
Tatit masih duduk di ruang tamu, ia begitu merindukan menantu kesayangan nya, ingin rasa nya ia berbicara melalui ponsel namun keberanian nya hilang, meski ia tau kalau Kinar pasti memaafkan nya tetapi sama saja masih ada rasa takut
"Mi"
"Papi"ucap Tatit terkejut dengan menatap wajah lelah suami nya
"Kenapa mami melamun? Apa yang mengganggu pikiran mami? Siapa yang telah menggangu pikiran mami sampai melamun begitu serius? Apakah dia seorang pria? Tolong mami jangan membuat papi cemburu"Goda Arifin membuat Tatit tersenyum
"Tidak ada seorang pria yang berani mengganggu pikiran mami, Pi"
"Lho memang nya kenapa mi?"goda Arifin dengan memeluk tubuh semok istri nya
"Pikiran mami sudah papi segel"
"Ha"Irfan terkejut sambil tertawa"Masak sih mi? Perasaan papi tidak pernah mensegel pikiran mami"
"Papi sih terlalu banyak perasaan sampai tidak ingat, jangan jangan,,,"
"Jangan jangan apa mi?"potong Irfan sambil mencubit pelan pipi istri nya"Di pikiran dan hati papi hanya ada mami seorang"goda Irfan membuat wajah istri nya merona merah"Tetapi jika suatu saat ada seseorang yang mengisi hati papi, mami jangan marah ya?"
"Ha, papi mau menduakan mami?"
"Terpaksa mi"
"Kalau papi mau menduakan mami langkahi dulu mayat mami"
"Berarti mami mati dulu lah"
"Papi berharap mami mati?"
"Ya tidak dong mi,,, tapi kata mami langkahi dulu mayat mami"jawab Irfan dengan mengusap wajah istri nya dengan penuh kasih sayang
"Lalu siapa orang yang berani masuk ke dalam hati papi tanpa permisi dulu sama mami, Pi?"
"Harus kah papi menyebutkan nya mi?"
"Jangan membuat mami murka Pi"wajah Tatit penuh amarah
__ADS_1
"Mami tidak mengizinkan nya?"
"Papi berniat poligami?"
"Ah tidak, papi hanya ingin menjadi kan nya permaisuri di dalam hati papi, mi"
"Papi!!!"jerit tatit membuat Irfan terkejut dan melonjak"Sekali lagi jangan membuat Mai murka pi, sekarang katakan siapa dia!?"tanya Tatit dengan mencengkram leher suami nya dengan penuh amarah
"Mami berniat membunuh papi?"
"Ya"
"Sabar mi, sabar"
"Kesabaran mami habis Pi, sekarang katakan siapa dia!?"
"Dia adalah,,"Irfan masih berusaha menggoda istri nya yang marah karena cemburu
"Jawab Pi!!!"teriak Tatit
"Apakah Kinar mau memaafkan mami, Pi?"
"Apa mami ingin menemui menantu mami?"
"Mami merindukan nya mi, tapi mami takut Pi"Irfan menatap wajah istri nya"Apakah Kinar dan calon cucu kita saat ini telah bahagia Pi?"
"Papi sangat berharap Irsyad dapat berubah menjadi sosok yang lebih baik mi?"
"Amin, mudah mudahan Pi"
"Besok kita ke Jogja"
"Papi serius?"Irfan menganggukkan kepala, Tatit langsung memeluk tubuh suami nya, ia sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Kinar dan calon cucu nya, ia ingin malam ini tidur dengan tenang setelah beberapa malam ini tidak bisa tidur
"Mami mau kemana?"
"Mami mau tidur, ngantuk Pi"
__ADS_1
"Tapi papi belum makan mi"
"Untuk malam ini makan dan tidur sendiri ya Pi, mami mau tidur"ucap Tatit dengan meninggal kan suami nya yang masih memandangi nya begitu serius
Astrea juga melamun memikir kan nasib putri sulung nya, apakah saat ini putri nya telah merasakan bahagia atau sakit yang sekian kali nya, namun ia sedikit tenang ketika mertua nya menelpon diri nya kalau saat ini Kinar dan Irsyad telah tinggal bersama mertua nya, ada rasa haru dan bahagia mendengar kalau putri nya kini telah bersama dengan suami nya, setidak nya kinar sudah merasakan bagaimana rasa nya hidup bahagia bersama suami nya
"Mama masih memikirkan Kinar?"tanya Arifin"Untuk apa mama memikirkan nya, bukan kah ini kemauan nya untuk kembali pada suami brengsek nya itu?"
