GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 12


__ADS_3

Hari makin malam. Chaby telah selesai menelpon Sharon dan menjelaskan semuanya dan dimana keberadaannya sekarang. Setidaknya Sharon tidak perlu khawatir lagi mencari-cari keberadaan Chaby. Chaby juga bilang ke Sharon kalau malam ini dia dan Arion tidak akan pulang. Sharon pada dasarnya memang adalah wanita dewasa. Dia bisa mengerti. Keluarga Chaby pasti ingin melepas rindu dengan gadis itu. Mereka juga pasti tidak menyangka Chaby sudah memiliki seorang putra. Sharon jadi penasaran seperti apa keluarganya Chaby itu.


Walau bagi Sharon sedikit aneh dengan tidak adanya Chaby dan Arion di rumahnya, yang membuat suasana rumah makin ramai, tapi ia tetap merasa senang. Akhirnya penantian yang begitu panjang bisa Chaby lewati. Ia bisa bertemu dengan keluarga aslinya sekarang.


Di rumah Decklan, suasana makin sepi. Danzel dan yang lainnya sudah pamit pulang, tersisa orang tua Decklan, Pika, adik laki-lakinya Gatan, dan Chaby tentu saja. Arion di bawah oleh Danzel. Sebenarnya Danzel belum mau berpisah dengan Chaby. Ia ingin terus melihat adiknya itu dan berbincang-bincang panjang lebar seperti dulu. Tapi Danzel mengerti Decklan juga membutuhkan istrinya, Chaby sudah Danzel percayakan pada Decklan. Karena itu sebagai pria yang lebih dewasa, Danzel membiarkan Chaby tetap dengan Decklan malam ini. Namun ia minta izin membawa Arion. Danzel sungguh ingin menghabiskan waktunya untuk lebih mengenal keponakannya itu.


Arion juga sudah setuju. Sepertinya Arion ini sama dengan Chaby dulu. Mereka cepat sekali akrab dengan orang baru. Walau Danzel termasuk keluarganya, bisa dibilang ia masih cukup asing di mata Arion, namun karena sifat Arion yang gampang sekali akrab dan tidak pilih-pilih orang, ia setuju ikut dengan Danzel, paman kandungnya.


Setelah semuanya pergi, Decklan langsung menarik Chaby masuk ke kamar mereka. Pria itu merasa senang karena akhirnya bisa ada waktu berduaan saja dengan istrinya.


"I...ini kamar siapa?" tanya Chaby was-was. Ia tidak tahu kenapa tapi jantungnya terus berdebar keras. Apalagi tatapan Decklan yang begitu tajam sampai menusuk ke dalam matanya.


"Siapa lagi? Ini kamar kita," sahut Decklan terus menatap Chaby. Semakin dilihat terus, ia merasa Chaby jauh lebih cantik sekarang. Lebih dewasa, bukan sifatnya. Maksud Decklan wajah Chaby yang dulu imut-imut masih tampang remaja, sekarang makin cantik. Masih manis namun jauh lebih menarik. Dan tubuhnya...


Oh astaga. Pikiran Decklan makin liar. Ia tahu mereka baru bertemu dan Chaby belum mengingatnya. Tapi Decklan tidak menampik dia ingin sekali menyentuh tubuh istrinya itu.  Sudah lama ia tidak menyentuh tubuh indah istrinya, dan hasratnya makin kuat. Apalagi melihat istrinya yang makin cantik dan menawan.


Decklan terus maju mendekatkan wajahnya ke Chaby, sontak Chaby makin gugup dan mundur ke belakang sampai tubuhnya membentur dinding. Tentu saja tidak ada jalan lain lagi untuk Chaby. Gadis itu berusaha kabur tapi kedua tangan Decklan mengukung tubuhnya. Menghimpit tubuh Chaby dengan tangan dan badannya yang tinggi. Membuat Chaby terperangkap di antara tubuhnya dan tembok kamar itu. Chaby benar-benar jadi mungil didekat suaminya itu.


Decklan merasa senang ketika melihat Chaby yang gugup dan sedikit ketakutan. Siapa suruh sudah membuatnya kesal tadi. Rasakan sekarang. Dia akan menghukum istri tercintanya ini.

__ADS_1


"K..kau ma..mau apa?" tanya Chaby terputus-putus.


