Istri Yang Setia

Istri Yang Setia
Masih Iba


__ADS_3

Ketika Hanna siuman, ia merasakan nyeri di pergelangan tangan nya. Ia baru ingat kalau ia sedang di rawat inap, dia melihat di sekeliling nya dan ia tidak menemukan siapapun. Bahkan Andre yang seingat nya menemani diri nya pun juga tidak nampak. Dengan tangan gemetar ia meraih ponsel yang berada di dalam tas, ia ingin menghubungi kakak nya dan mengatakan kalau ia sedang di rawat inap, namun niat itu ia urungkan. Justru Hanna menangis karena mengasihani diri nya sendiri.


"Ibu,,, sehina itukah anak perempuan mu ini? Sehingga kebahagian ku hanya sebuah cerita, aku lemah ibu, otak ku terlalu banyak pikiran ibu, dan aku seperti di bunuh tapi tidak mati"Hanna terduduk dengan menangis tersedu sedu"Ayah,, saat ini anak mu berada dalam fase yang begitu sulit, dan sudah berada di titik terendah dalam hidup ku, ayah saat ini aku butuh bahu yang kuat untuk bersandar"ia semakin menangis tersedu sedu"Jika bunuh diri tidak dosa, maka akan aku lakukan ibu"Andre yang sedang berdiri di depan pintu terkejut, sungguh ia benar benar semakin iba


"Kau tidak perlu menangis karena menyesali semua nya. Ingat lah Hanna masih ada aku yang selalu ada untuk mu, bahkan bahu ku masih sanggup menompa semua beban mu"ucap Andre dengan menepuk bahu nya, Hanna yang masih menangis pun terkejut dengan ucapkan Andre, karena yang Hanna tau tidak ada siapapun bersama nya"Hapus air mata mu, karena aku tidak ingin wajah cantik mu penuh dengan air mata"Hanna masih menangis dengan menatap Andre"Dimana Hanna ku yang dulu, Hanna yang manja tapi kuat. Bahkan sekarang senyum manis mu sudah tidak pernah terlihat di bibir mu"


"Kau tidak perlu menggoda ku, agar aku terlihat bahagia"


"Hei"panggil andre lembut"Aku mengatakan yang sebenarnya, apakah kau telah melupakan tentang kisah kita dulu?"


"Tolong jangan katakan kisah itu mas, karena kisah itu sudah lama berkahir"


"Kau yang mengakhiri tetapi tidak dengan ku"


"Apa yang ingin kau harapkan dari wanita seperti ku?"


"Banyak, banyak sekali Hanna"Hanna menatap Andre, ia dapat melihat tatapan mata Andre yang penuh cinta, sebenar nya Hanna terlalu malu untuk mengakui segala nya. Bukan ia merasa gengsi tetapi saat ini ia merasa kalau diri nya terlalu hina di hadapan Andre.


"Terkadang aku ingin pergi jauh mas"ucap Hanna dengan mengusap air mata nya"Hidup ku ini terasa begitu melelahkan, namun apa lah daya ku, aku tidak bisa lepas dari semua ini, karena masih ada seseorang yang aku pikirkan dan harus aku perjuangkan yaitu calon anak ku yang belum lahir"Hanna mengusap perut nya, sudah entah sebesar apa rasa iba Andre terhadap Hanna"Aku hanya meminta kepada Tuhan agar di perluas lagi rasa sabar ku ini, di beri kemudahan diri ku ini untuk menjalani semua nya. Apakah aku masih berhak bahagia atau tidak? Permohonan yang aku minta sangat sederhana, tetapi apakah Tuhan mendengar doa ku?"Andre menatap Hanna begitu dalam, Seandainya Hanna masih sendiri mungkin ia akan membawa tubuh mungil yang penuh derita itu ke dalam pelukan nya. Air mata nya jatuh kembali"Aku juga meminta kepada Nya agar melepaskan semua derita yang begitu menyiksa ku"


"Amin"ucap Andre"Tuhan akan selalu mengabulkan semua doa hamba nya yang tulus"


"Benar kah itu?"tanya Hanna dengan tersenyum


"Itu pasti Hanna, tidak kah kau percaya ke pada Nya yang telah menciptakan semua seisi dunia ini?"


"Entah lah mas"jawaban seseorang yang telah putus asa


"Percayalah, Tuhan tidak akan memberikan cobaan di atas batas kemampuan umat nya"


"Tapi aku tidak mampu mas"


"Kau mampu Hanna, sebab itu Tuhan memberi ujian ke pada mu"


"Lalu sampai kapan?"


"Sampai kau benar benar menjadi kuat"


"Jika aku tidak kuat?"

__ADS_1


"Kau akan kuat, percayalah pada ku"begitu semangat nya Andre membuat diri Hanna menjadi yakin dan percaya. Namun Hanna masih ragu apakah ia akan menjadi kuat atau justru ia semakin berada di titik terendah.


"Kau tidak perlu memikirkan biaya rawat inap mu, karena aku sudah membayar nya"ucap Andre dengan memberikan selembar kertas yang tertulis kan lunas


"Aku membuat semua orang menjadi repot"ucap Hanna menangis lagi dan menangis lagi"Sampai kapan aku selalu menjadi beban orang lain?"


