Istri Yang Setia

Istri Yang Setia
Bertengkar


__ADS_3

"aku pulang mam"pamit Kinar lirih


"Jaga kesehatan nya yaa sayang, dan ingat minum vitamin nya dan jika perlu bantuan hubungi mam ya sayang"Tatit membelai rambut Kinar dengan lembut


"Iya mam"


"Bi,, bi Sumi"


"Iya nya"


"Bi Sumi ikut dengan Kinar ya?"


"Tidak mam, aku bisa melakukan nya mam, mam jangan khawatir"


"Tapi sayang,,,"


"Tidak mam"Tatit tersenyum


"Baiklah, dan ini obat nya jangan lupa di minum ya"Kinar menganggukkan kepala. Setelah itu Kinar keluar sementara Tatit menuju kamar Irsyad


"Apa yang kamu lakukan di kamar ini?


"Tidak ada mi"


"Kalau tidak ada, kenapa kamu memandang kamar mu dengan begitu serius? Mami tau kamu tidak mengizinkan Kinar menyentuh barang kamu Irsyad"kata Tatit, tapi Irsyad tidak menjawab justru keluar dari kamar, Tatit menarik nafas begitu berat


"Bi,, dimana Kinar?"


"Di depan den"Irsyad keluar tapi dia tidak menemukan Kinar

__ADS_1


"Mang,, mang Kasim lihat istri saya?"


"Sudah pulang den"


"Pulang? Pulang naik apa mang?"


"Naik angkot den"


Tanpa permisi Irsyad melajukan mobil nya dengan kencang, wajah nya yang dingin penuh dengan amarah, mata nya memerah dan urat di kening nya kelihatan menanda kalau diri nya memendam amarah, begitu sampai di apartemen Irsyad melihat Kinar sedang mencuci piring, ia tau ini piring bekas makan Irsyad dan kekasih nya, ada rasa sakit menyelinap di hati Kinar


"Maksud kamu apa!!!!"bentak Irsyad dengan mencekal tangan Kinar, tak ayal piring yang di pegang nya jatuh tepat mengenai kaki nya, sehingga melukai kaki nya dan mengeluarkan mengeluarkan darah. Irsyad terkejut dan Kinar hanya memandang kaki nya, dia menarik nafas begitu dalam


"kau sengaja datang ke rumah orang tua ku dan mengatakan semua nya?"Kinar menatap wajah Irsyad begitu nanar"Oh aku tau kau hanya ingin mencari muka di depan mami dan papi ku, bukankah begitu? Aku tau niat busuk mu itu Kinar"


"Aku lelah"jawab Kinar pelan dengan mengusap wajah nya yang pucat"Aku lelah selalu begini, kamu selalu menuduh ku tanpa alasan, kamu selalu menyalahkan ku dalam segala hal, kamu menganggap ku selalu salah"suara Kinar begitu pelan"sekarang katakan mau kamu apa mas?"tanya Kinar dengan memandang wajah suami nya yang begitu dingin dan tidak ada kelembutan sama sekali"Kamu menginginkan kita berpisah?"tanya Kinar,Irsyad hanya diam"Jika kamu menginginkan perpisahan, aku tidak akan keberatan dengan keputusan mu, maka pulang kan aku ke rumah orang tua ku sekarang juga"suara Kinar tetap pelan"Bukan kah perpisahan kita yang selalu kamu inginkan?"tanya Kinar kembali"Untuk apa aku tinggal di rumah ini? Untuk apa mas? Aku tidak memiliki hak atas rumah mu, kau hanya menganggap ku hanya sebagai pemuas nafsu dan pembantu mu"Kinar membersihkan piring kembali yang menumpuk di tempat cucian"Kamu jangan khawatir mas, aku tidak akan menuntut apa pun dari mu"setelah selesai Kinar membalikan badan nya dan berhadapan kembali dengan Irsyad


"Jangan munafik mas, kamu ingin kita berpisah kan?"tanya Kinar kembali, tapi Irsyad hanya diam dengan menatap wajah Kinar yang tenang bahkan sedikit pun tidak marah


"Aku hanya,,,,?"


"Hanya ingin berpisah dari ku?"Kinar tertawa pelan"Kamu jangan takut setelah kita berpisah aku tidak akan meminta apa pun dari mu, aku hanya minta setelah kita berpisah, izinkan aku tetap bekerja di perusahaan orang tua kita yang kamu kelola"Kinar melirik Irsyad yang hanya terdiam setelah itu, ia berjalan di tempat peraduan nya karpet permadani di depan ruang TV, untuk mengobati luka di kaki nya.