"Panggil aku kak Decklan, dulu kamu manggil aku gitu." gumam Decklan. Ia suka Chaby tetap memanggilnya seperti dulu.


"T..tapi..," Chaby sedikit keberatan.


"Jangan membantah sayang, kalau tidak resikonya kamu yang tanggung sendiri." kali ini Decklan berbisik di telinga Chaby lalu meniup daun telinga istrinya itu, membuat Chaby merasa geli. Ia tahu hubungan mereka sebelumnya pasti lebih jauh intim dari ini. Kalau tidak mana mungkin dia bisa melahirkan Arion. Tapi, tetap saja Chaby merasa sedikit takut dan gugup. Apa yang akan suaminya ini lakukan? Masa iya mereka baru ketemu dan langsung melakukan hubungan itu. Apalagi dirinya dalam posisi lupa ingatan. Tentu saja kejadian seperti ini seperti baru lagi baginya.


Kali ini Decklan tidak tanggung-tanggung lagi, tanpa permisi ia mengecup dan memberi gigitan pada leher Chaby, memberikan tanda kepemilikannya di sana. Tentu saja Chaby yang kaget langsung mendorong kuat tubuh Decklan menjauh darinya.


Tapi Decklan tidak termundur sedikitpun. Tenaganya terlalu kuat. Ia terus menghimpit Chaby yang balas menatapnya tajam seperti gadis perawan yang baru saja dilecehkan. Decklan tertawa kecil,


"Kamu berani nyentuh aku?" sembur Chaby galak. Ia sedang berusaha menutupi rasa gugup dan malunya dengan bersikap galak.


"Aku suami kamu, aku berhak menyentuhmu dibagian manapun yang aku suka. Kau mungkin tidak ingat, tapi..." Decklan kembali mendekatkan mulutnya ke telinga Chaby.


"Dulu kamu yang selalu memintaku menyentuh bagian yang dibawah sana." bisik Decklan serak. Ia terus-terusan menggoda istrinya.


Chaby malah menunjukkan ekspresi tidak percayanya. Tidak mungkin dirinya seperti itu.

__ADS_1


"Kamu pasti bohong, mmph..."


Tanpa ijin Decklan mencium bibir Chaby. Cukup kasar dan penuh nafsu. Jangan heran karena sudah bertahun-tahun dirinya sendiri tanpa ada sang istri disampingnya. Tentu saja ia sangat bernafsu pada Chaby. Kedua tangannya mencengkeram kedua sisi tangan Chaby agar gadis itu tidak memberontak. Tubuhnya makin menghimpit tubuh mungil Chaby tidak memberi ampun.


Cukup lama Decklan mencium Chaby sampai akhirnya ciuman sepihak itu terlepas. Ia menatap Chaby yang mengatur nafasnya dengan wajah merah padam. Dibanding marah, istrinya itu lebih terlihat malu. Lihat sekarang, Chaby terus menundukkan wajah malunya. Decklan tersenyum. Tampaknya walau Chaby hilang ingatan, tapi perasaannya terhadap Decklan tidak sepenuhnya hilang.


Decklan lalu mendekat dan mengusap pelan kepala Chaby.


"Aku tidak akan godain kamu lagi malam ini. Kita berdua masih punya  banyak waktu melakukannya. Aku pengen kamu ceritain gimana hidup kamu selama ini, tapi kita bisa mencari waktu buat itu. Sekarang tidur dulu, sudah tengah malam." gumam Decklan pelan. Ia lalu menarik tangan Chaby naik ke tempat tidur.


"Gimana kalau aku tidur di sofa aja?" tawar Chaby. Decklan berbalik menatap istrinya.


"Nggak, kamu masih belum paham hubungan suami istri itu kayak apa?"


Chaby memanyunkan bibirnya. Ia sangat paham malah. Tapi, bagaimana kalau...


"Udah ayo, kamu nggak perlu takut. Aku nggak gigit kok," goda Deklan lagi


kembali menarik tangan Chaby. Dengan terpaksa Chaby menurut. Untuk pertama kalinya dalam enam tahun ini ia tidur bersama seorang pria dewasa. Biasanya Arion yang menemaninya tidur. Ada perasaan aneh di hati Chaby, tapi berbaring seperti sekarang ini dengan tangan Decklan memeluk tubuhnya bagi Chaby terasa familiar. Bahkan tak butuh waktu lama bagi gadis itu sampai tertidur.

__ADS_1


__ADS_2