"Hei, hei"panggil Andre lembut sembari mengusap punggung Hanna"Aku tidak merasa kau menjadi beban ku, apalagi merepotkan ku. Kau tau aku justru senang kau repot kan"jujur sebenar nya di hati Hanna begitu bahagia jika yang mengatakan semua itu adalah suami nya, tetapi sayang ucapkan itu keluar justru dari mulut mantan kekasih nya"Sekarang kau dan bayi yang saat ini berada di perut mu itu akan menjadi tanggung jawab ku, dan ini terima lah"Andre memberikan kertas pelunasan biaya rawat inap nya dan meletakan di atas tangan Hanna.


"Kau sudah menghubungi kakak mu?"Hanna melihat ponsel dan secarik kertas yang berada di tangan nya, lalu menjawab dengan menggeleng kan kepala nya"Beritahu kakak mu, jika tidak pasti kakak mu akan mengkhawatirkan mu"


"Aku takut kalau aku menghubungi mbak Miska justru ia semakin khawatir"ucap Hanna"Apa yang harus aku katakan pada nya?"


"Katakan dengan yang sebenar nya"


"Aku takut mas"


"Kau tidak perlu takut Hanna, justru kakak mu akan takut jika kau tidak pulang"sungguh hebat sihir cinta itu, dengan sekejap Hanna langsung menelpon kakak nya


"Mbak"panggil Hanna ketika ponsel nya sudah terhubung dengan Miska


"Ya, kau dimana Hanna? Kenapa lama sekali? Dian menanyakan mu terus"


"Tidak dia hanya merengek dan menanyakan mu terus"Dian yang paling bungsu seperti memiliki ikatan batin dengan nya, padahal selama ini Dian tidak pernah seperti ini


"Mbak"panggil Hanna dengan menutup mulut nya karena ia tengah menangis


"Ada apa Hanna?"Miska mulai tidak enak dengan pikiran nya"Apakah telah terjadi sesuatu pada mu?"Hanna diam di balik ponsel tanpa menjawab sedikit pun"Katakan Hanna, jangan membuat ku menjadi takut"


"A,, a,, aku"Hanna berkata mulai terbata bata


"Aku apa Hanna? Katakan dengan jelas?"tanya Miska membuat ketiga keponakan nya melihat diri nya


"Tante kenapa dengan ibu?"suara Dika si sulung membuat Hanna tidak dapat membendung suara nya lagi


"Tidak, ibu kalian baik baik saja. Tetapi pulang nya agak lama"mereka terdiam dan melanjutkan bermain kembali, sedangkan Miska mencari tempat dimana agar ketiga keponakan nya tidak mendengar kan pembicaraan diri nya dan Hanna yang melalui ponsel


"Halo, Hanna"


"Iya mbak"

__ADS_1


"Apa yang terjadi?"suara Miska terdengar sangat khawatir


"Aku harus di rawat inap mbak"


"Ha. Kenapa?"


"Bayi dalam kandungan ku gerakan nya kurang mbak"tangis Hanna pecah, pada hal ia berusaha untuk kuat tapi nyata nya ia tidak mampu"Dan bayi ku berat nya juga tidak bertambah"Miska merasa sedih, cobaan sang adik tidak ada akhir nya


"Kau terlalu stres, sungguh ingin rasa nya aku melenyapkan pria brengsek itu"


"Mbak"panggil Hanna pelan


"Kau tau Hanna, aku benar benar benci melihat nya, dia telah menyakiti adik semata wayang ku"ia tahu kalau Miska sungguh sangat menyayangi nya, jadi wajar kalau Miska membenci suami nya"Lalu kau bersama siapa?"Hanna melihat ke arah Andre yang berdiri sembari menatap nya"Katakan Hanna, kau sendiri? Apakah uang yang aku berikan pada mu cukup?"Hanna masih ragu menjawab nya"Katakan lah Hanna, jika kau sendiri aku akan menemani mu"


"Tidak mbak, aku di temani oleh mas Andre"mendengar nama nya di sebut Andre tersenyum


"Andre mantan mu?"


"Hm"Miska tersenyum, ia mengenal Andre dengan baik ketika Hanna masih pacaran dulu, dan Andre sebelum nya pernah di kenalkan pada nya oleh Hanna


"Apakah istri nya tidak marah?"


"Mas Andre belum menikah mbak"


"Kau yakin kalau dia belum menikah?"Hanna menatap Andre, benarkah ia percaya dengan kata kata Andre kalau ia belum menikah, kenapa setelah Miska mempertanyakan status Andre, diri nya menjadi ragu tentang nya.


"Ya"jawab nya pelan


"Semoga saja, jaga diri mu baik baik. Kau tidak perlu mengkhawatirkan anak anakmu, mereka aman bersama ku, istirahat lah dan jika kau membutuhkan sesuatu segera hubungi aku"


"Kau sudah menjaga ketiga putra ku saja itu sudah sangat membantu ku, mbak. Bagaimana mungkin aku akan merepotkan mu lagi sementara kau sudah sangat repot menjaga mereka"


"Ketahuilah Hanna, aku sangat menyayangimu"


"Terima kasih mbak, sampai saat ini kau masih menyayangi ku"


"Istirahat lah, semoga bayi mu baik baik saja"


"Terima kasih mbak"Hanna mematikan ponsel sambil menarik nafas, hari ini beban nya berkurang meski hanya sedikit karena ia masih memikirkan ketiga putra nya.

__ADS_1


__ADS_2