GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
BAB 37


__ADS_3

Decklan kaget bukan main.


Tulang belakangnya sakit karena terbentur lantai tapi itu tidak penting. Ia lebih peduli dengan gadis yang sekarang tengah berada diatas tubuh polosnya. Handuk yang dipakainya tadi sudah jatuh entah kemana.


Chaby bisa merasakan dada keras Decklan ketika tangannya menyentuh tubuh bagian atas cowok itu. Matanya terbuka menatap cowok itu.


"Tutup mata kamu!" perintah Decklan panik membuat gadis itu cepat-cepat menutup kedua matanya kembali. Gadis itu memindahkan tangannya ke bawah karena mulai merasa kram namun tak sengaja malah menyentuh bagian bawah cowok itu, ia tak tahu benda keras apa yang disentuhnya itu. cewek itu terlalu polos dan belum begitu mengerti hal-hal yang berbau dewasa. Pokoknya cewek itu tak akan terpikir sampai sejauh itu.


Ya ampun, Decklan bisa gila.


Ia cepat-cepat meraih kedua tangan Chaby dan memindahkannya agar menyentuh bahunya. Menurutnya bagian itu yang paling aman sekarang. Yang benar saja, jantungnya berdegup sangat keras. Ia bisa merasakan nafas gadis itu yang berada dekat sekali dengan wajahnya. Cowok itu mengerang kesal. Baru sekarang ia merasakan godaan sebesar ini pada seorang perempuan. Pria itu berusaha menjernihkan pikirannya.


"Kak Decklan, aku udah bisa buka mata belom?"


"Bentar." sahutnya berusaha mencari posisi tepat untuk bangun. Sebaiknya ia yang memimpin gadis itu berdiri untuk mencegah kecelakaan lain seperti tadi. Decklan menggeser tubuh mungil Chaby ke lantai dan bangun lebih dulu.


Pandangannya beralih ke tempat lain mencari-cari keberadaan handuknya. Setelah ketemu, ia mengambil handuk itu dan melilitkan dibagian bawah tubuhnya. Cowok itu lalu mengangkat Chaby yang masih diam dengan mata tertutup dilantai lalu membimbingnya duduk di kasur besarnya.


"Jangan berbalik, aku mau ganti baju." perintahnya lalu membuka lemari, menarik pakaian apa saja yang dilihatnya dan cepat-cepat memakainya. Ia kemudian berdiri didepan Chaby dengan tangan terlipat didada.


"Kenapa nggak ketok pintu?" tanyanya tajam.


Chaby membuka mata perlahan-lahan dan menaikkan wajah menatap cowok itu.


"Udah kok kak, tapi kak Decklan gak dengar jadi aku masuk aja." jawabnya enteng.


Kini Decklan ikut duduk berhadapan dengan gadis itu.


"Kamu tahu kejadian barusan bisa bikin kita berdua nikah muda kalau sampai ada yang menangkap basah kita?"


"Hah?" Chaby melongo bingung. Nikah muda?


"Emangnya bisa, jatoh bareng kak Decklan terus langsung nikah?" cewek itu mengerjap-ngerjap bingung.


Decklan mengerang pelan. Ia lupa kalau gadis didepannya ini masih sangat polos.


"Lupain, kamu kenapa kesini?" ia jadi ingat kalau dirinya masih kesal pada gadis itu karena kejadian didapur tadi.


Pandangannya tak lepas sedikitpun dari Chaby yang sekarang menunduk sambil mengerucutkan bibirnya. Cowok itu jadi gemas melihatnya.

__ADS_1


"Kenapa kesini, hm?" ulang Decklan, nadanya melembut. Tangannya terangkat menyentuh dagu Chaby, mengangkatnya supaya gadis itu menatapnya.


"A..aku pengen minta maaf." gumam Chaby pelan. Kening Decklan terangkat menatapnya bingung.


"Minta maaf kenapa?" tanyanya pelan.


"Karena udah bikin kak Decklan marah tadi. " gadis itu mulai berbicara dengan lancar.


Cowok itu tersenyum tipis lalu mengacak pelan rambut gadis itu. Ia memang sangat marah tadi, tapi bukan pada gadis itu. Ia marah karena takut, takut kehilangan seseorang yang begitu berarti baginya. Mungkin gadis itu tidak tahu, tapi Decklan sendiri tidak bisa membohongi hatinya. Semakin mengenal gadis itu, ia tahu hatinya semakin sayang dan ingin memilikinya.


Ia menatap Chaby dalam dan meraih tangan gadis itu, menggenggam dan membelainya lembut.


