GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 64


__ADS_3

Saat ini Nanda tengah berenang di kolam pria milik Andra yang berada disamping rumah pria itu. Ini kedua kalinya ia datang ke rumah laki-laki itu. Tapi yang pertama ia hanya mengantar berkas, tidak masuk sama sekali. Setahunya Andra juga jarang sekali memasukkan orang lain ke rumahnya kecuali orang-orang terdekat pria itu saja. Makanya Nanda sempat heran ketika Andra mengajakngya berenang di rumah pria itu.


Gadis itu tampak sexy mengenakan sepasang pakaian renang yang mempertontonkan lekuk tubuhnya yang cukup bisa membuat para lelaki betah menatapnya berlama-lama. Ukuran pakaiannya memang minim, tapi ia tetap leluasa berenang. Nanda pernah hidup di luar negri selama dua tahun, jadi hidupnya sangat bebas. Mau pakai ****** ***** dan bra di tempat umum sekalipun, dia tidak merasa malu. Lagipula ia rasa bentuk tubuhnya cukup bagus.


Byur


Byur


Byur 


Nanda berenang dengan tenang menyelami air yang terasa sejuk ditubuhnya. Hari sudah makin sore dan hampir menggelap dan tak terasa sudah hampir tiga puluh menit ia berenang sendirian. Dalam benaknya ia berpikir di mana Andra? Sejak ia memasuki kolam renang laki-laki itu tadi, Andra di telpon seseorang dan belum balik sampai sekarang. Memang pria itu pasti hanya ada di sekitar rumah itu, tapi persisnya dibagian mana Nanda tidak tahu. Yang pasti tidak ada di sekitar kolam.


Nanda merasa kulitnya mengkerut karena kedinginan. Akhirnya ia memutuskan untuk menyudahi acara berenangnya. Wanita itu duduk di gazebo yang berada di tepi kolam dengan segelas cappucino yang disiapkan salah satu pembantu rumah tangga Andra tadi. Rasanya memang sudah agak dingin, tapi masih bisa dinikmati.


Ketika tengah asik menikmati minumannya, Andra muncul berjalan mendekat ke arahnya. Nanda mengambil handuk untuk menutupi tubuhnya yang terasa dingin.

__ADS_1


"Kau sudah selesai berenang?" tanya laki-laki itu duduk disebelah Nanda. Perempuan itu mengangguk.


"Kau yang mengundangku ke rumahmu, tapi malah kau sendiri yang menghilang." ujar Nanda setengah protes. Andra terkekeh.


"Maaf, ada telpon penting tadi." balasnya. Matanya berpindah ke depan. Menatap air kolam yang cukup tenang. Ia tidak tahu kenapa dirinya bisa mengundang Nanda ke rumahnya, itu terjadi begitu saja tanpa ia sadari.


"Jadi, bagaimana perasaanmu sekarang? Sudah lebih baik dari tadi?" tanya Andra kemudian. Nanda mengangguk lalu melepas handuk yang melingkari tubuhnya. Ia sudah tidak merasa sedingin tadi.


Andra yang posisinya kini menghadap wanita itu menelan ludahnya kasar melihat pakaian yang dikenakan Nanda. Sementara Nanda sendiri tidak merasa malu sama sekali dengan tubuh seksinya yang terekspos didepan Andra. Dimata Andra pakaian renang wanita itu sangat seksi. Ia bahkan sampai tergoda melihat lekukan tubuh wanita itu. Biar bagaimanapun, Andra hanyalah seorang laki-laki normal.


"S..sebaiknya kau cepat berpakaian." ucap Andra berusaha untuk tidak menatap ke arah Nanda.


"Kenapa?" wanita itu bertanya-tanya bingung sebelum akhirnya ia menyadari mungkin Andra tidak nyaman dengan pakaian yang dia kenakan.


"Aku menunggumu di dalam. Kalau sudah selesai, aku akan mengantarmu pulang." kata Andra kemudian berdiri dan masuk ke dalam rumah. Nanda malah tertawa merasa lucu. Ekspresi Andra seperti sudah seperti seorang perjaka tua saja. Padahal menurut Nanda pria yang memiliki tampang playboy keren seperti Andra itu pasti susah banyak meniduri banyak wanita. Tidak mungkin pria itu belum pernah menyentuh banyak wanita, Nanda tidak percaya.

__ADS_1


                                ***


Hari-hari berlalu dan tak terasa hampir seminggu Chaby berada di rumah sakit dan akhirnya hari ini ia sudah bisa pulang ke rumah. Beberapa hari yang lalu sempat ada drama orangtua Luna datang ke rumah sakit, marah-marah pada Decklan dan papanya yang menjebloskan Luna ke penjara bahkan memecat anak mereka secara sepihak.


Namun bukan Decklan kakak tidak bisa mengatasinya. Ia bahkan mengancam akan membuat bisnis keluarga itu hancur  kalau sampai mereka berani datang lagi dan berbuat kacau di rumah sakit. Pantas saja anak mereka begitu, ternyata orangtuanya sama sama saja. Padahal sudah jelas ada bukti Luna yang sengaja mendorong Chaby. Orang seperti itu, tidak usah dikasihani.


"Pelan-pelan sayang," gumam Decklan ketika melihat Chaby yang cepat-cepat masuk ke mobil. Chaby sudah berjalan seperti biasa lagi dan keadaannya sekarang bersama dengan bayi dalam perutnya sangat sehat. Meski begitu, Decklan terus-terusan memantau pergerakan sang istri. Ia tidak mau Chaby melakukan hal-hal yang ceroboh yang bisa merugikan dirinya sendiri dan anak mereka.


Di dalam mobil, Chaby membenamkan kepalanya di dada Decklan. Andra yang menyetir. Sudah seperti sopir saja. Tapi karena dari dulu Andra sudah terbiasa melihat kemesraan pasangan itu, ia sekarang merasa biasa saja. Yang anehnya kalau tiba-tiba pasangan itu diam-diaman.


"Kalian nggak mau mampir makan dulu? Di mana gitu." ajak Andra. Pandangannya fokus kedepan karena sedang menyetir.


"Nggak deh kak Andra, Pika lagi butuh bantuan aku buat milih-milih baju pengantin." sahut Chaby. Selama ia di rawat di rumah sakit, Pika memang sering sekali berkunjung saat jam kosong. Gadis itu juga bercerita kalau dirinya sudah dilamar Bara dan sebentar lagi mereka akan menikah. Chaby turut senang mendengarnya.


Sementara itu, Decklan dan Andra tampak terkejut mendengar perkataan Chaby. Kenapa Bara tidak bilang apa-apa? Padahal belum lama ini pasangan itu bertengkar hebat.

__ADS_1


                           


__ADS_2