
"Kamu tidak lupakan?"
"Tentang?"
"Ya ampun Kinar, apakah kamu benar benar lupa tentang hari bahagia ku?"
"Tentu saja aku tidak lupa, tapi bukan kah kamu masih merahasiakan tanggal pernikahan mu? Lalu bagaimana aku tau?"
"Dua hari lagi pernikahan ku akan di laksanakan"
"Ha"Kinar kelihatan terkejut"Apakah aku bukan siapa siapa bagi mu, Nin? Sampai hari bahagia pun aku baru tau hari ini"ucap Kinar dengan lirih"Lupakan lah"
"Bukan begitu maksud ku, Kin. Jika aku memberitahu jauh jauh hari, pasti kamu akan kelelahan"
"Tidak masalah, apakah kamu sudah memberikan undangan pada yang lain?"
"Sudah aku kirim melalui WhatsApp"jawab Nina"Kamu jangan merasa lain pada ku, Kinar. Aku sengaja tidak memberi undangan melalui WhatsApp, karena aku ingin menelpon mu secara langsung"
"Tanggal berapa hari H nya?"
"Tanggal 25"
"Aku akan kesana tepat hari H"
"Kamu tega Kinar, bagaimana mungkin kamu datang tepat di hari H nya"Kinar ingat betapa banyak nya pengorbanan yang telah Nina berikan pada nya
"Aku akan datang besok"
"Terima kasih Kinar, terima kasih"
"Kamu tidak perlu mengucapkan terima kasih pada ku, kebaikan mu pada ku tidak terhitung"
"Sesama sahabat sudah seharusnya saling membantu"Kinar tersenyum"Kamu akan menginap kan?"
"Jika tidak menginap itu artinya aku harus pulang pergi"
"Dan itu bisa membuat mu kelelahan"
"Baiklah, aku akan menginap"
"Suami mu?"
"Mas Irsyad sedang sibuk di kantor nya sudah pasti dia tidak akan menginap"
"Aku akan menunggu mu"
"Jangan khawatir aku besok akan datang"
"Kalau begitu aku akan mematikan ponsel nya"
"Jangan stres, hari yang selama ini kamu nantikan akan datang"
"Bagaimana aku stres kalau momen ini lah yang selama ini aku tunggu"
"Matikan lah ponsel nya"Nina langsung mematikan ponsel nya, dan Kinar masih menatap ponsel nya, ia belum dapat mempercayai nya kalau sahabat nya akan menikah tiga hari lagi.
Sebelum berangkat ke rumah Nina, Kinar menelpon nenek nya jika dua hari dia tidak akan pulang karena ia akan ke rumah Nina untuk menyaksikan sahabat nya menjadi milik orang lain. Tidak membutuh kan waktu lama sampai ke rumah sahabatnya.
"Akhir nya kamu datang juga"Kata Nina ketika mobil nya sudah berada di halaman rumah orang tua Nina, dan Nina lah yang menyambut diri nya dan juga suami nya
"Bagaimana mungkin aku tidak datang"
"Masuk yuk"ajak nina dengan menggandeng tangan kinar"Mari pak"Irsyad hanya menurut dan mengikuti kedua nya menuju kamar Nina"Bapak ingin minum sesuatu?"
"Tidak terima kasih, saya mau langsung ke kantor, saya titip istri saya ya Nin"kata Irsyad dengan memandang istri nya
"Kamu janjikan mas?"
"Aku janji sayang"jawab Irsyad dengan memeluk tubuh istri nya dan mencium kepala nya berkali kali"Aku pasti merindukan mu"
"Mas,,,"melihat sikap kinar, Nina begitu heran
"Iya aku janji sayang,kau juga janji jangan kecapean"kata Irsyad dengan mengusap perut istri nya, beberapa orang yang melihat adegan itu tersenyum"Ya sudah aku berangkat dulu ya"
"Hati hati mas"Irsyad tersenyum sambil melambaikan tangan nya sembari meninggalkan nya
"Kamu kenapa kin?"tanya Nina melihat sahabat nya yang terlihat aneh
"Tidak ada"
"Kamu kelihatan begitu khawatir?"
"Perasaan kamu saja kali?"Nina mengajak kinar masuk ke dalam kamar nya
"Aku tidur di sini?"
"Memang nya kenapa?"
"Nanti kalau calon suami kamu datang?"
"Masih calon suami dan belum suami"kinar tersenyum dan membaringkan tubuh mungil nya di ranjang milik nina
"Kamu sudah baikan sama suami kamu?"