"Aku bisa memelukmu?" pintanya lirih.


Chaby mengerjap menatapnya. Ini pertama kali ada yang minta pelukan darinya selain kak Danzel dan Galen. Ia merasakan tubuhnya membeku ketika Decklan tiba-tiba menarik pinggangnya dan memeluknya erat, membenamkan kepalanya ditengkuk gadis itu.


Chaby merasakan jantungnya berdegup kencang. Ia merasa gugup bukan main dan hanya mematung. Kenapa saat kak Danzel dan Galen memeluknya ia tidak gugup seperti sekarang ini? Kenapa ia malah gugup ketika dipeluk kakak kelasnya itu. Apa jantungnya bermasalah? Chaby terus diam membiarkan cowok itu mempererat pelukannya. Mereka terdiam cukup lama dengan pikiran masing-masing.


Decklan merenggangkan pelukannya dan menatap kedalam mata hitam gadis itu. Ada yang ingin dia sampaikan tapi bibirnya kelu. Entah kenapa cowok yang tidak pernah malu berhadapan dengan orang lain itu, kini tidak bisa bicara apapun didepan gadis mungil ini. Apakah karena pengaruh jantungnya yang berdegup sangat kencang sekarang? Astaga, kenapa ia mendadak jadi seperti orang bodoh.


Pria itu mengusap wajahnya kasar. Ia mengatur nafasnya dan mengumpulkan semua keberanian. Ini adalah waktu yang tepat bukan. Jarang sekali mereka berduaan seperti ini, ia tidak boleh menyia-nyiakan kesempatan.


Decklan berdeham untuk menghilangkan rasa gugupnya.


"Mm," gumamnya menatap gadis itu lagi sambil mengusap-usap tengkuknya.


"A..aku mau bilang," ucapnya tertahan. Sedikit lagi Decklan, sedikit lagi dan gadis ini akan menjadi milikmu.


"A..aku s..su.."


Bunyi dering hp membuat perkataan Decklan tergantung. Pria itu itu mengerang kesal. Padahal tinggal sedikit lagi.


Ia melihat Chaby cepat-cepat mengangkat telpon dan berbicara dengan orang diseberang, siapapun itu Decklan ingin sekali menonjoknya sekarang juga.


"Kak Galen kenapa nelpon?" tanya Chaby setelah hpnya menempel ditelinganya.


Galen sialan, maki Decklan.


Merusak suasana saja.

__ADS_1


"Kamu dimana?"


"Chaby masih di rumahnya Pika." sahut gadis itu.


"Sejam lagi kakak jemput, terus kita ke dokter buat periksa gigi kamu."


Chaby menepuk dahinya. Oh iya, hari ini kan jadwalnya periksa gigi. Kenapa dia lupa, padahal kak Galen sudah mengingatkannya tadi sebelum mengantarnya ke rumah ini.


"Baik kakakku sayang. " balas gadis itu membuat Galen tertawa pelan dari seberang.


"Ya udah, kamu senang-senang disana yah manis."


"Dah kakak." Chaby menutup percakapannya dengan Galen lalu kembali menatap Decklan.


"Kak Decklan mau ngomong apa tadi?" tanyanya.


Mood pria itu berubah. Sudah lewat, ia tak berniat lagi melanjutkan perkataannya.


Decklan menghembuskan nafas kesal lalu berpindah dari kasur ke meja laptopnya.


"Udah lupa." sahut pria itu ketus. Tangannya sibuk berkutat dengan mouse laptop.


Chaby jadi heran. Ia tidak mengerti. Tadi kakak kelasnya itu bicara begitu lembut bahkan memeluknya. Tapi sekarang, kenapa ia malah terlihat kesal begitu.


Decklan berbalik menatap gadis itu lagi.


"Kamu masih ada urusan? Kalau nggak keluar sekarang, aku pengen kerjain tugas." katanya mengusir Chaby.


"Tapi kak Decklan udah nggak marah lagi sama aku kan?" tanya gadis itu memastikan.


"Mm." jawab pria itu singkat.


"Ya udah, kalo gitu Chaby keluar yah."


Gadis itu mengangkat tubuhnya dari tempat tidur Decklan dan melangkah ke pintu keluar.


Decklan mengerang kesal, padahal tadi hampir saja. Kalau Galen sialan itu tidak menelpon Chaby, mereka pasti sekarang sudah..


Ahhh...

__ADS_1


Cowok itu mengacak-acak rambutnya kesal.


__ADS_2