
Bandara, 10:45 wib
Decklan memakai kaos putih dilapisi jaket parka warna abu tua yang menambah kesan penampilan kece dan wajah tampannya. Disampingnya berdiri Andra dan Bara. Didepannya ada Hugo, Pika, Gatan dan mamanya. Papanya lagi ada operasi besar siang ini jadi tidak sempat mengantarnya ke bandara. Decklan menghela nafas panjang, ia sebenarnya ingin ada Chaby di sini ikut mengantarnya atau bahkan ikut bersamanya ke Inggris. Sayangnya gadis itu tidak ada. Lelaki itu mendesah pasrah. Setidaknya gadis itu sudah menyempatkan diri menelponnya semalaman.
Pandangan Decklan lurus ke mama dan adik-adiknya yang sekarang malah menangis. Cowok itu tertawa merasa lucu, cara mereka menangis sudah seperti dirinya mau pergi selamanya saja.
"Nanti kalau sudah di London, jangan lupa kabarin mama ya." kata tante Lily di sela-sela tangisnya.
"Kak Decklan kalo udah kelar kuliahnya harus langsung balik, takutnya Chaby nanti direbut cowok lain." perkataan itu membuat Decklan melemparkan tatapan tajamnya. Adik durhaka. Baru mau pergi saja sudah bikin hatinya bimbang lagi. Nggak tahu apa selama beberapa hari ini ia mati-matian menguatkan dirinya untuk rela pergi tanpa Chaby. Untung Chaby lagi nggak ada di Jakarta, kalau tidak dia mungkin betul-betul tidak akan jadi berangkat karena perkataan Pika. Di sela-sela menangis, adik perempuannya itu masih saja bikin dia kesal.
"Lo cepetan masuk gih, entar ketinggalan pesawat lo malah kegirangan lagi karena nggak jadi berangkat. Habis itu langsung nyusul Chaby ke Korea."
Decklan menutup matanya dalam-dalam kemudian melirik Andra dongkol. Ia ingin menendang cowok itu sekarang juga. Dirinya mau berangkat bukannya di kasih kekuatan malah bikin kesal.
"Safe flight bro." ucap Bara menepuk bahu Decklan lalu Hugo bergantian melakukan hal yang sama. Decklan tersenyum lalu mengacak pelan rambut adik laki-lakinya dan menatap mamanya.
"Aku pergi ma." gumamnya memeluk sang mama dan kedua adiknya lalu menatap tiga sahabatnya yang lain.
"Gue pergi."
Mereka semua mengangguk sambil tersenyum. Lambaian tangan menjadi pengiring keberangkatan Decklan.
***
Di taman dekat bandara, Pika masih menangis sesenggukan sehabis melepas kepergian Decklan. Ia memilih untuk tidak pulang dulu. Bara ikut menemaninya, sedang Andra dan Hugo sudah pulang bareng tante Lily dan Gatan.
Bara setia disamping Pika. Ia sesekali tersenyum kecil dan membantu Pika menyeka airmatanya.
__ADS_1
"Kok nangis terus?" ujar Bara dengan tangan kirinya yang terangkat dipipi Pika, menghapus airmata gadis itu.
"Aku sedih aja, bakal lama aku ketemu kak Decklan lagi. Chaby juga nggak jelas, belum tahu kapan balik ke sini. Aku kan kangen ngumpul sama temen oon, manja dan polos kayak dia." tutur Pika sesenggukan. Bara malah terkekeh.
"Aku nggak punya teman curhat sekarang jadinya." lanjut Pika lagi.
"Kamu bisa curhat ke aku." balas Bara langsung. Pika menaikkan wajah ingin menatap Bara namun posisi Bara yang sedang menunduk menghadapnya malah membuat bibir mereka bersentuhan tanpa sengaja. Insiden itu membuat keduanya sama-sama kaget. Pika buru-buru memalingkan wajahnya saking malunya. Ia benar-benar malu menatap Bara. Astaga, apa yang sudah ia lakukan. Pika merutuki dirinya sendiri. Ia tidak melihat Bara dibelakangnya yang malah senyum-senyum senang.
Cowok itu membuat Pika menghadapnya lagi. Gadis itu masih menunduk malu tidak mau menatapnya.
"Pika," saat Pika mencoba mengangkat kepalanya perlahan memberanikan diri menatap Bara, cowok itu malah menciumnya tanpa aba-aba. Matanya terbuka merasakan bibir Bara yang menempel dibibirnya.
Bara menyesap pelan permukaan bibir bawah Pika, sebelum menjauhkan sedikit wajahnya untuk menatap Pika, ingin mencari tahu respon gadis itu.
