GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, chapter 45


__ADS_3

Perasaan Pika campur aduk. Ia marah, kecewa dan terus memikirkan Bara yang mungkin tidak mencintainya lagi. Setelah dipikir-pikir, saat bersamanya, Bara memang sering banyak pikiran. Apa pria itu ingin mengakhiri hubungan mereka tapi bingung mau bilangnya bagaimana? Akhirnya, Pika terus berpikiran negatif.


Gadis itu mengusap wajahnya gusar. Ia butuh menenangkan diri. Orang-orang di rumahnya terlalu senang dengan berita kehamilan Chaby. Pika memutuskan keluar rumah tanpa membawa ponselnya. Ia tidak melihat Bara mengiriminya sebuah pesan.


"Pik, mau kemana?" tanya Chaby ketika melihat Pika melewati mereka. Tante Lily yang sedang asyik berbincang dengan Sharon ikut menoleh.


"Sayang, kamu mau kemana lagi? Udah malem loh ini." cicit tante Lily.


"Pika ada urusan sebentar sama temen kantor ma." balas Pika beralasan. Tanpa butuh lama ia kembali melanjutkan langkah keluar rumah. Tante Lily hanya menarik nafas pasrah. Pika sudah dewasa, pasti tahu menjaga dirinya sendiri.


Tak lama setelah Pika pergi, Danzel, Galen, Sharon dan Andra ikut pamit dari rumah itu. Chaby ingin bantu tante Lily bersih-bersih tapi langsung dilarang keras. Mereka sudah menyewa beberapa pembantu yang bekerja di rumah itu, jadi bagian lain, pembantu yang akan mengurus.


Akhirnya Chaby balik ke kamar bersama Decklan yang menggendong Arion yang telah ketiduran. Mereka masuk ke kamar Arion sebentar lalu balik ke kamar mereka.


"Pelan-pelan sayang, kamu lagi hamil. Jangan ceroboh dulu." celetuk Decklan dari belakang. Ia menegur Chaby yang berjalan asal dan hampir menabrak pot bunga besar didepan sana. Kalau Decklan tidak memegang istrinya cepat-cepat, Chaby pasti sudah menabrak pot bunga itu.


Sesampainya di kamar, Decklan menyuruh istrinya mandi terlebih dahulu. Setelah ia ganti. Decklan keluar dari kamar mandi dengan piyama navi yang senada dengan yang dipakai Chaby. Ia naik ke kasur dan menarik pelan sang istri yang berbaring membelakanginya dan memeluknya dari belakang. Malam ini ia tidak akan melakukan apapun dulu. Hanya ingin tidur sambil memeluk Chaby seperti ini. Sebagai seorang dokter, ia tahu bercinta dengan istri yang tengah hamil perlu ekstra hati-hati. Ia tidak mau menyakiti istri dan bayi yang ada dalam kandungannya.


"Besok kita periksa kehamilan kamu ke dokter kandungan ya. Aku pengen kamu tetap nyaman di masa kehamilan kamu. Aku juga perlu tahu posisi yang baik ngelakuin itu saat kamu lagi hamil, biar nggak nyakitin kamu sama bayi kita." gumam Decklan pelan. Chaby membalikkan badannya agar bisa berhadapan dengan suaminya.

__ADS_1


"Emang kak Decklan nggak bisa tahan dulu napsunya. Gimana kalo kita nggak usah ngelakuin itu dulu selama aku hamil?" tawarnya.


"Nggak bisa!" tolak Decklan langsung.


"Kan kak Decklan pengen aku sama bayi kita tetap sehat." pungkas Chaby.


"Iya sayang, tapi nggak gitu juga kan. Kita masih bisa begituan kok. Aku mana bisa nahan napsu sama kamu. Pokoknya jangan ngelarang-ngelarang aku." Decklan sengaja memasang tampang cemberutnya, membuat Chaby tidak bisa menahan senyum.


Gadis itu lalu mengecup singkat bibir suaminya.


"Ya udah, tapi jangan main kasar ya kayak yang sudah-sudah." ucapnya. Decklan mengangguk cepat dan kembali memeluk istrinya. Jelas ia tahu kalau masalah itu.