"Sudah"
"Ternyata sahabat ku sendiri yang tidak tahan"
"Apaan sih kamu?"
"Kamu ingin makan sesuatu?"
"Tidak aku masih terlalu kenyang"jawab kinar dengan mengusap perut nya, di sandarkan tubuh nya dengan beberapa bantal untuk mengganjal tubuh nya
"Akhir nya sahabat ku menikah juga dan akan merasakan malam pertama"
"Apaan sih"
"Jangan malu"ejek kinar sambil tertawa terbahak bahak, tiba tiba"ahhww"jerit kinar
"Kenapa Kin?"
"Perut ku keram"
"Maka nya jangan ngomongin parno di depan anak di bawah umur"
"Siapa?"
__ADS_1
"Tu calon anak kamu?"kinar tertawa terbahak bahak
"Bagaimana mungkin kamu mengatakan anak yang masih di dalam perut ku anak di bawah umur?"
"Tentu saja,, bukan kah calon keponakan ku ini belum lahir?"
"Kamu bisa saja"
Mempelai laki laki dan keluarga nya sudah datang, kinar dapat melihat binar bahagia di mata Nina sang mempelai wanita, betapa bahagia nya ia melihat sahabat nya itu
"Kamu tidak ikut melihat calon suami ku?"
"Tentu saja aku ingin melihat nya"
"Kalau begitu bersiap lah"
"Baiklah"kinar berjalan ke kamar mandi dan mengganti baju nya dengan memakai dress panjang, aura kecantikan nya tidak hilang meski wajah nya tidak di poles dengan bedak, ia hanya memakai lipstik agar wajah nya tidak kelihatan pucat setelah berdandan sebentar mereka berdua keluar dan tidak lupa kinar menuntun Nina
"He, kenapa kamu menuntun ku?"
"Memang nya kenapa?"
"Seharusnya aku yang menuntun mu"
"Ingat Nina, kamu yang menjadi calon pengantin lalu kenapa kamu yang harus menuntun ku"
"Tapi bukan kah ini sebalik nya"
"Ingat Nina sekarang aku yang akan menjadi pelayan mu"
"Baiklah kalau itu mau mu"jawab Nina dengan mengusap perut kinar
Semua mata memandang ke arah mereka berdua entah siapa yang mereka pandang Nina atau Kinar, karena kedua nya memiliki aura kecantikan yang sama sama sempurna
"Duduk lah aku tidak ingin terjadi sesuatu pada mu di hari bahagia ku"
"Kau tidak perlu mengkhawatirkan ku, karena calon keponakan mu tau kalau ini hari bahagia Tante nya"
"Benar kah,, calon keponakan ku sifat nya benar benar seperti ibu nya"kinar tersenyum, mereka berdua duduk bersebelahan kinar tidak ingin melihat moment bahagia ini terlewatkan, senyum selalu menghiasi wajah Nina, terlalu banyak yang di bicarakan hampir satu jam itu membuat kinar sedikit merasa pegal di pinggang nya, setelah selesai mereka semua menyantap hidangan yang telah di sediakan.
"Kau kelihatan lelah sekali?"
"Ah tidak,, bagaimana aku merasa lelah kalau sahabat ku hari ini sedang bahagia"
"Jangan membohongi ku wajah mu tidak bisa berbohong"
"Pinggang ku hanya sedikit terasa pegal"
"Kau terlalu lama duduk, sekarang istirahat lah aku akan menyusul mu setelah acara makan ini selesai"
"Baiklah"kinar bangkit dari duduk nya dan berjalan menuju kamar, sesampai nya di kamar, kinar langsung membaringkan tubuh nya
"Kenapa ayah mu belum juga datang sayang?"tanya kinar kepada calon bayi nya"Apakah ayah mu benar benar sibuk sehingga melupakan kita?"
Rasa kantuk menyerang mata kinar sehingga dia pun tertidur begitu nyenyak ia lupa sekarang berada dimana? semenjak hamil ia mudah tertidur apakah semua ibu hamil seperti kinar?
"Hai sayang bangun,, kau lupa kalau kau sedang tidur di kamar pengantin?"kata seseorang dengan mengusap wajah nya dengan lembut"S bangun"berlahan lahan kinar membuka mata nya dan
"Mas Irsyad"panggil kinar duduk dengan terburu buru
"Hai pelan pelan kau akan menyakiti calon anak ku"kata Irsyad membuat Nina tersenyum
"Aku tidak melupakan kalian, tapi hari ini aku menyelesaikan pekerjaan ku"
"Benarkah?"
"Aku tidak mengingkari janjiku, apakah kau sudah makan?"
