
Kinar menangis sembari memeluk jas milik suami nya
"Ternyata jodoh dan takdir ku bukan di tentukan oleh Tuhan ma"ia menghapus air mata nya"Semua nya papa yang menentukan"
"Hus,, kamu tidak boleh berkata seperti itu nak"
"Tapi kenyataan nya memang seperti itu ma, sekarang rasa putus asa mendera ku dan rasa nya aku ingin tiada saja saat ini"ia menatap sang adik yang sedang menggendong putra nya
"Kinar!! Kamu tidak boleh berbicara seperti itu nak. Ingat bayi dalam kandungan kamu"suara tangis nya menyayat hati Astrea, ia memegang kedua pundak Kinar untuk memberikan energi
"Lalu apa yang harus aku lakukan ma?"
"Percayalah pada mama mu ini Kinar, jika saat nya tiba bahagia itu pasti akan datang"
"Tapi kapan ma? Aku sudah lupa bagaimana rasanya bahagia ma, aku lupa"Astrea memeluk tubuh kurus Kinar
"Kamu harus sabar ya sayang"Sudah habis rasa nya kata kata untuk menguatkan putri nya.
"Pada akhir nya aku harus belajar menguatkan diri sendiri, aku mohon ya Allah ikhlaskan hati ku untuk menerima semua nya. Kuat kan aku untuk melewati hal hal sulit yang aku lalui, dan sanggup kan lah aku untuk tetap bertahan dan terus melangkah di atas kata menyerah"Kinar berusaha menguatkan diri nya yang terkadang muncul kata menyerah.
Dengan kasar ia mengusap wajah nya yang di penuhi dengan luka, rasa sakit nya hilang begitu saja ketika ia teringat Kinar menangis dengan memanggil nama nya, terlalu banyak luka yang ia torehkan, kenapa ketika cinta nya telah tumbuh ada jurang pemisah, sanggup kah ia melewati jurang pemisah itu yang berdinding besi berlapis kan baja? Pasti semua nya akan terasa sulit ia lalui. Haruskah ia menyerah dan membiarkan anak nya lahir tanpa mengenal nya? Tidak, ia tidak akan membiarkan anak nya lahir tanpa mengenal nya.
"Luka ini belum seberapa di bandingkan penderitaan mu Kinar, kenapa hanya luka tidak seberapa ini aku harus menyerah. Tidak Kinar, aku akan memenangkan hati mu dan juga orang tua mu"kata Irsyad pada diri nya"Meski luka dan hinaan yang aku dapatkan aku tidak perduli, aku ingin membuat mu dan anak kita bahagia sehingga sedikit pun kau tidak akan pernah merasa terluka, aku berjanji pada mu Kinar, ini janji ku pada mu. Untuk saat ini biarlah kita sama sama terluka, dan aku harap kamu bisa bertahan dengan semua ini"Ia menghapus air mata nya ketika teringat bagaimana sikap nya pada Kinar ketika mereka masih tinggal dalam satu atap"Kau harus kuat demi calon anak kita, bayi kita Kinar. Sungguh aku benar benar egois pada mu, bagaimana mungkin aku menyuruh mu untuk bertahan demi aku dan bayi kita"ia menatap ponsel nya dan melihat poto pernikahan nya dan menjadikan wallpaper"Ini akan mengurangi rasa rinduku pada mu"ia menatap tangan nya ketika itu ia menyentuh perut istri nya. Ia tersenyum ketika calon bayi nya menendang tangan nya"Aku begitu merindukan mu, lebih lebih calon anak kita. Pasti ia bahagia mempunyai ibu yang kuat seperti mu, betapa bodoh nya aku, bodoh, bodoh!!"ia memukul pipi nya berkali kali"Mata ku telah tertutup oleh Susan. Hanya demi sebuah imitasi aku melepaskan berlian"
__ADS_1
Ia masih duduk termenung di pinggir ranjang, ingin rasa nya ia menelpon istri nya, tetapi ia takut ketika mertua nya melarang Kinar mengangkat ponsel nya, pasti itu akan membuat Kinar semakin sakit. Di beranikan nya ia mengirim pesan melalui WhatsApp.