Pika membalas tatapan Bara dalam diam. Ia sungguh kaget, namun kekagetannya tadi berangsur membaik. Ia masih terdiam. Matanya dan mata Bara saling bertatapan, dan ia bisa melihat tatapan Bara yang begitu dalam.
Pika tidak langsung menjawab. Namun sesaat kemudian matanya yang tertutup mewakili jawabannya, memberikan ijin pada Bara untuk bisa menciumnya lagi.
Bara menangkup pipi Pika kemudian kembali menyatukan bibir mereka. Kali ini bukan hanya menempel. Bara memulainya dengan kecupan ringan lalu melanjutkan dengan ******* pelan.
Pika mengernyit dalam nikmat dan rasa penasaran yang bercampur ketika Bara mulai memainkan lidah untuk menjilat bibirnya. Tangan Pika refleks memegang baju Bara saat lidah cowok itu mulai masuk ke dalam mulutnya dan bermain disana.
Entah berapa lama keduanya saling menikmati hingga Bara mengakhiri ciuman itu dengan kening mereka yang saling menempel. Nafas mereka terengah-engah namun belum berniat untuk saling menjauh. Ini adalah pengalaman pertama bagi Pika tapi entah yang keberapa buat kak Bara. Yang pasti, gadis itu merasa Bara sudah sangat berpengalaman dalam berciuman karena ciuman tadi betul-betul...
"Mau kan jadi pacar aku?"
"Hah?"
__ADS_1
belum selesai terheran-heran dengan ciuman panas mereka barusan, Pika kembali dibuat terkejut dengan pertanyaan Bara.
"Aku pengen kamu jadi pacar aku." ucap Bara tanpa bertanya lagi. Pika mengerjap-ngerjap kan mata.
"Bukannya udah ada cewek lain yang kak Bara suka bertahun-tahun?" cewek itu ingat pengakuan Bara waktu camping dulu. Bara mengangguk dan entah kenapa Pika merasa agak kecewa mendengarnya.
"Itu kamu." ungkap Bara. Akhirnya apa yang dia simpan baik-baik dalam hatinya selama ini terungkap juga. Pika melotot lebar-lebar. Ia tidak sedang bermimpikan?
"Jadi, cewek yang kak Bara ceritain waktu itu aku?" gadis itu seperti belum bisa percaya. Ia melihat Bara tersenyum padanya lagi dan mengangguk.
Pika tiba-tiba merasa seperti orang bodoh. Kenapa dirinya sangat tidak pekaan. Setelah di pikir-pikir ulang memang semenjak ngobrol dengan kak Bara malam itu cowok itu jadi bersikap aneh padanya. Maksudnya, kak Bara mulai mendekatinya, jadi banyak bicara dan sering mengajaknya jalan berdua. Pika tersenyum kikuk. Ia lalu merasakan tangan Bara terangkat menyentuh pipinya, mengelusnya pelan.
"Mulai sekarang jangan merasa kesepian lagi, ada aku disisi kamu." gumam cowok itu. Pika yang mendengar langsung berbunga-bunga.
"Tapi, aku tetap sedih karena kepergian kak Decklan dan Chaby." tuturnya lagi. Bara mengusap-usap puncak kepala Pika.
"Kita tunggu mereka pulang ke sini bareng-bareng. Sekarang selama mereka nggak ada, aku pengen kamu dan aku buat kenangan baru milik kita berdua." Bara semakin berani merangkul pinggang Pika. Meski masih merasa canggung, Pika berusaha terlihat santai. Untung waktu mereka berciuman tadi tidak ada orang lain di tempat itu. Ciuman.. Pika kembali mengingat ciuman tadi lalu menatap Bara.
"Kak Bara udah ciuman sama berapa cewek sebelumnya?" tanya Pika tiba-tiba. Ia ingin tahu.
"Kamu tahu aku nggak pernah dekat sama cewek lain, mama bisa ciuman." balas cowok itu. Pika menyipit tidak percaya.
"Masa sih? Kok ciumannya udah kayak ahli banget gitu?" pertanyaan itu membuat cowok disebelahnya itu menyeringai.
"Kenapa? Kamu mau kita lakuin adegan tadi lagi? goda Bara. Mata Pika melebar.
"Nggak, nggak!" gadis itu menggeleng kuat-kuat. Bara lalu tersenyum dan menjitak dahi gadis itu pelan. Ia menarik nafa lega. Akhirnya setelah penantian panjang, Pika jadi miliknya juga.
__ADS_1