"Belum mas?"
"Kenapa kalian melupakan keberadaan ku?"Nina bersuara"Kalian berdua jangan terlalu bucin"
"Kenapa?"
"Maaf pak Irsyad adegan kalian berdua membuat ku merasa iri"
"Kau tidak perlu iri Nina karena besok malam kau akan merasakan seperti yang aku rasakan"kata kinar dengan mengusap perut nya
"Kamu bisa saja"Irsyad hanya tersenyum
"Lalu kami tidur dimana?"
"Kalian berdua bisa tidur di sini'
"Lalu kau sendiri?"
"Dia tidak akan bisa tidur malam ini sayang"kata irsyad dengan menggoda Nina
"Kenapa?"
"Karena sahabat mu akan memikirkan besok malam"
"Memang nya besok malam ada apa?"
"Malam pertama mu sebagai pengantin baru Nina"jawab kinar dengan tertawa"jangan lupa ingatkan kepada suami mu jangan meninggalkan jejak"
"Kau pikir suami ku seperti suami ku?"kinar menatap suami nya dengan tersenyum
"Kau menceritakan semua nya pada nya?"
"Tidak tapi jejak mu begitu sulit di hapus mas"kata kinar dengan memegang pipi suami nya
"Lagian pak Irsyad kebiasaan selalu meninggalkan jejak sih sehingga semua orang jadi tau"
"Termasuk diri mu?"
"Aku hanya melihat pak"
"Sama saja, kau belum makan kalau begitu kita makan dulu"ajak Irsyad dengan membantu istri nya untuk berdiri
Mungkin ini awal bahagia untuk hubungan kinar dan istri nya, meski berulang kali kinar di sakiti namun kini kinar memetik hasil nya bahkan semua orang tidak akan percaya kalau Irsyad sebelum nya adalah suami robot yang tidak memiliki hati, mungkin secara pisik kinar tidak di sakiti namun secara batin kinar harus merasakan kepedihan yang sangat berkepanjangan
"Kita makan dulu ya nin, kau tidak ingin menemani calon suami mu?"
"Calon suami ku sudah cukup dewasa jadi tidak perlu di temani"
"Seharusnya kau bersikap sedikit romantis"kata kinar
__ADS_1
"Kau jangan khawatir setelah menikah kau akan tau betapa romantis nya diri ku ini"
"Aku tidak yakin kalau kau bisa romantis"
"Jangan menganggap ku remeh tuan Irsyad Abdul Malik"
"Kau menyebut nama suami ku begitu sempurna"
"Kau cemburu?"tanya nina
"Ah tidak,, aku hanya terkejut kau menyebut nya secara lengkap"
"Bisa kita makan dulu?"
"Ya baiklah"
"Ingat kinar setelah makan kembali lah ke kamar aku tidak ingin sendirian"
"Kau curang Nina,, malam ini aku harus menemani mu sampai pagi setelah itu kau akan melupakan ku"
"Apakah kau ingin melihat malam pertama ku dengan suami ku"
"Aku sudah tau dan sudah merasakan berkali kali jadi aku tidak perlu melihat mu"
"Kita jadi makan atau tidak?"tanya Irsyad sedikit marah"Kalian bisa melanjutkan nanti setelah selesai makan"
"Baiklah,,, baiklah,, maaf Nina suami robot ku sudah mulai marah"canda kinar, Irsyad menuntun nya menuju meja makan yang sudah di sediakan di ruang tamu
"Kau duduklah aku akan mengambilkan nya untuk mu"kinar hanya menurut ketika suami nya memerintah nya untuk mengikuti perkataan nya, ia duduk dengan menatap suami nya yang sedang mengambil menu makanan yang sudah tersedia di meja makan
"Sekarang makan?"kata Irsyad dengan menyuapi kinar
"Aku bisa melakukan nya mas"
"Kenapa?"
"Aku tidak mau semua orang memandang kita"
"Jangan kau hiraukan mereka, sekarang buka mulut mu aku tidak mau calon anak ku kelaparan"
"Kau hanya memikirkan calon anak mu saja mas, aku rasa kau tidak pernah memikirkan ibu calon anak mu"
"Siapa bilang?"kinar menatap istri nya"Sku begitu mengkhawatirkan ibu calon anak ku, tapi dimana calon suami Nina?"
"Itu yang memakai baju warna krem"
"Tomi"
"Kau mengenal nya?"
"Bukan kah Tomi sudah menikah dan sudah memiliki tiga orang anak?"
