Istri Yang Setia

Istri Yang Setia
Marah nya Seorang Ibu


__ADS_3

Astri berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ruangan dimana ibu mertua nya sedang di rawat, sebenar nya ia tidak Ingin meninggalkan ruangan Kinar, dia takut jika terjadi sesuatu pada putri nya, benar laya putri nya, ia harus meninggalkan sebentar untuk menjenguk mertua nya, ia percaya dengan Nina dan Tatit yang tidak mungkin melakukan sesuatu di luar nalar ketika dia sudah melihat calon cucu nya masih ada di rahim Kinar, Astri membuka pintu ruangan mertua nya yang sedang di rawat, ia melihat Narsih sedang menyuapi Rianti


"Apa kabar Bu?"sapa nya dengan mencium pipi kanan kiri Rianti


"Apa Kinar baik baik saja?"Astri tersenyum karena Rianti begitu perduli dengan keadaan putri nya


"Baik Bu, keadaan Kinar sudah membaik"


"Dimana Tatit?"


"Di ruangan Kinar Bu"


"Lamu meninggalkan nya sendiri?"


"Tidak, Kinar bersama Nina bu"


"Ibu tidak habis pikir, kenapa Tatit bisa melakukan nya? Kamu percaya pada nya?"


"Tadi nya tidak Bu, tapi setelah dia melihat calon cucu nya masih ada di rahim putri ku, tidak mungkin mbak Tatit akan menyakiti"Rianti atau nek Popon sebutan sehari hari nya melihat ke arah Astri


"Ibu tidak akan memaafkan nya jika terjadi sesuatu pada cucu ibu"


"Cucu ibu baik baik saja"


"Ibu tidak bisa membayangkan bagaimana Tatit secara brutal menyakiti Kinar,, ah entahlah rasa nya ibu sulit untuk melupakan nya"Rianti mengusap wajah nya yang sudah keriput tapi kecantikan masih terpancar di wajahnya, Kinar menurun dari nenek nya"Kamu masih mempercayai nya setelah apa yang di lakukan nya pada Kinar?"


"Aku mengenal mbak Tatit sudah 35 tahun Bu"kata Astri dengan mengusap tangan Rianti yang sudah keriput


"Ingin sekali ibu menampar nya"Astri terdiam mendengar ucapan mertua nya"Berani sekali dia menyakiti Kinar di hadapan ibu, syukur Nina datang kalau tidak, entah apa yang akan terjadi pada kinar"


"Ibu tenang ya sekarang ibu istirahatlah"


"Bagaimana ibu akan istirahat kalau ibu belum melihat keadaan Kinar saat ini"


"Percayalah pada ku Bu,,, Kinar saat ini sudah baik baik saja"


"Narsih panggilan kan Tatit kemari"Narsih hanya menurut dengan perintah majikan nya, Astri tidak mampu berkata kata apa pun yang di ucapkan ibu mertua nya, pasti tidak akan ada yang bisa melawan nya termasuk Arifin putra nya.


Narsih masuk keruangan Kinar dan dia melihat Tatit sedang mengusap leher Kinar yang membiru akibat perbuatan nya

__ADS_1


"Apa masih sakit?"tanya Tatit dengan lembut, air mata nya tidak bisa di bendung ketika melihat begitu banyak memar di tubuh menantu nya


"Sedikit"


"Bodoh nya aku!!!"Tatit memukul tangan nya"Apa yang telah mam lakukan pada mu?"


"Sudah mam,, sudah"kata Kinar dengan memegang tangan Tatit, ia masih duduk bersandar pada bantal yang menempel pada dinding


"Maaf Bu Tatit,,"kata Narsih"Bu Rianti menyuruh saya untuk memanggil ibu"Kinar menatap Narsih, ia yakin pasti saat ini nenek nya sedang marah besar


"Iya, kamu duluan saja Narsih saya akan menyusul"


"Baik Bu"Narsih keluar dari raungan Kinar, dan Nina masuk dengan membawa sesuatu di dalam plastik yang di pegang nya


"Mam keruangan nenek dulu ya sayang, Nina tolong kamu jaga Kinar sebentar ya"