"Semoga pesan singkat ku ini bisa membuat rindu kita ini bisa terobati Kinar"
Kinar yang masih memandang Astrea buru buru mengambil ponsel nya
"Aku harap kau dan calon bayi kita sehat selalu, bertahan lah dengan keadaan ini karena aku berjanji akan membawa mu bersama ku"Kinar menghapus air mata nya ketika mendapat pesan singkat dari suami nya
"Aku akan menunggu janji mu mas, dan aku bisa bertahan dengan semua ini jika kau tidak mengingkari nya. Apakah kau baik baik saja? Bagaimana dengan luka mu? Apakah sudah kau obati?"Kinar mengirim pesan nya
"Siapa yang mengirim pesan pada mu kak?"Tanya Kinan ketika melihat senyum di wajah kakak nya, sementara Astrea sedang di kamar mandi
"Mas Irsyad, Nan" Kinan tersenyum dengan mengusap tangan kakak nya
"Aku janji tidak akan mengingkari nya Kinar. Dan kau jangan memikirkan tentang luka ini, kau harus fokus pada kesehatan mu saja dan calon bayi kita"Irsyad menitikkan air mata"Terima kasih Kinar, terima kasih"
"Terima kasih untuk apa mas?"
"Terima kasih karena kau masih menjaga calon anak ku, meski aku tau begitu banyak luka yang telah aku buat"Kinar menghapus air mata nya ada rasa haru ketika ia membaca pesan dari suaminya, kini ia tidak perlu lagi menangisi takdir nya karena ia yakin suaminya kali ini tidak akan mengingkari nya.
"Tolong jaga kepercayaan ku mas, jika semua ini bohong aku janji tidak akan pernah mempertemukan mu dengan calon anak kita, bahkan bayangan nya tidak akan bisa kau sentuh"Irsyad menangis membaca pesan dari istri nya
"Jangan bicara seperti itu Kinar, aku mohon. Hati ku begitu sakit mendengar nya, jangan pisah kan aku dengan mu dan juga calon anak kita, karena aku tidak akan sanggup hidup tanpa kalian berdua, Percayalah pada ku kali ini saja. Jika aku mengingkari nya kau bisa melakukan apapun dan aku tidak akan melarang nya?"
__ADS_1
"Tapi papa tidak akan merestui kita mas"
"Kau tidak perlu memikirkan tentang itu, biar itu menjadi masalah ku, sekarang istirahat lah"Ia begitu tidak tega ketika melihat tubuh istri nya yang kelihatan kurus dan wajah nya begitu tirus"Tidurlah"ternyata suami nya begitu memperhatikan nya, selama ini ia tidak pernah mendapatkan perlakuan seperti ini
"Tuhan tolong jangan pernah mencabut kebahagiaan ku kali ini, izin kan aku untuk bahagia. Selama ini aku tidak pernah mengeluh pada mu tentang hidup ku. Tolong kali ini saja Tuhan"Kinar mendekap ponsel nya sembari menatap Kinan yang selalu menatap nya
"Mudah mudahan ini awal dari kebahagian kak Kinar, karena aku percaya badai pasti berlalu"ucap Kinan dengan mengusap punggung nya
"Apa Diwa sudah tidur?"
"Belum kak, dia masih terjaga"
"Boleh kah aku mengendong nya?"
"Aku takut Diwa akan menyakiti bayi yang ada di dalam perut kak Kinar"
"Tidak"jawab Kinar pelan dengan mengambil Diwa dari gendongan adik nya"Hai"Sapa nya dengan mencium pipi nya yang gemoy"Lucu banget"ia berusaha memperbaiki duduk nya yang kurang nyaman karena perut nya yang besar, Kinan menatap perut kakak nya dengan tersenyum
"Apa kak Kinar baik baik saja?"
"Jangan pernah menganggap kakak mu ini lemah Kinan"
"Tidak seperti itu kak, aku hanya tidak ingin Diwa menyakiti calon anak kak Kinar"Kinan merasa bahagia karena kini kakak nya bisa tersenyum kembali, senyum yang selama ini hilang kini telah kembali
__ADS_1