GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN

GADIS MANJA DAN PANGERAN DINGIN
S2, Chapter 26


__ADS_3

Chaby menghembuskan nafas lelah. Dia mulai bosan dan jenuh menunggu suaminya. Kalau ujung-ujungnya dia akan suruh menunggu selama ini diruangannya sih, lebih baik dia pergi saja. Lebih asyik membantu kak Sharon pergi mengantarkan atau merangkai bunga.


Ia ingat tadi pagi, setelah mengantar Arion ke sekolahnya Decklan terus memaksanya untuk memeriksakan diri ke rumah sakit. Awalnya Chaby tidak mau. Karena ia merasa sangat sehat, hanya ingatannya saja yang bermasalah. Tapi akhirnya suaminya itu berhasil membuatnya mengiyakan untuk diperiksa. Gimana dia mau menolak coba kalau Decklan memakai kata-kata yang menakutinya. Sudah hampir sebulan ini dia tinggal bersama pria itu dan sekarang dirinya baru tahu ternyata suaminya itu memiliki sisi pemaksa yang tidak bisa dibantah. Dan dia sendiri malah menurut saja. Apa dulu sebelum dirinya hilang ingatan dia seperti itu juga. Menjadi seorang istri yang penurut pada suami? Chaby mengangkat bahu acuh tak acuh.


Ia lalu mengalihkan pandangannya ke pintu masuk ruangan itu yang terbuka. Menampilkan Decklan yang berdiri diambang pintu dengan senyum cerah merekah. Pria itu menutup pintu sebelum melangkah mendekati Chaby yang duduk di sofa.


Chaby sengaja membuang muka. Tentu saja ia masih sebal pada suaminya itu.


"Ada orang yang janjinya gak bakal lama perginya eh tapi nggak balik-balik. Dia nggak tahu apa aku yang cantik ini adalah orang sibuk yang punya banyak kerjaan. Duduk di sini bener-bener buang waktu, buang tenaga dan buang uang, hmph!" sindir Chaby dan membuang muka sambil melipat kedua tangannya di dada. Decklan yang kini duduk di sebelah gadis itu terkekeh. Istrinya masih lucu seperti dulu waktu ngambek.


"Kamu ngambek? Aku kan perginya nggak sampe setengah jam sayang. Masa ngambeknya sampai kayak gini. Jangan ngambek lagi yah?" gumam Decklan menoel-noel pipi Chaby yang masih tidak mau menatapnya. Kalau orang-orang di rumah sakit ini mendengar cara bicara laki-laki itu sekarang ini, mereka pasti akan mengira Decklan adalah pria yang berbeda. Decklan yang sekarang, ketika bicara dengan istrinya akan menjadi sangat lembut juga manja, tapi saat bicara dengan rekan kerjanya, kaku sekali.

__ADS_1


Karena Chaby tidak mau membalikkan wajahnya juga, pikiran jahil mulai bermunculan di pikiran Decklan. Tangannya beralih ke pinggang Chaby dan menggelitik pinggang istrinya itu. Otomatis Chaby yang kaget dan merasa geli langsung menoleh menatapnya dengan wajah galak. Suaminya ini benar-benar mau cari gara-gara rupanya.


Saking kesalnya Chaby lalu mengambil bantal sofa dan memukul-mukul Decklan.


"Minta maafnya gitu hm? Rasain ini." seru Chaby terus memukuli Decklan yang kini menutupi wajahnya dengan tangan. Ia tertawa dibalik itu. Ia malah menikmati pukulan-pukulan istrinya yang sama sekali tidak sakit itu. Karena belum puas juga, Chaby melemparkan bantal ke lantai dan mendorong Decklan sampai tertidur di sofa, duduk di perut pria itu kemudian melanjutkan memukuli suaminya. Mencubit kuat pipi Decklan, dan setelah puas dibagian wajah, tangannya turun ke bagian pinggang dan perut, balas menggelitik Decklan dengan cara menusuk-nusuk bagian pinggang pria itu dengan telunjuknya. Decklan tertawa merasa geli. Ia lalu menahan kedua tangan Chaby.


Chaby berhenti sesaat membalas tatapan Decklan masih dengan wajah galaknya. Saat merasa Chaby lengah, giliran Decklan yang mendorong gadis itu, sehingga dirinyalah yang menguasai istrinya sekarang.


"Kak Decklan.., jangan mikir yang aneh-aneh. Ini rumah sakit." ucap Chaby memperingatkan. Namun Decklan seolah tidak peduli sama sekali dengan ucapan itu.


"Emang kenapa? Aku sudah kunci pintu kok. Nggak ada yang bisa ganggu kita." gumam Decklan terus menatapi Chaby.

__ADS_1


Chaby menelan salivanya susah payah ketika Decklan semakin mendekatkan wajahnya sampai hidung mereka bersentuhan.


"Aku belum nyentuh kamu hampir seminggu ini. Sekarang aku lapar pengen makan kamu." bisik Decklan. Wajah Chaby bersemu merah. Benar kata suaminya. Mereka memang belum berhubungan badan lagi hampir semingguan ini karena dia dan Arion nginap di rumah Sharon. Awalnya Decklan mati-matian tidak mau memberi ijin, tapi dengan segala cara yang dibuat Chaby, akhirnya lelaki itu setuju juga.


"T..tapi ini tempat kerja kak Decklan." gumam Chaby lagi.


"Udah diem dulu." sela Decklan kemudian mencium bibir Chaby. Ia tidak perlu ijin lagi untuk melakukan itu.


Ciuman itu makin panas dan Chaby hanya membiarkan lelaki itu melakukan apa yang dia mau. Percuma juga menolak karena suaminya pasti tidak mau berhenti.


"Emhh..," Chaby melenguh saat Decklan memindahkan ciuman itu di lehernya dan memberikan beberapa tanda di sana. Kepala Decklan makin turun mencari aset berharga milik Chaby untuk menyusu di sana tapi sebelum berhasil, terdengar ketukan didepan pintu berulang kali. Pria itu menggeram kesal. Kenapa selalu saja ada yang mengganggu saat dia mau enak-enakkan sama istri.

__ADS_1


__ADS_2