, yang katanya suaminya itu ekspresi wajahnya terlalu galak. Chaby merasa ngeri. Gadis itu lalu menatap Andra.
"Dokter yakin dokter yang ini suami aku? Kok suami aku kaku banget gini sih, ceria dikit kek. Gak asik banget deh. Jangan-jangan kalian bohong ya?" ujar Chaby asal. Ia memicingkan matanya menatap kedua pria itu dengan raut wajah curiga. Tidak baik langsung mempercayai orang asing begitu saja.
Sementara Decklan sendiri sudah kesal mendengar perkataan istrinya. Ia bisa saja berteriak dirinya jadi seperti sekarang ini karena kecelakaan yang menyebabkan gadis itu menghilang bertahun-tahun, tapi ia tidak melakukannya. Dirinya hanya perlu membuktikan kebenaran. Decklan lalu mengambil sesuatu dari dalam dompetnya dan memberikannya ke Chaby.
"Apa ini?" tanya Chaby.
"Bukti kalau aku suami kamu." gumam pria itu.
Mata Chaby turun ke sebuah foto kecil yang dikeluarkan Decklan dari dompet. Dalam foto itu ia melihat perempuan yang sangat mirip dengannya juga laki-laki yang mengaku sebagai suaminya ini berpelukan. Benar, itu memang dirinya.
Aduh, memang sih selama bertahun-tahun ini Chaby selalu berharap bertemu keluarganya atau orang-orang yang mengenalnya di masa lalu. Tapi pertemuan ini terlalu mendadak. Ia bingungĀ harus bereaksi seperti seperti apa.
Gadis itu menatap Decklan yang juga terus menatapnya tanpa berpaling sedetikpun. Ia merasa akrab dengan mata itu. Tapi ia memang belum bisa mengingat apa-apa.
"Sekarang jawab aku, tadi itu anak siapa?" tanya Decklan kemudian. Andra disampingnya memang yakin sekali kalau bocah itu anak kandung Decklan. Decklan pun memikirkan hal yang sama. Tapi mereka harus memastikan lagi, karena bisa saja mereka salah. Decklan juga ingin mendengar dari mulut Chaby sendiri kalau itu memang anaknya.
__ADS_1
"Anak akulah, anak siapa lagi!" sahut Chaby cepat. Decklan berdecak.
"Maksud aku papanya." imbuh cowok itu.
"Oh," Chaby belum menjawab. Ia sendiri tidak tahu siapa papanya Arion. Dia amnesia, jadi lupa.
"Aku nggak tahu. Pas aku bangun enam tahun lalu, aku sudah berada di klinik kecil di sebuah desa. Kata kak Sharon yang nolongin aku, aku koma selama seminggu. Waktu itu dokter juga bilang kalau aku lagi hamil mu.."
Chaby tidak menyelesaikan perkataannya karena Decklan kembali memeluknya erat. Setelah itu menciumi seluruh wajahnya, menyalurkan segala kerinduannya selama ini. Ia begitu senang akhirnya bisa melihat istrinya lagi. Bahkan, hadiah lainnya adalah, Chaby melahirkan putranya. Ya Tuhan, ia masih menyesali kenapa tidak menemukan Chaby lebih cepat. Pasti Chaby begitu kesulitan merawat anak mereka sendirian.
Chaby sendiri masih tidak terbiasa. Walau laki-laki itu suaminya, tetap saja ia masih merasa asing. Dirinya butuh waktu untuk menerima semua ini. Ia juga perlu tahu kenapa dirinya sampai terpisah dari suami dan keluarganya.
"Aduh, pelan-pelan dong." omel Chaby karena merasa Decklan berjalan terlalu cepat. Ia susah mengimbangi langkah pria itu. Decklan sendiri tidak bicara apa-apa. Ia hanya ingin melihat putranya sekarang juga.
Setiap staff yang bertemu mereka di koridor rumah sakit membungkuk hormat lalu berbisik-bisik. Decklan memang tidak peduli, tapi Chaby peduli. Saking banyaknya orang yang terus memperhatikan mereka dan berbisik-bisik saat berpapasan. Kenapa mereka seperti itu? Gadis itu terus bertanya-tanya dalam hatinya.
Tak lama kemudian mereka memasuki sebuah ruangan besar tempat Arion berada. Ada beberapa ruangan di rumah sakit itu yang khusus hanya dipakai oleh keluarga Decklan dan kerabat terdekatnya kalau sedang sakit dan butuh perawatan. Chaby sampai takjub sendiri melihat ruangan besar dan terlihat cukup mewah itu. Padahal ini rumah sakit.
__ADS_1
"Mama!"
Pandangan Chaby lurus ke depan. Ternyata Arion sudah bangun dan lagi ngobrol dengan seorang suster. Ia lalu melepaskan genggaman Decklan dari lengannya dan berlari kecil ke arah Arion.
"Gimana perut Ari, masih sakit nggak?" tanya Ara memeriksa kondisi Arion. Bocah itu menggeleng. Ia sudah kembali ceria lagi seperti biasa. Pada dasarnya Arion adalah sosok anak yang pintar dan tidak terlalu rewel. Ia sudah bangun dari tadi dan langsung mencari mamanya. Tapi, suster bilang mamanya sedang sibuk. Akhirnya Arion hanya menunggu ditemani sang suster.
Pandangan Arion berpindah pada Decklan dan Andra yang berdiri di sisi mamanya. Ia bingung karena mereka terus menatapnya.
"Kamu keluar dulu," kata Andra pada suster yang menjaga Arion tadi.
"Baik dok."
Decklan terus menatap Arion. Kali ini ia bisa melihat dengan sangat jelas bagaimana tampang anak itu. Arion sangat mirip dengannya waktu kecil. Ia tidak perlu ragu lagi. Bocah itu memang putranya. Wajah Decklan mulai berkaca-kaca. Ia merasa senang sekaligus sedih. Anaknya sudah sebesar ini tapi dia tidak pernah tahu keberadaannya. Tanpa bisa ditahan lagi airmatanya jatuh. Lalu ditariknya Arion dan memeluk bocah itu sambil menangis tanpa kata. Arion kebingungan,
Chaby? gadis itu hany tertegun menatap suami dan anaknya.
Andra sendiri begitu merasa terharu. Kalau dirinya jadi Decklan dia pastik merasakan hal yang sama. Pria itu kemudian mengambil ponsel dan menelpon seseorang. Keluarga Chaby dan Decklan harus tahu.
__ADS_1
"Bar, bilang sama semuanya kumpul di rumah Decklan sore ini. Chaby sudah ditemukan."