
Siang itu Danzel tidak langsung pulang. Ia dan Gatan langsung mendatangi petugas cctv. Tentu saja ingin mencari tahu kronologi sebenarnya yang terjadi pada Chaby. Namun saat petugas cctv itu memperlihatkan rekaman cctv ke mereka, lokasi tempat Chaby terjatuh sama sekali tidak terekam. Danzel menggertakan giginya. Rumah sakit apa ini, harusnya di tempat-tempat cukup rawan seperti itu mereka memasang cctv. Akhirnya beginikan. Danzel sungguh kesal. Dia harus bilang ke Decklan perihal masalah ini. Kalau perlu setiap sudut harus ada cctvnya. Dia bisa mendukung kalau mereka membutuhkan dana, berapapun itu.
Danzel mengusap wajahnya sambil berpikir Bagaimana kalau memang ada yang sengaja berbuat jahat pada Chaby. Mereka kan jadi tidak punya bukti.
"Bang, kita tunggu kak Chaby sadar aja. Biar tahu apa yang sebenarnya terjadi." kata Gatan. Danzel melirik cowok itu dan menimbang-nimbang. Akhirnya dia mengiyakan. Otaknya juga masih buntu mau mencari tahu bagaimana. Kecuali ada orang lain yang merekam detik-detik Chaby terjatuh. Danzel sungguh berharap sesuatu yang tampaknya mustahil itu ada.
Mereka lalu keluar dari ruangan itu, berjalan bersamaan menuju kamar rawat Chaby. Gadis itu sudah dipindahkan ke kamar pertama. Kamar khusus yang sengaja dibuat pihak keluarga Decklan buat kerabat-kerabat terdekat mereka yang di rawat di rumah sakit. Dalam perjalanan, mereka tanpa sengaja mendengar perdebatan dari dalam satu ruangan yang Gatan yakini itu adalah gudang. Gatan dan Danzel saling berpandangan. Sepertinya sedang terjadi pertengkaran hebat dari dalam sana. Kedua laki-laki itu berjalan mendekat karena penasaran. Pintu gudang itu sedikit terbuka jadi mereka bisa melihat didalam sana berdiri dua perempuan memakai jas dokter. Danzel mengenali perempuan yang satunya. Itu adalah dokter yang memeriksa adiknya kemarin, ia tidak tahu namanya namun masih ingat wajahnya.
"Aku kasih kesempatan kamu minta maaf. Sebelum aku melaporkan yang sebenarnya Luna." suara Nanda sangat serius. Meski ia memiliki rekaman cctv yang menunjukkan kejahatan yang Luna lakukan pada istrinya dokter Decklan, ia belum mau memberitahunya. Luna adalah salah satu teman yang paling dekat dengannya di rumah sakit ini. Jadi ia ingin mencoba berbicara baik-baik dengan Luna dan memberikan wanita itu kesempatan untuk meminta maaf sendiri atas semua perbuatan yang sudah wanita itu lakukan. Nanda tahu kalau sampai rekaman itu ketahuan oleh pihaknya dokter Decklan, karir Luna mungkin akan hancur. Tapi, jika wanita itu sendiri yang meminta maaf dan memohon ampun, masih ada kemungkinan dia akan dimaafkan. Sayangnya, Luna sulit sekali dibujuk.
"Sudah kubilang aku tidak salah apa-apa, jangan menuduhku sembarangan Nanda!" tukas Luna masih bersikeras. Nanda menarik nafas lelah.
__ADS_1
"Dan aku sudah bilang juga, aku melihat semua perbuatan jahatmu itu tadi Luna. Kau tahu gadis itu sedang hamil. Untung saja dia dan bayinya tidak apa-apa. Kalau sampai dia keguguran, kau sama saja sudah membunuh nyawa orang Luna. Kau tidak merasa bersalah apa?"
Luna menatap Nanda. Perkataan dokter itu malah tidak membuatnya senang sama sekali. Ia malah merasa tidak suka karena apa yang dia lakukan tadi gagal. Ia memang berharap Chaby akan mengalami keguguran saat mendorong gadis itu tadi. Wanita itu tertawa sinis.
"Jadi dia dan bayinya tidak apa-apa? Huh! Padahal aku berharap gadis bodoh itu keguguran dan cacat fisik sekalian. Sayang sekali." gumamnya sudah seperti seorang psikopat saja.
Nanda tercenung. Ia sungguh tidak menyangka Luna akan kehilangan akal sehatnya hanya karena seorang pria yang tidak bisa ia dapatkan. Apalagi pria itu sudah menikah.
"Apa yang membuatmu sangat membenci istrinya dokter Decklan Luna. Kamu bahkan tega mendorongnya dari tangga.. Kalau itu itu hanya karena kau tidak suka dia menjadi istrinya dokter Decklan, kurasa kau benar-benar harus memeriksakan mentalmu..."
Brakkk!
__ADS_1
Detik itu juga pintu gudang tempat mereka bicara terbuka lebar dengan kasarnya. Menampilkan dua orang laki-laki berbeda usia. Yang satunya terlihat seperti Decklan, namun versi mudanya yang Luna ketahui sebagai adiknya Decklan, satunya lagi Luna tidak kenal. Ia belum pernah lihat sebelumnya. Tapi ia bingung karena laki-laki itu terus menatapnya dengan tatapan sangat murka. Tampan sih, tapi dihati Luna hanya ada Decklan.
Nanda sendiri hanya berdiri kaku sambil menelan ludahnya. Entah dia harus senang atau tidak melihat pria yang baru kemarin menjadi incarannya itu. Pertemuan mereka sangat tidak terduga dan Nanda tahu akan ada sesuatu yang besar yang terjadi setelah ini. Ia menundukkan wajahnya ketika pria itu menatapnya. Lalu tanpa aba-aba tangan Luna ditarik dengan kasar keluar dari situ.
Luna sangat kaget. Ia merasa kesakitan dipergelangan tangannya karena pria dewasa itu menariknya dengan kasar. Ia berusaha untuk melepaskan diri tapi tidak bisa. Lelaki itu sangat kuat. Nanda dan Gatan mengikuti dari belakang. Sementara Luna sendiri masih bingung dirinya mau dibawa kemana. Beberapa staf rumah sakit yang berpapasan dengan mereka merasa heran.
Mereka naik ke lantai dua. Dan...
Luna menatap kamar didepannya yang hampir dicapai oleh mereka. Itu kamar rawat istrinya Decklan, dia tahu itu. Jantungnya berdegub kencang. Siapa pria ini? Kenapa membawanya ke sini? Lalu dia merasa tubuhnya terhuyung ke depan dan membentur kaki tempat tidur gadis yang paling dia benci itu.
Didalam kamar itu ada Decklan, Andra, Bara dan Pika. Tante Lily sedang menjemput Arion pulang sekolah. Papanya, bertemu dengan beberapa investor tadi sendirian. Tentu saja Decklan dan yang lain kaget bukan main ketika Danzel datang tiba-tiba bersama Luna dengan wajah yang terlihat sangat murka.
__ADS_1
"LIHAT APA YANG SUDAH KAU LAKUKAN PADANYA!" teriak Danzel menggelegar. Decklan yang awalnya kebingungan, ikut berdiri dari kursinya. Melepaskan genggamannya dari jemari Chaby sebentar.