
Jantung Astrea semakin sesak, ketika Gea dan perawat keluar masuk dari kamar dimana Kinar sedang di rawat, nek Popon tidak dapat melakukan apapun terkecuali ikut diam, ia berdiri memangku tangan nya dengan menatap sang menantu yang hanya mampu menangis. Nina hanya mengusap punggung Astrea, ia berusaha menguatkan hati orang tua sahabat nya namun semua nya hanya sia sia, justru usapan tangan nya membuat Astrea semakin menangis, ia berjanji ketika nanti putri nya sadar ia akan membawa nya kembali ke Jakarta dan tidak akan membiarkan putri nya kembali kepada menangis jaha**mnya, sudah cukup selama ini putri nya menderita karena kebodohan nya. Ia menunggu sang suami yang tidak kunjung datang
"Ma"panggil Arifin dengan memegang tangan istri nya"Bagaimana dengan keadaan Kinar ma?"Astrea tidak mampu menjawab justru air mata nya mewakili perasaan nya saat ini"Ma"
"Dokter sedang di dalam om"jawab Nina"Keadaan nya semakin memburuk om"mata Arifin terbuka lebar ketika mendengar kata Nina, dada nya terasa begitu sesak, apa yang ia rasakan juga di rasakan istri nya. Apakah ini pertanda kalau putri nya akan tiada? Arifin menggelengkan kepala nya berkali kali, sungguh ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan Putria nya, harus berapa kali ia mengatakan kalau ia tidak akan sanggup jika harus kehilangan putri nya.
Ponsel yang berada di saku celana nya bergetar, dan ia melihat panggilan masuk dari Tatit kakak nya,
"Kenapa kau memasukan Irsyad ke dalam penjara Fin?"Arifin tersenyum kecut
"Sebelum aku memasukan nya ke dalam penjara dia sudah berada di sana, ia melaporkan diri nya sendiri yang telah melakukan kekerasan terhadap istri nya"Tatit sangat terkejut
"Kenapa kau tidak mencabut nya"
"Mencabut nya?"Arifin tertawa terbahak bahak"Aku justru menyesal, seharusnya sebelum lelaki biad*b itu masuk penjara ku habisi sekalian"
"Arifin!!!!"Bentak Tatit
__ADS_1
"Kenapa? Tidak suka? Seharusnya mbak Tatit juga ku masuk ke dalam penjara"
"Maksud mu apa!?"
"Mbak Tatit dan Irsyad sama sama psikopat"Ucap Arifin"Jangan coba coba membebaskan putra mu dengan uang jaminan, jika mbak Tatit melakukan itu jangan harap kamu bisa menemukan calon cucu mu mbak"
"Kau mengancam mbak mu, Arifin?"
"Lebih tepat nya tidak, tetapi aku punya alasan untuk menjauh kan putri dan calon cucuku dari orang orang brengsek seperti kalian semua!"
"Jaga bicara mu mbak, jangan membentak ku. Apakah mbak Tatit juga ingin seperti Irsyad putra mu?"Tatit terdiam, ia tidak percaya adik nya yang begitu menyayangi nya berubah dalam sekejap"Jangan pernah menampakan wujud mu di muka ku, jika kau ingin selamat"Astrea menatap suami nya yang tengah marah dengan Tatit"Aku tidak menyalahkan mu mbak, tapi aku menyalahkan diriku sendiri, kenapa ketika aku menikahkan putri ku dengan putra mu, aku tidak pernah bertanya dulu tentang sifat dan sikap nya. Kalau pun putri ku menjadi seorang janda hanya memiliki seorang anak, aku sanggup menanggung seumur hidup nya, dari pada ia harus menderita bersama suami bajingan seperti putra mu"selama ini adik laki laki nya tidak pernah semarah ini terhadapnya, tapi kali ini kemarahan nya sungguh tidak bisa di tolerir.
"Dan ingat satu lagi mbak, jangan pernah kelurga mbak Tatit mendekati putri ku, ingat itu baik baik"setelah itu Arifin mematikan ponsel nya dengan kasar"Aahhhhhggggg"Jerit Arifin dengan menarik rambut nya dengan kasar, jika ia boleh memilih, ia akan memilih lebih baik ia kehilangan cucu nya dari pada putri nya sendiri, bukan maksud nya ia egois tetapi masih begitu panjang perjalanan yang harus putri nya lalui, masih banyak yang belum sempat ia raih, setidak nya ia ingin melihat putri nya bahagia bersama pria pilihan nya sendiri.
