
Selama berada di Seoul dua hari penuh ini, Chaby menggunakan waktu jalan-jalannya sebaik mungkin. Hari pertama ia mengajak suami dan anaknya bersantai di Namsan Park yang merupakan taman kota terbesar di Seoul. Taman itu begitu adem dan juga asyik untuk bersantai sambil foto-foto. Karena Decklan tidak terlalu suka berfoto, hari ini pria itu menjadi fotografer khusus buat istri dan anaknya. Ketiganya hanya mengambil foto bersama dua kali selama berada di Namsan Park. Sisanya foto Chaby dan Arion semua.
Setelah puas di Namsan Park, malamnya mereka pergi ke pasar malam Dongdaemun untuk berbelanja banyak barang, sekalian beli oleh-oleh buat orang rumah. Mereka juga mencicipi berbagai kuliner khas Korea Selatan.
Hari kedua adalah hari terakhir mereka jalan-jalan di negara itu. Decklan tidak bisa berlama-lama meninggalkan pekerjaannya. Mereka habiskan hari ini dengan berjalan-jalan ke sungai Han. Salah satu ikon Kota Seoul yang selalu bisa dilihat di video musik boyband/girlband hingga tempat syuting reality show, drama dan Film Korea. Mata Chaby berbinar-binar melihat jembatan dan taman-taman yang cantik di setiap tempat yang mereka lewati di sungai ini. Pokoknya hari ini dia akan mengambil foto di tempat-tempat yang indah itu sebanyak mungkin.
Ju wan dan papa Chaby juga ikut menemani mereka jalan-jalan. Karena hari ini adalah hari terakhir mereka berada di Kota ini, papa Chaby memutuskan berehat sebentar dari kantornya dan menemani anak dan cucunya jalan-jalan.
Chaby tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan untuk mengabadikan moment di tempat yang indah ini. Gadis itu menarik Arion dan meminta Ju wan memotret mereka. Ia tidak mau mengganggu Dekclan yang lagi sibuk berbincang-bincang dengan papanya. Dan dengan senang hati Ju wan memotret ibu dan anak itu. Mereka kadang tertawa bersama ketika ada pose yang lucu atau hal lucu lainnya dan tanpa mereka sadari dari ujung sana Decklan terus mencuri-curi pandang ke mereka.
Decklan memang sibuk berbincang dengan papanya Chaby, tapi bukan berarti ia tidak memperhatikan apa yang dilakukan oleh istri dan anaknya di kejauhan sana. Pria itu menggeram dalam hati karena melihat sang istri tertawa ceria didepan pria lain, bukan dirinya. Dan lagi-lagi, dia merasa cemburu.
Tuan Nam, papanya Chaby yang bisa menangkap ekspresi pria itu tersenyum.
"Ju wan menganggap Sarang seperti adik sendiri, kau tidak perlu khawatir." ujar lelaki tua itu seolah tahu apa yang sedang dipikirkan oleh suami putranya itu. Decklan tersenyum paksa. Ia tahu itu, tapi tetap saja ia masih cemburu. Apalagi dari tempatnya, mereka terlihat seperti keluarga bahagia. Dia yakin sekali orang-orang yang melewati mereka akan menganggap Chaby dan pria itu adalah pasangan suami istri, dan Arion adalah putra mereka. Sial, ingin rasanya Decklan menarik Chaby dan Arion dari sana tapi ia berusaha menahan diri. Hari ini adalah hari terakhir mereka berada di Seoul, ia tidak ingin berbuat kacau hanya karena masalah sepele. Apalagi didepannya ada sih ayah mertua.
Alhasil, ketika pulang ke rumah papanya Chaby, Decklan cuek terus pada istrinya. Ia lebih memilih sibuk sendiri dengan ponselnya. Mereka sudah di kamar dan Arion sudah ketiduran di kasur. Chaby turun dari kasur perlahan dan berjalan ke arah sofa.
"Kak Decklan, kok dari tadi aku perhatiin kak Decklan diem terus? Sakit gigi?" tanya Chaby polos. Ia kini duduk di sebelah sang suami. Decklan makin jengkel. Sakit gigi? Dasar istri kurang peka. Nggak tahu apa dia lagi ngambek karena cemburu berat.
