
"K..kak b..Bara nggak bareng sama k.. kak Andra?"
Pika merutuk dalam hati. Kenapa ia jadi canggung sekali begini sih. Gadis itu mengusap tengkuknya, kebiasaannya kalau lagi malu.
Bara mengulum senyum. Senang sekali rasanya melihat gadis itu malu karena dirinya.
"Nggak mau nyuruh aku masuk?" tanyanya kemudian. Pika cepat-cepat menggeser tubuhnya memberi ruang supaya cowok itu bisa masuk. Bara sengaja menyambar bahu gadis itu saat melewatinya, padahal pintu masuk sangat lebar. Pika jadi merinding sendiri. Ia merasa setelah ngobrol dengan Bara semalam cowok itu jadi aneh, dan yang lebih anehnya lagi dirinya pun malah ikut-ikutan jadi aneh begini tiap kali melihat Bara. Pika memegangi dadanya yang masih belum bisa berkompromi kemudian menutup pintu dan ikut berjalan dibelakang Bara.
"Kak Bara!" seru Chaby saat menengok ke samping dan mendapati Bara yang kini berdiri di ruang tamu dekat mereka.
Bara tersenyum.
"Lagi nonton apa?" tanya cowok itu basa-basi. Padahal ia sudah lihat apa yang sedang di tonton Chaby dan bocah disebelahnya itu.
"Biasalah kak, kartun." sahut Chaby.
"Kak Bara kok kesini?" Chaby bertanya. Sudut mata Bara seakan bisa melihat Pika yang sudah berdiri disampingnya. Ia kemudian menatap Chaby lagi.
"Ada perlu bentar sama Decklan." sahutnya. Chaby manggut-manggut lalu fokus ke film yang sedang ditontonnya lagi.
"Kak Decklan diatas, kak Bara keatas aja." ujar Pika lirih. Ia sudah sangat berusaha supaya terlihat biasa saja didepan cowok itu. Ia melihat Bara mengangguk.
"Ya sudah, aku keatas yah." ucapnya, menepuk pelan pundak Pika kemudian berjalan menaiki tangga rumah itu. Setelah itu, barulah Pika terduduk lemas di atas sofa dan bernafas lega. Ia sama sekali tidak sadar cowok yang sedang menaiki anak tangga itu menyeringai penuh kemenangan.
__ADS_1
Pika sudah tidak punya mood menonton lagi. Pikirannya dipenuhi dengan tingkah aneh Bara dari kemarin. Kira-kira tuh cowok ke sambet apa yah? Ia merinding ngeri. Gadis itu bangkit dari sofa, memutuskan naik ke kamarnya. Ia bahkan harus mengendap-endap supaya langkahnya tidak kedengaran oleh Bara dan Decklan dari kamar sebelah. Pika terkikik, dirinya sudah seperti pencuri saja.
***
Decklan membuka pintu ketika seseorang mengetuk kamarnya dari luar. Ia tahu itu pasti Bara karena sebelum pulang tadi cowok itu berkata ada sesuatu hal serius yang ingin ia bicarakan dengannya. Mereka sudah sepakat bertemu di rumah itu.
Decklan mengajak Bara ke balkon kamar itu. Ia merasa lebih leluasa bicara disitu. Mereka duduk di kursi panjang yang ada di balkon.
"Jadi, hal serius apa yang mau lo ngomongin ke gue?" tanya Decklan langsung. Ia sudah cukup penasaran saat mendengar Bara bilang mau bicara serius dengannya tadi.
Bara tidak langsung menjawab. Cowok itu masih terlihat berpikir sebentar sebelum menjawab.
"Gue suka Pika." jawabnya kemudian.
Terus terang saat mendengar ucapan Bara Decklan cukup kaget, sama sekali tidak menyangka. Ia termasuk salah satu cowok yang terkadang berpikir seperti apa tipe gadis yang disukai Bara. Bara mirip dengannya yang sama-sama dingin namun jauh lebih tertutup darinya.
"Dia SMP."
Decklan tertegun. SMP? Sudah selama itu dan Bara tidak pernah mencoba mendekati adiknya?
"Kenapa lo nggak pernah bilang?"