Arifin menatap istri nya dengan tatapan sendu, mungkin saat ini hati istri nya tidak sanggup melihat penderitaan putri nya, tetapi Arifin bahkan lebih tidak sanggup, ia ingin masuk memastikan kondisi putri nya saat ini, Gea keluar dengan wajah penuh kelelahan
"Bagaimana dengan putri saya dok?"
__ADS_1
"Alhamdulillah pak, putri bapak sudah stabil"
"Alhamdulillah ya Allah. Dokter, apa putri saya sudah sadar dari koma nya?"Gea menggelengkan kan kepala nya, ia hanya terdiam dengan melihat kebawah, sungguh harapan nya sangat kecil melihat kondisi Kinar yang selalu tidak stabil"Apa saya boleh melihat nya dok?"
"Boleh pak"Arifin langsung masuk ke ruangan Kinar tanpa melihat Astrea yang melihat nya dengan cemas
Dada nya begitu bergemuruh ketika ia mendengar suara monitor memenuhi ruangan putri nya, dada nya terasa sakit begitu ia melihat putri nya yang sedang tidur tak berdaya, ada kemarahan di hati nya namun kepada siapa ia harus marah? Kepada diri nya sendiri kah? Ya semua ini memang kesalahan nya, ia tidak perlu melibatkan orang lain dalam hal ini. Di bawa nya tangan mungil putri nya ke dalam genggamannya, lalu mencium nya berkali kali, ah ia menjatuhkan air mata nya tepat di punggung tangan mungil putri nya, sehebat dan sekuat apapun seorang ayah pasti ia pernah mengeluarkan air mata, meski ia tidak pernah menunjukan nya kepada siapa pun, karena seorang ayah tidak ingin terlihat lemah oleh keluarga nya, apa lagi di depan anak dan istri nya.
"Apa kabar mu sayang?"tanya Arifin dengan mengusap tangan putri nya, ia teringat ketika ia merantau ke Jakarta, dimana Kinar menangis ingin ikut tetapi dengan terpaksa mereka meninggalkan nya"Papa harap kamu tidak membenci papa nak"air mata nya semakin deras"Papa janji jika kau sudah bangun dari tidur panjang mu, papa akan melakukan apapun yang kau ingin kan nak"tangan kanan nya membelai pucuk rambut putri nya dengan lemah lembut, ia tidak ingin menciptakan rasa sakit"Apa yang harus papa lakukan saat ini agar bisa membuat mu bangun nak? Katakan lah Kinar?"
Ia menatap perut putri nya yang membesar, di sana lah calon anak sang keparat itu bersemayam, ada rasa marah ketika melihat kearah perut putri nya, namun untuk apa ia harus marah pada calon bayi yang tidak berdosa itu, ia tidak minta di lahir kan, ia hanya tercipta karena keinginan orang tua nya, tapi tercipta bukan kesalahan dari orang tua nya. Tidak ada lagi yang bisa ia ungkapkan semua nya akan sia sia.
Ia melihat ke arah monitor yang mengeluarkan suara yang membuat nyali nya menciut,
"Papa yakin kamu bisa melalui semua ini nak, percaya lah papa mu ini akan merubah hidup mu menjadi bewarna, tidak ada luka yang akan kau terima lagi, baik dari suami keparat mu itu atau dari siapa pun"Arifin melihat ke arah pipi putri nya yang basah, ia mengusap nya dengan lembut"Apa kah kau mendengar papa mu ini sayang? Jika kau mendengar buka lah mata mu nak, papa begitu rindu dengan tatapan kemarahan mu sayang"setidak nya Arifin merasa lega ketika ia berbicara dengan Putri nya, ia mengeluarkan air mata, itu arti nya Kinar merespon semua apa yang Arifin ucapkan. Ada secercah harapan untuk putri nya sadar
"Percayalah Kinar, papa tidak akan pernah bosan menunggu mu nak"jika saja Irsyad tidak keponakan nya, maka Arifin akan membuat nya tiada, agar hati nya puas.
__ADS_1