"Baik Tan"Nina mendekati kinar yang sedang membelai perut nya yang bundar, di buka nya roti yang berada di plastik dan menyerahkan nya pada Kinar


"Aku tidak lapar Nin"ucap Kinar pelan dengan mengusap leher nya yang terasa perih


"Kamu harus makan sedikit saja agar kamu cepat pulih, lagian bayi robot mu pasti lapar maka nya dia gerak terus, atau dia bergerak terus karena ingin meninju wajah nenek robot nya"


"Kenyataan nya Kin, kalau suami robot mu itu mirip dengan mertua robot mu"Kinar hanya menatap Nina"Sorry,,, sorry aku hanya tidak menyangka kalau ternyata mam mertua mu begitu brutal"Kinar mulai memasukkan roti di dalam mulut nya


Tatit tau untuk apa ibu nya memanggil diri nya, ibu nya pasti sangat marah melihat kelakuan nya terhadap Kinar, bahkan ia mendengar bagaimana Rianti berteriak memanggil nama nya agar melepaskan Kinar, tapi Tatit justru marah dan membentak Rianti dengan kasar, begitu masuk keruangan Rianti, Tatit berdiri dengan menatap ibu nya, jangan kan diri nya, Arifin adik nya yang laki laki saja tidak berani melawan ibu nya


"Masih berani kamu menampakan wajah mu setelah apa yang telah kamu lakukan pada cucu ku!!!?"Tatit hanya diam dengan menundukkan wajah nya"Jika terjadi sesuatu pada Kinar, ibu tidak akan pernah memaafkan mu"Astri hanya diam


"Aku kecewa Bu"


"Tanpa melihat kebenaran nya terlebih dahulu!!!bentak Rianti, Astri mengusap lengan Rianti"Tidak berpikir kah kamu sebelum melakukan nya?"tanya nya lagi"Tatit,, Tatit,, Kinar itu sudah cukup menderita akibat ulah kalian semua, kenapa kamu menambah penderitaan nya, ibu begitu menyayangi nya lebih dari kamu"Rianti mengusap wajah nya"Ibu masih teringat bagaimana ibu mendengar tangisan nya setiap malam karena ulah putra mu"Tatit menunjukkan wajah nya"Bagaimana dia berusaha memulai kehidupan nya setelah perlakuan suami nya, tidak kah kamu berpikir harus berapa lama lagi dia menderita?"kata Rianti"Memang lebih baik mereka berdua berpisah agar Kinar bisa memulai hidup dengan tenang"


"Tapi Bu,,,"


"Jangan menyela ku!!!"bentak Rianti"Apakah kau begitu menginginkan nya melihat menderita terus menerus!!?"Tatit mengusap kepala nya yang terasa pusing"Ibu begitu bahagia ketika melihat Kinar bisa memulai segala nya tanpa harus memikirkan Irsyad, dan apakah kamu juga pernah memikirkan ibu mu yang sudah renta ini? Apa kamu juga pernah memikirkan bagaimana jika terjadi pada ibu mu ini? Seharusnya di usia senja ini ibu ada yang menjaga nya? Hanya Narsih yang menemani ibu, tapi setelah kehadiran Kinar ibu merasa bahagia karena dia sudah menemani ibu, lalu kenapa kamu mengusik nya?"Tatit menghapus air mata nya, benar apa yang di katakan ibu nya, tidak seharusnya di usia senja seperti ini ibu nya sibuk bekerja, lalu apa guna nya Tatit sebagai anak perempuan? Diri nya sibuk dengan dunia nya yang selalu memikirkan calon cucu nya sehingga mengabaikan ibu nya"Lebih baik kalian semua pulang, dan jangan pernah lagi mengusik kehidupan Kinar"


"Aku akan pulang setelah ibu sudah sehat"kata Tatit


"Untuk apa? Ibu yakin kamu mau menunggu ibu karena calon cucu mu bukan?"

__ADS_1


"Ibu,,,"


"Pulanglah kalian?"