Irsyad masih diam mematung mengingat setiap ucapan Kinar"Kenapa hati ku sakit ketika mengingat kata kata Kinar, bukankah ini yang aku harapkan agar aku bisa berpisah dengan nya, dan menikah dengan Susan, tidak aku tidak ingin berpisah dari Kinar"batin irsyad bergejolak, di lihat nya Kinar yang sedang membersihkan luka nya


Mungkin bagi Kinar luka di kaki nya tidak sesakit di bandingkan luka di hati nya, ia nyengir menahan perih di kaki nya, meski senyum pahit terukir di bibir nya. Irsyad memasuki kamar nya di rebahkan tubuh nya dan memandang langit langit kamar


"Jatuh cinta kah aku pada Kinar? Jika aku jatuh cinta pada nya, kenapa aku selalu menyakiti nya dengan kata kata dan perbuatan ku yang membuat nya membenci ku?"Irsyad bicara pada diri nya sendiri.


Pagi ini Kinar bangun secepat mungkin, karena dia tidak ingin berkontak langsung dengan Irsyad, ini akan lebih baik buat nya. Begitu selesai ia mengirim pesan pada Nina, kalau ia berangkat ke kantor akan naik taksi. Jam masih menunjukkan angka 06.00 pagi, tetapi Kinar sudah berangkat ke kantor.

__ADS_1


Irsyad turun kebawah dengan terburu buru, karena dia ingin meminta maaf pada Kinar dan juga ingin mengatakan kalau diri nya tidak ingin berpisah dari nya, namun sayang Irsyad tidak menemukan Kinar namun sarapan sudah tersedia dimeja pantry


"Benarkah kamu ingin berpisah dari ku Kinar?"Irsyad berbicara pada diri nya sendiri dengan menatap sarapan buatan Kinar.


Jam masih menunjukan angka 06.15 wib ketika Kinar sampai di kantor


"Bu Kinar, hari masih begitu pagi Bu, dan ibu sudah datang?"tanya pengelola kantin karena dia tau kalau wanita yang berada di depan nya adalah menantu pemilik perusahaan ini


"aya dari Bandung Bu, jadi langsung ke kantor"bohong Kinar"Apa saya boleh minta air hangat nya Bu?"


"Tentu Bu, sebentar ya Bu"tidak berapa lama datang pelayan kantin dengan membawa nampan berisi gelas


"Ini Bu"


"terima kasih"pelayan itu kembali ke tempat nya semula, Kinar mengeluarkan paper bag yang berisi susu, di sendok nya susu dan di masuk kan kedalam gelas dan Kinar mulai mengaduk nya, Irsyad berjalan menuju kantin karena ingin mengatakan sesuatu pada istri nya, tapi sayang langkah nya kalah cepat dengan Nina


"Hai"sapa Nina"Apa yang terjadi sehingga pagi pagi buta kamu sudah datang ke kantor?"tanya Nina dengan memandang wajah kinar


"Tidak ada, aku hanya ingin sarapan di kantin"jawab Kinar, sementara Irsyad berdiri mendengar percakapan mereka


"Kamu bertengkar dengan suami dingin mu itu?"Kinar menggelengkan kepala, tangan nya memainkan gelas yang berisi susu


"Kamu bohong?"


"Tidak, aku tidak sedang bertengkar"Nina mengeluarkan sepotong roti yang di masukan di dalam paper bag


"Makan lah dulu roti ini, setelah itu minum obat mu"Kinar memandang wajah Nina dengan tersenyum"Kamu tau Kin, biasa nya ketika seorang wanita atau seorang istri sedang sedih karena bertengkar tempat peraduan nya adalah kamar dan kamu?"Nina tersenyum kecut"Aku tidak sengaja ketika melihat ada sebuah selimut dan bantal di ruang tv di apartemen suami mu, aku pikir itu hanya untuk istirahat ketika kamu lelah setelah pulang kerja, tetapi aku salah, aku justru melihat semua barang mu ada di sana Kinar"ada kesedihan di wajah Nina, sementara Irsyad hanya diam terpaku, dia salah menilai Kinar istri nya, selama ini dia menyangka kalau kinar menceritakan semua nya pada Nina sahabatnya ternyata itu tidak benar"Kamu baik baik saja Kinar?"tanya Nina ketika melihat Kinar memijit tengkuk nya


"Aku baik baik saja Nin"jawab Kinar dengan memegang tangan Nina, ingin ia menceritakan semua nya pada Nina, tapi ini terlalu privasi

__ADS_1


__ADS_2