"Bagaimana pun Kinar anak kita pa"jawab Astrea tanpa melihat ke arah suami nya
"Papa tidak akan bisa menghapus darah papa pada Kinar, tapi Kinar telah membuat papa kecewa"
"Apakah papa menginginkan Kinar menjadi seorang janda?"
"Lebih baik Kinar menjadi seorang janda dari pada punya suami seperti Irsyad"
"Papa!!!"jerit Astrea"Ini semua bukan sepenuh nya salah Kinar pa, harus berapa kali mama katakan kalau ini juga salah kita pa, salah kita"ucap Astrea sambil menangis"Seharusnya papa bahagia melihat putri kita bisa hidup bahagia bersama suami nya"
"Kenapa mama begitu yakin kalau Kinar telah hidup bahagia? Apa mama pernah tau? Apakah mama pernah bicara melalui ponsel dengan Kinar kalau sekarang ia telah bahagia?"Arifin tersenyum sinis"Penyesalan terbesar ku adalah menikah kan Kinar dengan pria tidak tau diri seperti Irsyad"
"Percuma, percuma papa menyesali semua nya, lebih baik papa menerima Irsyad sebagai menantu papa"
"Tidak semudah itu ma, papa tidak akan menerima Irsyad sebagai menantu papa begitu saja setelah apa yang telah ia lakukan terhadap Kinar"
"Lalu apa mau papa saat ini?"Astrea mulai tersulut emosi melihat sikap suami nya"Ingin melihat Kinar berpisah, begitu?"Arifin menatap istri nya dengan diam. Benarkah Arifin menginginkan Kinar berpisah? Mampu kah ia melihat putri sulung nya menjadi janda? Itu terlalu sulit. Bahkan di dalam hidup nya tidak pernah terpikirkan apa lagi membayangkan jika putri nya akan menjadi seorang janda, sudah berapa kali ia bertengkar dengan istri nya yang selalu meributkan putri dan menantu nya. Haruskah ia mengikhlaskan putri nya hidup bersama pria yang berkali kali menyakiti putri nya? Orang tua mana yang akan tega membiarkan putri nya hidup bersama suami yang telah mengkhianati pernikahan nya?
"Jika seperti ini terus yang ada mama yang akan menjadi janda"ucap Astrea berlalu dari hadapan suami nya sambil menangis
"Maksud mama apa?"
"Pikirkan sendiri pa"
"Tunggu ma"Panggil Arifin dengan mengejar istri nya"Mama menginginkan kita berpisah?"
"Harus sampai kapan kita selalu menyalahkan Kinar dan Irsyad, pa? Sementara ini juga kesalahan kita dan kita selalu ribut tentang Irsyad dan Kinar"Ucap Astrea dengan menghapus air mata nya dengan kasar"Sekarang lakukan lah apa yang ingin papa lakukan, mama lelah selalu ribut hanya tentang Kinar dan Irsyad"Arifin menatap wajah istri nya"Kenapa diam? Bukan kah papa begitu berambisi untuk memisahkan mereka berdua? Lakukan lah pa, mama tidak akan ikut campur"
Arifin tidak memungkiri setiap kali ia bertengkar itu hanya karena Irsyad dan Kinar, kenapa Arifin tidak berusaha merelakan putri nya kembali pada suami nya? Bukan kah mereka berdua sudah cukup dewasa dalam mengambil keputusan? Kinar tidak pernah menceritakan masalah kehidupan rumah tangga nya kepada kedua orang tua nya, bahkan ia menanggung semua nya sendiri ketika suami nya berselingkuh, dan lebih hebat nya Arifin mengetahui perselingkuhan menantu nya dengan mata kepala nya sendiri. Hati orang tua mana yang tega melihat putri kesayangan nya di khianati? Meski Arifin tau kalau putri nya tidak pernah mengeluh sedikit pun tentang suami nya kepada nya, yang membuat Arifin tidak tega sudah berkali kali putri nya di khianati namun Kinar masih mau menerima suami nya. Dan saat ini ia bertengkar dengan Astrea selalu masalah yang sama dan seperti di sebuah sinetron bersambung dan ada ratusan episode seperti tidak akan ada akhir nya.
__ADS_1