"Ha,,Tomi sudah menikah dan memiliki tiga orang anak mas?"
"Mudah mudahan dia bukan Tomi yang aku kenal, tapi Wajah nya begitu mirip, lupakan mungkin aku salah?"
"Banyak manusia di muka bumi ini begitu memiliki kemiripan mas"ucap Kinar"Kau tidak makan mas?"
"Sebelum kemari aku sudah makan"
"Kau membohongi ku?"
"Jika tidak di bohongi kau tidak akan makan"
Suasana begitu ramai benar kata kinar semua mata memandang nya yang makan di suapi oleh suami nya, begitu selesai makan irsyad menuntun istri nya menuju kamar Nina
"Nin,,, kita beneran tidur di kamar ini?jika calon suami mu mau ke kamar mandi?"
"Kamar mandi tamu ada"
"Kasihan kali suami kamu nanti nya nin memiliki istri jutek seperti kamu"
"Aku tidak seperti diri mu yang memiliki tingkat kesabaran yang tidak ada ambang batas nya"canda Nina sambil tertawa dengan melirik irsyad
"Aku akan tidur di bawah kalian berdua tidur lah di atas"kata Irsyad
"Aku akan mengambil bed cover untuk pak Irsyad"
"Terima kasih Nina"
Kinar berbaring miring dengan memijit pinggang nya yang masih terasa pegal, Irsyad membuka jas nya dan mengganti baju nya dengan kaos santai setelah itu di masukan pakaian nya ke dalam tas yang di bawa nya
"Apakah pinggang mu begitu sakit?"tanya Irsyad dengan duduk dengan menghadap kearah istri nya
"Sedikit mas"Irsyad memijit lembut pinggang istri nya
"Apa saja yang kau lakukan sampai pinggang mu terasa sakit?"
"Hari ini aku terlalu banyak duduk mas"jawab kinar dengan memegang paha suami nya, Irsyad tau semenjak istri nya hamil besar kondisi nya mudah lelah
"Aku letakkan di sini ya pak?"
"Terima kasih nin"Nina meletakan bed cover nya di sebelah kinar tidur, Irsyad tidak ingin jika kinar butuh sesuatu dia tidak mengetahui nya, cukup dulu ia mengabaikan semua nya. Tangan Irsyad pindah ke kaki istri nya yang mulai bengkak
"Kaki mu kenapa bengkak honey?"
"Bengkak?aku tidak mengetahui nya mas"Jawab kinar dengan melihat kaki nya meski agak susah karena terhalang perut nya yang bundar
"Kita ke dokter?"
"Untuk apa mas? Lagian kaki ku tidak sakit jadi tidak perlu ke dokter"
"Tapi aku khawatir"
"Tidak akan terjadi apa apa"jawab kinar dengan menikmati pijitan suami nya di kaki nya yang memang terasa berdenyut dan nyeri, Nina duduk di sebelah kinar, ia berharap kelak suami nya akan seperti Irsyad yang sekarang bukan yang dulu, mata kinar mulai terpejam tiba tiba
"Hoek,,Hoek,,"kinar merasa mual dan menutup tangan nya dengan tangan
"Bantu aku mas"kata kinar dengan mengulurkan tangan nya, Irsyad langsung membantu nya dengan sedikit berlari kinar menuju kamar mandi
"Jangan lari sayang!?"jerit Irsyad dengan mengejar istri nya lalu menarik tangan nya namun kinar tidak perduli
"Hoek,, hoek"semua makanan yang masuk ke dalam perut nya keluar tanpa sisa"Hoek,,Hoek"Irsyad berusaha membantu dengan memijit tengkuk istri nya dengan lembut
"Jangan di paksa nanti leher mu akan sakit"keringat dingin membasahi wajah pucat kinar, suami nya membantu dengan memegang tangan nya
"Tangan mu begitu dingin?"Irsyad langsung membopong tubuh kinar dan di baringkan di ranjang,
__ADS_1
"Ini pak oleskan minyak angin di perut dan di leher nya kinar, barang kali bisa mengurangi rasa mual nya"Irsyad mengambil minyak angin dari tangan Nina, di naikkan baju kinar dan nampak perut buncit nya begitu putih tanpa ada luka sedikit pun, dengan lembut Irsyad mengusap perut kinar dengan minyak angin dan sekali kali di cium nya
"Jangan nakal sayang kasihan ibu mu"ucap nya, Nina hanya tersenyum melihat hal itu ia jadi ingin segera hamil, di miringkan tubuh mungil kinar dan di usap nya punggung nya kembali hingga Kinar merasa sedikit lumayan.