Ketika keduanya siap-siap mau tidur, ponsel Decklan berbunyi. Pria itu menggeram pelan. Siapa sih yang menelponnya malam-malam begini. Jangan bilang staf rumah sakitnya. Ia sudah berkali-kali memarahi mereka karena terlalu sering mengganggu istirahat malamnya. Kalau memang mereka, tunggu saja besok.


"Pika? Katanya tadi dia ada urusan sebentar sama teman kerjanya." sahut Decklan karena Bara tadi menanyakan keberadaan adiknya.


Decklan langsung mengubah posisi menjadi duduk saat mendengar perkataan Bara selanjutnya.


"Kalian bertengkar?"

__ADS_1


"Mm, aku mengiriminya pesan tapi dia sama sekali tidak membacanya. Aku juga sudah mencoba menelponnya berkali-kali, tapi tidak diangkat-angkat juga. Kau yakin dia pergi dengan temannya?" Bara bertanya dengan nada khawatir. Decklan mengangguk meski Bara sama sekali tidak melihatnya.


"Aku tidak yakin, tapi kau tenang dulu. Kau dimana sekarang? Kalau kau ingin mencarinya, aku ikut." kata Decklan. Bara mengiyakan dari seberang lalu telpon terputus setelah mereka sepakat bertemu di tempat yang Bara bilang.


"Pika kenapa? Kak Decklan mau nyari Pika? Aku ikut." ujar Chaby dengan mimik khawatir. Decklan menangkup wajah istrinya dan berbicara lembut.


"Kamu di rumah aja ya. Nanti tunggu kabar aku. Ini udah malam dan aku nggak mau kamu kecapean. Jangan khawatir, Pika pasti baik-baik aja." gumam Decklan mengecup singkat dahi Chaby lalu turun dari ranjang dan mengganti baju. Chaby terus menatap suaminya itu.


"Kamu tidur sekarang ya. Aku pergi dulu." sekali lagi Decklan mengecup dahi Chaby, kemudian keluar dari kamar itu. Meninggalkan Chaby yang mau tak mau kembali berbaring. Dalam hari ia berdoa semoga Pika tidak kenapa-kenapa.


\*\*\*


Setelah bertemu dengan Bara, pria itu menjelaskan semuanya pada Decklan. Decklan mengerti posisi Bara. Ia merasa Bara memang perlu terbuka pada Pika, dan Pika harusnya bersikap lebih dewasa. Usia mereka sudah tidak muda lagi. Harusnya mereka lebih saling memahami dan saling percaya.


"Kau tahu kemana biasanya Pika pergi kalau sedang marah?" tanya Decklan. Bara mengangguk. Tapi ia tidak tahu ada tempat yang lain yang sering dikunjungi Pika atau tidak. Yang pasti, semua tempat yang mereka datangi, mereka tidak menemukan keberadaan Pika. Bara menunduk. Ia terlihat kacau. Jelas sekali di wajahnya pria itu khawatir dan merasa bersalah. Decklan menepuk punggung sahabatnya itu.


"Mungkin Pika memang lagi bersama temannya." ucapnya mencoba menghibur Bara. Bara tidak bicara sama sekali. Hanya diam.


"Kau mau minum?" tawar Decklan. Karena Bara hanya terus diam, Decklan akhirnya membawa pria itu ke sebuah bar tempatnya minum dulu, waktu ia terpuruk karena kehilangan Chaby.

__ADS_1


Langkah Decklan terhenti sebelum mencapai meja bar. Pandangannya lurus kedepan sana dengan wajah kaget bukan main sekaligus marah. Bagaimana tidak marah coba, di sana ia melihat gadis yang mereka cari-cari tadi tengah bercumbu dengan pria lain. Ciuman itu sangat panas hingga membuat beberapa orang di dekat mereka bersorak kuat.


Decklan berharap Bara tidak melihatnya. Sayangnya ketika berbalik, Bara tengah melihat kejadian pacarnya yang sedang berciuman panas dengan pria asing itu dengan tangan terkepal kuat. Tak butuh lama bagi Bara sampai ke tempat Pika, menarik kerah kemeja pria itu dan langsung meninjunya kuat-kuat. Pika berteriak bersamaan dengan jatuhnya lawan mainnya itu ke lantai.


__ADS_2