"Tahu ah," ambeknya dan terus fokus main hp. Chaby menatap aneh. Apaan sih?
__ADS_1
"Kak Decklan sayang, tumben cuekin aku." kata Chaby lagi sambil memasang wajah termanisnya. Tidak biasanya suaminya cuek begini. Biasanya juga pria itu langsung peluk atau pegang-pegang kalau dirinya ada di samping.
"Kamu aja cuekin aku terus dari tadi, aku juga bisa dong." balas Decklan jutek. Chaby memutar otaknya, kapan dia cuekin pria itu? Seingatnya tadi dia hanya sibuk foto-foto sama Arion. Sementara sih suami asyik-asyikan aja ngobrol sama papanya.
"Kapan aku cuekin kak Decklan nggak kok." katanya membela diri. Decklan menghentikan kegiatannya sebentar dan menghadap istrinya.
"Tadi kamu sibuk senang-senang sama Ju wan oppa kamu sampe lupain aku itu namanya apa?" semburnya, lalu sibuk dengan hpnya lagi. Chaby melongo. Hah? Gadis itu bingung tapi hanya sebentar. Sesaat kemudian ia jadi mengerti kenapa suaminya tiba-tiba cuek begini. Gadis itu tersenyum lebar lalu mencolek pipi Decklan.
"Cieee cemburuu.." ledeknya. Decklan terus diam. Udah tahu dia lagi kesel malah di ledek lagi. Pokoknya dia berencana untuk mogok bicara.
"Kak Decklan... yakin mau tetep ngambek? Nggak mau ngomong lagi sama aku?" pria itu masih diam.
"Kamu berani?!" balas Decklan cepat. Ia mendelik tajam ke istrinya. Sedang Chaby malah menyengir lebar. Padahal cuma mau tes doang.
"Makanya nggak usah ngambek terus, muka kak Decklan jadi jelek tahu. Mau jadi cepet tua?"
"Makanya kamu jangan suka tebar pesona ke laki-laki lain, udah jadi ibu beranak satu juga. Ganjen banget."
"Dih, emangnya kenapa? Lagian aku tetep cantik kok."
"Geer,"
__ADS_1
"Situ tuh sirik,"
"Dih, siapa yang sirik?"
"Anda tuan Decklaan.."
"Pede amat."
"Biarin, hmph!
Decklan tergelak. Ia menertawai dirinya sendiri yang tiba-tiba menjadi labil dan berdebat dengan sang istri. Kali ini giliran Chaby yang berubah kesal. Tak mau berlama-lama berdebat, Decklan lalu membaringkan kepalanya di paha Chaby. Rasa cemburunya sudah hilang. Ia tahu dirinya yang terlalu berlebihan, padahal sang istri dan pria bernama Ju wan itu tidak melakukan apa-apa sama sekali. Tapi marahan begini sesekali tidak ada salahnya juga.
"Katanya ngambek, kok sentuh-sentuh aku sih. Nggak konsisten banget. Please, nggak usah sentuh-sentuh ya pak." Chaby berusaha mendorong kepala Decklan dari pahanya namun Decklan cepat-cepat melingkarkan tangannya dipinggang gadis itu kuat-kuat.
"Udah sayang, aku udah capek. Kita baikan aja yah."
"Cih, nggak mau. Pokoknya aku masih mau marahan sekarang. Titik." kata Chaby dengan wajah ngambeknya. Siapa suruh suaminya yang mulai. Decklan lalu mengangkat kepalanya menatap sang istri.
"Kamu mau aku tidurin kamu didepan anak kita sekarang?" ancam Decklan menunjuk ke Arion yang sudah pulas dalam mimpinya. Chaby menatapnya dengan mata melotot.
"Kalo nggak mau, baikan aja, udah selesai." setelah itu Decklan langsung membenamkan kepalanya di perut Chaby dan menutup mata, sampai pria itu ketiduran. Chaby sendiri hanya menggeleng-geleng. Lalu merasa lucu sendiri.
__ADS_1