"Ibu,,"kata Tatit


"Jangan membantah"


"ibu maafkan aku"Tatit memeluk ibu nya dengan menangis, ia lupa kapan terakhir diri nya memeluk ibu nya"Maafkan atas kesalahan ku Bu,, aku memang benar benar bersalah, jadi tolong maafkan aku Bu"Ranti berusaha melepaskan pelukan nya namun Tatit menahan nya


setelah tiga hari di rawat di rumah sakit baik Kinar dan Rianti sudah di izinkan Pulang, Tatit mendorong ibu nya dengan menggunakan kursi roda, sedangkan Kinar di tuntun oleh Astri, Kinar meletakan tangan nya di atas perut nya yang bulat, sedangkan Narsih dan Nina berjalan di belakang dengan membawa tas yang berisi pakaian kedua pasien yang sekarang berada di depan mereka. Rianti satu mobil dengan Tatit dan Narsih, sedangkan Kinar bersama Astri dan Nina, di dalam mobil tidak ada yang bersuara mereka sibuk dengan pikiran nya masing masing


"Mama sudah cukup lama di Jogja, kasihan papa ma"Kinar membuka suara


"Hari ini mama akan langsung pulang"begitu sampai di rumah mertua nya, Astri menuntun kinar masuk ke dalam kamar dan membaringkan nya"Tapi mama ingin bertanya pada mu nak"tanya Astri"Kenapa kamu membohongi mama?"tanya Astri, Kinar menarik nafas begitu dalam


"Aku tidak ingin mama merasa bersalah terus atas kegagalan pernikahan ku ma, bukan kah aku sudah mengatakan pada mama kalau ini takdir ma bukan kesalahan mama"


"Maafkan atas keegoisan mama ya nak"


"Kata itu yang tidak ingin aku dengar ma, harus berapa kali dan berapa banyak mama meminta maaf pada ku atas kejadian itu"kata Kinar"Tidak ada yang harus di maafkan ma, tidak ada, kenapa mama harus meminta maaf terus menerus pada ku?"Astri menitikkan air mata nya"Mama jangan menangis aku sudah ikhlas menjalani ini semua"


"Mama tau itu sayang,,, mama tau, tapi tetap saja mama masih merasa bersalah"Astri memegang tangan kinar yang berada di atas perut nya"Jika kamu merasa keram atau mules ingin lahiran telpon mama ya nak"ada rasa sakit ketika Astri mengucapkan kata itu, Kinar menganggukkan kepala"Kamu ingin lahiran normal atau SC?"


"Aku ingin melahirkan kan normal ma"bagaimana mungkin putri nya akan melahirkan tanpa ada seorang suami di samping nya? Siapa yang akan memberi nya semangat pada putri nya? Taukah Kinar kalau melahirkan itu begitu sakit rasa nya, lalu siapa yang akan mengazankan cucu nya? Hati nya semakin sakit


"Nina jika Kinar sudah mulai sakit atau terjadi sesuatu pada nya, segera hubungi tante ya, dan Tante titip Kinar ya"


"Ma,, Nina punya kehidupan sendiri ma"


"Kenapa kamu bicara seperti itu kin? sekarang aku bukan saja teman mu tapi aku sudah menjadi saudara perempuan mu"Kinar menatap Nina sahabat nya, seharusnya Astri mengatakan itu pada Irsyad bukan pada Nina


"Kalau begitu baiklah mama akan pulang sekarang"Astri mencium pipi putri nya dan mengusap perut kinar dengan lembut, benci apapun Astri pada Irsyad bagaimana pun Astri tetap menerima calon cucu nya yang sekarang berada di rahim kinar


"Mama pulang ya sayang, jaga kesehatan kamu ya dan jangan terlalu capek"Kinar menatap mama nya, sebenar nya kinar tidak ingin mama nya pulang tapi kinar tidak ingin bersikap egois, Astri meninggalkan kamar nya dan kini menuju kamar rianti


"Bu aku langsung pulang ya"


"Kamu hati hati ya"

__ADS_1


"Aku titip Kinar ya Bu"rianti hanya tersenyum, setelah itu Astri langsung menuju mobil dan sebelum masuk mobil, Astri menatap rumah Ranti, di sini putri nya akan memulai segala nya dari awal, tapi Astri masih takut bisa kah Kinar melahirkan secara normal? ah tidak, Astri sangat yakin kalau kinar akan mampu melewati semua nya.


__ADS_2