
Bara mengunci diri di kamarnya. Ia mengusap wajahnya kasar. Emosinya tidak stabil sekarang. Ia takut dirinya bisa menyakiti Pika kalau mereka berdebat di bar tadi. Meski marah dan kecewa berat pada gadis itu, ia tidak mau menyakiti Pika. Ia mencintai Pika dengan tulus, dan cinta itu tidak pernah berkurang sedikitpun dari dulu sampai sekarang.
Tapi sekarang Bara ragu. Melihat kekasihnya itu bercumbu mesra dengan pria tadi, membuat darah di sekujur tubuhnya mengalir sangat cepat. Rasa sakit di dadanya semakin menjadi-jadi dan Bara meringis. Ia tiba-tiba berpikir apakah Pika masih mencintainya atau tidak. Mereka memang sudah beberapa kali putus, apakah sekarang harus putus lagi? Bara mengusap wajahnya kasar dan mengerang frustasi. Ia tidak tahu apa yang harus ia lakukan sekarang. Bagaimana menghadapi Pika nanti, ia sungguh tidak tahu.
Pria itu tiba-tiba merasa sulit bernapas. Ia hampir yakin ada yang salah dengan dirinya. Debar jantungnya tidak beraturan, dadanya mendadak terasa sangat, sangat sakit. Dan nyeri. Dan di atas segalanya, ia merasakan desakan besar untuk melukai seseorang. Terutama laki-laki yang berciuman dengan Pika tadi. Meski Pika yang memulainya, laki-laki itu tidak menolak sama sekali. Ia yakin kalau ia dan Decklan terlambat sebentar saja, laki-laki itu dan Pika sudah berakhir diatas ranjang. Oh, sialan... Bara meninju lantai kamarnya berkali-kali sampai buku-buku tangannya berdarah.
Setelah puas menyakiti dirinya sendiri, ia duduk bersandar di sofa dengan mata terpejam. Ia terus memikirkan nasib hubungannya dengan Pika. Apa yang harus dilakukannya sekarang? Apa yang bisa dilakukannya?
\*\*\*
Pagi harinya Pika masih tertidur dan meringkuk di atas ranjangnya ketika suara ketukan pintu dari luar kamarnya berbunyi. Pika mengernyit, meraih jam beker di sebelah ranjangnya. Masih jam lima pagi. Siapa yang mengganggunya sepagi ini? Ia yakin di luar sana masih gelap.
Dengan susah payah Pika turun dari ranjang, matanya masih bengkak karena dia menangis semalaman sampai ketiduran, dan kepalanya pening karenanya. Sampai depan pintu, dia membuka pintu itu dengan malas.
"Chaby?" gumamnya dengan suara yang masih serak. Chaby sudah berdiri didepannya sambil tersenyum lebar.
"Mau lari pagi bareng aku nggak?" pertanyaan Chaby membuat Pika mengernyit heran. Lari pagi? Tumben sekali Chaby mengajaknya lari pagi. Padahal selama ini gadis itu benci sekali olahraga.
"Kamu yakin? Kan kamu lagi hamil, emang kak Decklan ijinin?" Pika balas bertanya.
"Nggak!" Chaby dan Pika sama-sama menoleh ke Decklan yang keluar dari kamar bagian kiri sana dan melangkah mendekati mereka.
__ADS_1
"Kenapa? Olahraga kan sehat. Jarang-jarang loh aku berinisiatif kayak gini kak Decklan.." ucap Chaby setengah merengek.
"Tapi kamu lagi hamil sayang, harus periksa ke dokter dulu biar kita tahu jenis olahraga kayak gimana yang cocok buat ibu hamil, juga apa aja yang nggak boleh dilakuin dan di makan selama masa kehamilan kamu." balas Decklan panjang lebar.
"Tapi,"
"Udah, kita balik ke kamar aja sekarang yah." Decklan meraih tangan istrinya kemudian melirik Pika sebentar. Pria itu menghela nafas melihat mata bengkak adiknya. Pasti Pika menangis semalaman.
"Kamu masuk kerja hari ini?" tanyanya. Pika mengangguk.
"Ya udah, istirahat aja lagi biar badan kamu lebih fresh." kata Decklan kemudian ia dan Chaby berlalu dari depan Pika. Pika kembali menutup pintu kamarnya masih dengan tampang kebingungan pada suami istri.
Dalam kamar, Chaby cepat-cepat naik ke kasur di ikuti Decklan dan berbicara langsung pada suaminya itu.
Ia dan Decklan memang sudah mengatur rencana itu. Tapi ide buat mengajak Pika olahraga muncul dari Chaby sendiri, karena ia memang berniat mau menghibur Pika. Makanya Decklan langsung tidak setuju ketika mendengarnya.
Chaby sudah tahu masalah yang terjadi antara Pika dan kak Bara. Semalam ketika Decklan masuk kamar, dirinya masih bangun. Dia bertanya tentang Pika dan mau tak mau Decklan menceritakan semuanya. Chaby ikut merasa empati. Karena itu ketika ia terbangun sekitar jam lima, dirinya sengaja mengetuk pintu kamar Pika untuk sekedar mencari tahu keadaan gadis itu.
Decklan melarangnya untuk bertanya atau ikut campur dengan masalah yang dialami oleh Pika, jadi Chaby hanya mencoba mengajaknya olahraga. Siapa tahu dengan berolahraga otak Pika jadi lebih fresh.
"Gimana kalo kak Bara nggak mau maafin Pika? Pasti Pika sedih banget." ucap Chaby lagi.
__ADS_1
"Biarin mereka berdua selesain masalah mereka sendiri. Mereka sama-sama udah dewasa. Kita jangan terlalu ikut campur. Dan kamu," Decklan mencubit pelan pipi Chaby.
"Jangan mikirin masalah Pika sama Bara terus sayang. Aku nggak pengen kamu jadi stres. Karena kalau kamu sampai stres, itu bakal berpengaruh sama bayi kita." kali ini tangan Decklan beralih ke perut Chaby dan mengelus-elus pelan perut yang belum terlihat membuncit tapi sudah ada janin didalamnya itu.
"Kak Decklan,"
"Mm?"
"Aku pengen ketemu papa." Chaby tiba-tiba mengubah topik.
Decklan mengernyitkan dahi.
"Ketemu papa? Entar sarapan pagi juga bakalan ketemu kok. Tungguin aja." ucapnya, namun Chaby langsung menggeleng-geleng kepala.
"Bukan papanya kak Decklan, papa aku." kata Chaby mengoreksi. Decklan menatap sang istri setengah kaget.
"Maksud kamu, kamu pengen ketemu papa kamu yang ada di Seoul?" Decklan mulai curiga. Jangan-jangan permintaan ini termasuk ngidamnya Chaby. Kan gadis itu tidak pernah bercerita tentang papa kandungnya. Kenapa sekarang tiba-tiba mau ketemu. Dan anggukan Chaby langsung membuat Decklan menghembuskan nafas berat.
"Kamu yakin pengen ketemu papa kamu?"
"Mm!" Chaby mengangguk pasti.
__ADS_1
"Kalo bisa nanti sore aja kita perginya. Aku udah nggak sabar liat papa."
"HAH?! Kamu ngidam?"