"Lo tahu kan dulu dia punya pacar, juga setelah kejadian sama mantan pacarnya dulu lo jadi hati-hati banget sama semua cowok yang ngedeketin dia. Gue juga masih ragu dengan perasaan gue sendiri waktu itu." tutur Bara panjang lebar. Banyak hal yang sangat membuatnya ragu dulu, apalagi dirinya sangat kaku. Ia takut Pika tidak menyukainya, juga takut Decklan menolaknya memacari gadis itu.
__ADS_1
"Bagaimana dengan sekarang? Sampai mana keseriusan lo?" Decklan tidak mau setuju begitu saja kalau nantinya mereka ternyata tidak serius dengan hubungan itu dan berakhir dengan saling menyakiti. Ia tahu Bara lelaki yang serius, tapi ia membutuhkan kepastian. Untuk kebahagiaan sang adik.
"Gue nggak janji dia bakal bahagia terus sama gue," Bara menggantung ucapannya. Decklan mendengar dengan serius.
"Tapi gue bisa pastiin kalo gue bener-bener serius, sama kayak lo serius ke Chaby." Bara melanjutkan perkataannya dengan begitu tulus, tidak ada kebohongan yang Decklan lihat dalam mata cowok itu.
Decklan tertawa kecil, menurutnya lebih baik membiarkan Pika menjalin hubungan dengan seseorang yang ia kenal. Bara adalah sahabat yang baik dan tulus, ia tahu itu. Ia bisa mengijinkan lelaki itu mendekati adiknya, tapi bagaimana dengan Pika? Tidak mungkin kan ia memberi lampu hijau kalau adiknya itu tidak menyukai Bara. Decklan mendongak menatap Bara lagi.
"Gue nggak larang lo deketin Pika, tapi kalau dia nolak lo gimana?" ujarnya. Pika selalu antusias bicara tentang cowok-cowok tipenya ke Chaby, Decklan pernah tidak sengaja mendengarnya sekali. Tipikal cowok yang disukai adiknya itu adalah cowok-cowok yang berhati lembut, suka tersenyum dan lebih cerewet darinya, sedangkan Bara?
Decklan menatap Bara dari atas ke bawah. Ia pikir Bara harus berusaha keras. Karena walaupun banyak gadis lain yang mengejar-ngejar cowok itu, tapi cewek yang dia suka itu tipikal cowoknya sangat bertolak belakang dengan karakter Bara.
"Gue udah punya cara gue sendiri." ucap Bara sambil senyum-senyum. Karena ia sudah bertekad, dirinya pasti harus memikirkan cara-cara untuk membuat Pika jatuh ke pelukannya. Decklan menatap cowok itu geli. Apa dulu dia juga terlihat seperti orang bodoh begini yah, waktu awal-awal ngejar Chaby?
"Kak Decklan."
dua cowok itu menoleh ke arah datangnya suara. Chaby telah berdiri bersama Gatan di ujung sana. Mereka melangkah mendekat dengan tangan Chaby yang terus menggenggam tangan adik laki-laki Decklan itu.
"Kok kak Decklan dan kak Bara ngomong berduaan aja disini sih? Emang lagi ngomongin apaan?" tanya Chaby. Dia dan Gatan baru selesai nonton dan menyadari yang lain nggak ada. Ia dan bocah itu tadi ketok-ketok kamar Pika tapi gadis itu bilang dia udah capek mau tidur, jangan diganggu. Akhirnya dua makhluk itu masuk ke kamar Decklan. Malam-malam begini Chaby tahu Decklan suka duduk-duduk di balkon kamar itu, tapi dia lupa kalau kak Bara juga ada tadi.
"Kamu belum capek? Kalo udah capek aku anterin pulang sekarang." tanya Decklan mengalihkan topik. Soalnya kalau menjawab pertanyaan Chaby dan gadis itu belum paham-paham juga ia akan bertanya sampai ke akar-akarnya.
"Aku temenin Gatan dulu sampai dia tidur, setelah itu kak Decklan anterin aku." balas Chaby. Decklan melirik Gatan, ia ingat tadi mamanya pamit pergi arisan.
__ADS_1
"Ya udah, nanti panggil aku yah." ucap Decklan mencubit kedua pipi adik laki-lakinya itu.
"Kak Decklan sama kak Bara terusin aja ngobrolnya, aku sama Gatan pergi dulu." kata Chaby lagi kemudian berbalik pergi bersama Gatan.